Perang AS-Israel vs Iran Memasuki Hari ke-100, Diplomasi Masih Tertahan
Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran telah memasuki hari ke-100 sejak dimulainya konflik pada 28 Februari 2026. Selama masa ini, berbagai upaya untuk mencapai kesepakatan damai terus dilakukan, namun selalu gagal di tahap akhir. Berbagai isu seperti program nuklir, konflik di Lebanon, serta kontrol atas Selat Hormuz menjadi penghambat utama negosiasi.
Awal Konflik dan Momen Penting dalam Negosiasi
Konflik ini bermula dari Operasi Epic Fury, kampanye militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Iran kemudian membalas dengan serangan ke Israel dan aset militer Amerika di kawasan Teluk. Eskalasi konflik terus berlanjut hingga memperluas ke berbagai front regional.
Meski intensitas perang sempat menurun setelah gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan pada 8 April 2026, jalur diplomasi tetap rapuh dan belum menghasilkan terobosan signifikan. Salah satu momen paling dekat kedua negara untuk kembali ke meja kesepakatan adalah pertemuan di Islamabad pada 11–12 April 2026. Delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden AS, JD Vance, bersama utusan khusus AS, Steve Witkoff, dan Jared Kushner, menantu Presiden AS, Donald Trump. Sementara itu, Iran diwakili oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, dan pejabat keamanan nasional Ali Bagheri Kani.
Pembicaraan tersebut berakhir tanpa kesepakatan setelah 21 jam negosiasi. JD Vance menyatakan bahwa meskipun diskusi berlangsung secara substantif, kesepakatan belum tercapai. Ia menegaskan bahwa Washington ingin jaminan tegas bahwa Iran tidak akan mengejar senjata nuklir, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Namun, Iran belum memberikan komitmen tersebut.
Hambatan Utama: Program Nuklir Iran
Salah satu hambatan terbesar dalam negosiasi adalah program nuklir Iran. Negara tersebut diperkirakan memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen—tingkat yang jauh di atas kebutuhan energi sipil, tetapi masih di bawah level senjata. Iran bersikeras bahwa program nuklirnya bersifat damai, sementara AS dan Israel menuduh Teheran mempertahankan kemampuan menuju senjata nuklir.
Perbedaan pendekatan negosiasi juga menjadi faktor utama. Washington menuntut kejelasan penuh sejak awal, sementara Iran ingin detail teknis dibahas bertahap dalam proses lanjutan. Menurut analis Naysan Rafati, kegagalan kesepakatan sering terjadi meski kedua pihak sudah sangat dekat. “Kadang ada 95 persen kesepakatan, tetapi lima persen sisanya justru yang paling sulit,” ujarnya.
Gencatan Senjata Lebanon dan Eskalasi Baru
Setelah perundingan gagal, Washington mengumumkan blokade laut terhadap pelabuhan Iran untuk menekan pendapatan minyak Teheran. Langkah ini justru memperburuk ketegangan dan menghapus momentum diplomasi yang tersisa. Di saat yang sama, konflik di Lebanon menjadi faktor lain yang memperumit proses damai.
Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran terlibat pertempuran intens sejak awal perang. Pada April, AS mengumumkan gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon. Namun, serangan tetap terjadi dan menewaskan ratusan orang meski kesepakatan berlaku. Lebih dari satu juta orang telah mengungsi di Lebanon sejak konflik meningkat, sementara ribuan lainnya tewas akibat serangan lintas wilayah.
Bagi Iran, stabilitas Lebanon dianggap sebagai “garis merah” dalam setiap proses perdamaian yang lebih luas. Ketegangan ini membuat upaya diplomasi regional semakin sulit berkembang.
Selat Hormuz Jadi Kartu Tekanan Strategis
Selain isu nuklir dan Lebanon, Selat Hormuz juga menjadi titik sengketa penting dalam negosiasi. Iran sempat membatasi lalu lintas kapal di selat tersebut, jalur yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia sebelum perang. Dalam beberapa kasus, kapal asing bahkan harus membayar biaya transit kepada pasukan Iran.
Iran juga mengusulkan sistem biaya transit atau tarif pelayaran dalam proposal damai sebelumnya. AS menolak keras gagasan tersebut. “Washington ingin mengembalikan kondisi seperti sebelum perang, di mana tidak ada ancaman terhadap navigasi,” kata Rafati. Ketegangan di Hormuz menjadikan isu ini bukan hanya soal keamanan, tetapi juga kontrol ekonomi global atas jalur energi utama dunia.
Diplomasi yang Selalu Dekat tapi Tak Pernah Sampai
Serangkaian peristiwa sejak April menunjukkan pola yang sama: kemajuan awal, lalu kebuntuan di titik-titik krusial. Meski ada momen optimisme, tidak ada kesepakatan yang berhasil bertahan. Ketegangan bahkan kembali meningkat setelah AS memperketat tekanan militer dan ekonomi terhadap Iran, sementara Israel terus melanjutkan operasi di beberapa wilayah. Dalam beberapa kasus, bahkan kesepakatan parsial langsung runtuh hanya dalam hitungan hari setelah diumumkan.







