Kenaikan Harga Bahan Pokok Mengganggu Kehidupan Warga
Kenaikan harga bahan pokok seperti minyak goreng, telur, beras, bawang, cabai, dan ayam potong terjadi di berbagai daerah. Hal ini membuat masyarakat kesulitan mengatur keuangan mereka karena pendapatan tidak naik seiring kenaikan harga pangan. Pedagang juga mencatat penjualan yang menurun, sementara masyarakat berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.
Harga Minyak Goreng dan Telur Naik di Palembang
Di Pasar Kuto, Palembang, Sumatera Selatan, Koh Ali, seorang pedagang sembako, menyampaikan bahwa harga pangan yang mengalami kenaikan paling tinggi adalah minyak goreng kemasan premium dan telur ayam ras. Ia menjelaskan bahwa minyak goreng premium seperti merek Sanco, Bimoli, dan Sania melonjak dari harga normal Rp20.000 menjadi Rp23.000 per liter. Sementara untuk merek Fortune yang biasanya Rp19.000 kini harus dibanderol dengan harga Rp21.000 per liter.
Harga telur ayam pun naik hingga Rp29.000 hingga Rp30.000 per kilogram dari harga sebelumnya yang stabil di angka Rp28.000 per kilogram. Menurut informasi dari pihak peternak, kenaikan ini dipicu oleh tingginya biaya operasional pengadaan pakan ternak.
Indri, seorang ibu rumah tangga, mengaku pusing dalam mengelola uang belanja untuk kebutuhan sehari-harinya. Ia menyebutkan bahwa sekarang hampir semua barang kompak naik, mulai dari minyak goreng, telur, duo bawang (merah dan putih), sampai cabai semuanya mahal.
Kenaikan Harga Minyak Goreng di Bekasi
Di Kota Bekasi, Jawa Barat, kenaikan harga pangan seperti minyak goreng juga terjadi. Ita, seorang pedagang sembako di Pasar Kranji Baru, Kecamatan Bekasi Barat, mengatakan bahwa kenaikan harga minyak goreng cukup signifikan dibandingkan beberapa bulan lalu. Kenaikan harga pun bervariasi, berkisar antara Rp5.000 hingga Rp7.000.
Ita menjelaskan bahwa untuk merk Sunco, harga jual ukuran 2 liter sebelumnya Rp39.000 sampai Rp40.000, kini meningkat menjadi Rp46.000 sampai Rp47.000. Ia juga menyebut bahwa kenaikan harga minyak goreng memengaruhi pengusaha UMKM, terutama di bidang makanan seperti pedagang nasi uduk.
Ita mengeluhkan kondisi pasar yang kini justru sepi pembeli. Hal ini membuat pedagang semakin tertekan, dan mereka harus menghadapi harga modal yang tinggi di tengah daya beli masyarakat yang cenderung melemah.
Penghematan Pengeluaran Uang oleh Pembeli
Ristiani (35), seorang pembeli komoditas pangan, menceritakan bahwa ia telah meminimalisir pengeluaran uang sejak awal Mei 2026. Ia menilai kondisi bahan pokok di pasar tengah mengalami peningkatan, sementara pendapatan rutin dirinya dari berjualan baju via online justru statis.
“Pendapatan jualan saya gitu-gitu aja, tapi kondisi bahan pokok naik terus, biasanya di momen tertentu aja, tapi ini tidak, jadi harus lebih irit keluarin uang,” kata Ristiani.
Ia berharap kondisi seperti ini tidak berangsur lama, dan harga bahan pokok, terutama minyak, kembali normal. “Harapannya sih harga normal lagi ya, semua sektor, tidak hanya sembako, oli kendaraan juga infonya naik harganya, nah itu juga bisa diturunin harganya, semuanya deh,” pungkasnya.
Harga Beras dan Ayam di Purwakarta Naik
Di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, harga beras dan ayam potong hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda penurunan signifikan. Mengutip Tribunjabar.id, harga beras medium di Pasar Rebo Purwakarta berada pada kisaran Rp14.000 per kilogram, yang berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp12.500 per kilogram.
Sementara beras premium kini mencapai Rp16.000 per kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp14.000 per kilogram. Zaenudin, seorang pedagang beras, mengatakan bahwa kenaikan harga terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Tingginya harga beras diduga dipengaruhi oleh mahalnya harga gabah kering giling di tingkat petani yang saat ini mencapai lebih dari Rp8.000 per kilogram.
Akibat kenaikan harga tersebut, omzet penjualan beras mengalami penurunan cukup signifikan. Selain harga yang mahal, banyak warga yang masih memiliki stok beras hasil panen sehingga pembelian di pasar berkurang.
Untuk harga ayam potong juga masih bertahan di level tinggi. Meski sempat mengalami penurunan setelah Iduladha, ayam potong masih dijual di kisaran Rp35.000 hingga Rp38.000 per kilogram.
Lana, seorang pedagang ayam potong, menyebut tingginya harga ayam dipengaruhi meningkatnya kebutuhan pasokan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi tersebut membuat para pedagang harus bersaing dengan penyedia kebutuhan MBG untuk mendapatkan pasokan ayam dari bandar.
Juju, seorang pembeli, berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok agar tidak terus mengalami lonjakan yang memberatkan masyarakat. “Harapannya harga stabil saja, jangan tiba-tiba naik. Sekarang kebutuhan lain seperti minyak goreng dan bumbu juga masih mahal. Jelas sangat memberatkan,” katanya.







