Bisnis, JAKARTA –
Perkembangan pesat penggunaan teknologi artificial intelligence (AI) di berbagai sektor bisnis kini membawa tantangan baru bagi perusahaan. Salah satu masalah utama yang muncul adalah bagaimana menyeimbangkan inovasi dengan tata kelola teknologi yang memadai. Di tengah percepatan adopsi AI dan transformasi digital, banyak perusahaan di Indonesia menghadapi tantangan untuk memodernisasi sistem tanpa risiko operasional dan masalah teknis dalam jangka panjang.
Di tengah persaingan ketat, banyak organisasi secara agresif mengadopsi teknologi AI. Namun, adopsi cepat tanpa kesiapan arsitektur yang matang dan tata kelola yang jelas justru dapat menciptakan risiko yang berbahaya. Untuk membantu pelaku bisnis menghindari jebakan tersebut, Thoughtworks dan Nusantara Beta Studio (NBS) membentuk kemitraan strategis. Kemitraan ini fokus pada modernisasi sistem perusahaan, arsitektur siap AI (AI-ready architecture), serta perubahan digital yang berkelanjutan.
Tujuan dari kemitraan ini adalah mendukung entitas bisnis di Tanah Air dalam menavigasi kompleksitas teknologi dan bisnis dengan perlindungan yang terukur serta aman. Thoughtworks, sebagai konsultan teknologi global, mengintegrasikan strategi, desain, teknik, dan AI guna mendorong inovasi digital serta transformasi bisnis skala besar. Sedangkan NBS adalah mitra solusi digital di Indonesia yang memiliki pemahaman mendalam tentang lanskap teknologi, regulasi, dan kebutuhan perusahaan di dalam negeri.
Menurut Jakob Webster, Managing Director Thoughtworks, banyak pemimpin inovasi perusahaan ingin terus memodernisasi sistem mereka dengan mengadopsi teknologi terbaru. Namun, hal ini sering tidak diimbangi dengan perencanaan strategis yang matang. Lebih jauh lagi, saat mereka mencoba melakukan transformasi skala besar, sistem teknologi warisan dan regulasi perusahaan seringkali dianggap sebagai batu sandungan.
“Kami ingin mengubah perspektif tersebut. Tata kelola dan infrastruktur sistem legacy justru harus ditransformasikan menjadi mesin penggerak strategis agar perusahaan dapat mengintegrasikan teknologi seperti AI secara berkelanjutan dan dalam skala besar,” jelas Jakob Webster.
Dia menambahkan, kemitraan ini dibangun berdasarkan rekam jejak Thoughtworks yang luas dalam memberikan hasil nyata yang terukur bagi perusahaan digital terkemuka di Indonesia. Visi Thoughtworks untuk perusahaan Indonesia yang menggunakan AI (AI-first) sejalan dengan visi dan komitmen yang diusung oleh NBS. Sebagai perusahaan konsultan rekayasa perangkat lunak (software engineering) Indonesia, NBS berfokus pada pengembangan platform digital perusahaan serta memandu transformasi dan modernisasi teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan industri, regulasi, dan dinamika bisnis lokal.
“Kami ingin menjadi bagian dari perjalanan perusahaan dan organisasi di Indonesia untuk berinovasi secara strategis demi membangun organisasi yang lebih terpercaya dan berkelanjutan,” ujar Taufan Arfianto, Chief Executive Officer (CEO) & Founder NBS.
Untuk meresmikan sinergi strategis ini, Thoughtworks dan NBS akan menyelenggarakan forum diskusi eksklusif bertajuk Navigating Complexity and Building Trusted Organisations. Forum diskusi tertutup ini akan diadakan pada 3 Juni 2026 di The Langham Hotel, Jakarta, dengan menghadirkan empat panelis utama yang ahli di bidangnya.
Acara akan dibuka oleh Ilham Akbar Habibie dari Dewan TIK Nasional mengenai pentingnya aspek kepercayaan (trust) secara struktural bagi pertumbuhan digital Indonesia yang berkelanjutan. Lalu, sesi diskusi panel akan menghadirkan tokoh-tokoh terkemuka industri, termasuk Bayu Hanantasena, Strategic Advisor to the CEO on Trusted AI, Cybersecurity & Digital Infrastructure Indosat Group; Karim Siregar, CIO PT BFI Finance Indonesia; Omar Bashir, Technical Director APAC Thoughtworks; dan Sidiq Permana, CIO & Founder NBS.
Ajang tersebut akan mempertemukan sekitar 40 pemimpin teknologi perusahaan Indonesia, termasuk para CIO, CTO, VP Engineering, dan pemimpin transformasi digital dari berbagai sektor industri di Indonesia untuk berbagi cetak biru (blueprint) taktis.
“Di forum ini, para eksekutif digital akan membahas strategi modernisasi sistem legacy, implementasi AI perusahaan, serta tata kelola teknologi yang terukur dan aman, tanpa harus melakukan perombakan total (total tear-downs) yang berisiko tinggi,” katanya.







