Dampak Rokok yang Mengkhawatirkan
Dampak dari rokok semakin mengkhawatirkan karena tidak hanya membahayakan perokok aktif, tetapi juga kelompok rentan yang menjadi perokok pasif atau terpapar residu rokok yang menempel pada pakaian, kulit, hingga benda. Ancaman ini semakin memprihatinkan melihat jumlah perokok aktif di Indonesia yang mencapai 70 juta orang dengan 7,4% di antaranya adalah perokok berusia 10-18 tahun.
Data dari WHO dan Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektrik (vape) di kalangan remaja meningkat drastis hingga 10 kali lipat. Melihat hal tersebut, Kemenkes mendorong kampanye #SehatTanpaRokok sebagai lanjutan dari program Upaya Berhenti Merokok.
Jumlah Perokok Anak Semakin Tinggi Akibat Rokok Elektrik
Penggunaan rokok elektrik selama beberapa tahun belakangan dinilai sebagai salah satu solusi karena dianggap lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Namun, ternyata rokok elektrik memiliki efek dan dampak yang sama dengan rokok konvensional, bahkan kini menjerat anak-anak.
“Konsumsi tembakau di Indonesia itu kita nomor tiga (terbanyak) di dunia, 70,2 juta perokok di Indonesia, perokok anak kita usia 10-18 tahun, (dengan jumlah) 5,9 juta pada tahun 2024, dan anak-anak kita sudah ada yang merokok sejak umur empat tahun,” ujar Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K)., MHPM., FISR., FAPSR selaku Penasehat Pengurus Pusat PDPI dan Direktur RS Persahabatan, Rabu (3/6/26).
Ia juga menjelaskan bahwa angka yang melonjak ini dipengaruhi oleh industri tembakau yang semakin banyak iklan, sponsor influencer, bahkan ada rasa-rasa rokok yang menarik minat anak-anak. Tentu ini akan berdampak buruk generasi mendatang saat menyentuh usia produktif.
”Jadi kalau kita lihat di media sosial, banyak yang viral anak-anak sudah mencoba sekarang rokok vape, bukan rokok konvensional,” tambahnya.
Wamenkes: Dampak Vape Sama Saja dengan Rokok

Kementerian Kesehatan juga menyoroti penggunaan rokok elektrik semakin masif, bahkan kini juga dimanfaatkan untuk peredaran narkoba. Tentu ini akan berdampak buruk generasi mendatang saat menyentuh usia produktif.
“Begitu banyak vape digunakan untuk narkoba, ada berbagai macam produk. Bayangkan bahayanya vape dengan kadar nikotin, sekarang dimanfaatkan sekian puluh persen untuk peredaran narkoba di Indonesia, bayangkan dampak kehancurannya buat generasi muda kita,” tutur Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Selasa (3/6/26).
Benjamin juga menegaskan bahwa penggunaan vape ini dampaknya sama saja dengan rokok konvensional. Risiko nikotinnya sama dan berbagai kandungan di dalamnya juga dapat merusak fungsi paru hingga menyebabkan inflamasi.
”Tetap menyebabkan inflamasi, menyebabkan peradangan di saluran napas. Kerusakannya sama dengan rokok, nggak ada bedanya,” tegas Wamen Benjamin.
Upaya Berhenti Merokok Harus Niat Dari Diri Sendiri

Menanggapi banyaknya jumlah perokok di Indonesia, dr. Tirta Mandira Hudhi atau Tirta Cipeng selaku praktisi kesehatan dan influencer menyoroti upaya berhenti merokok pada dasarnya bisa dilakukan dengan adanya niat dari diri sendiri.
Selama bertemu dengan para perokok aktif, Dokter Tirta mengatakan bahwa alasan banyak perokok masih belum bisa lepas karena keinginan mereka belum kuat.
“Kamu bisa tidak merokok selama 12 jam berpuasa, tapi tidak bisa menahan rokok ketika tidak berpuasa. Jadi, sebenarnya kamu bisa nahan, cuma mentalmu yang lemah,” kata Dokter Tirta, Selasa (3/6/26).
Kebanyakan perokok tidak bisa menahan karena tidak tahan dengan efek atau rasa asam di mulut. Dokter Tirta menyoroti saat ini ada banyak pengganti rokok yang sebenarnya bisa dilakukan untuk berhenti secara perlahan.
Kemenkes Jalin Kolaborasi Strategis untuk Tekan Prevalensi Perokok

Sebagai upaya untuk menurunkan prevalensi perokok di Indonesia yang semakin mengkhawatirkan, Kemenkes akhirnya menjalin kolaborasi strategis dengan berbagai pihak, mulai dari Kenvue, Guardian Indonesia, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Bertepatan dengan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati setiap 31 Mei. upaya ini diwujudkan dengan kampanye nasional #SehatTanpaRokok dan penyelenggaraan workshop Upaya Berhenti Merokok bagi tenaga kesehatan untuk menekan prevalensi perokok dari hulu ke hilir.
Bentuk kolaborasi ini dapat dilihat juga dari Guardian Indonesia yang mengerahkan apoteker di garda terdepan gerakan ini serta mempermudah penyebaran Terapi Pengganti Nikotin (NRT). Dari sisi pengawasan keamanan produk, BPOM berupaya memantau peredaran produk tembakau dan memastikan keamanan produk terapi yang berstandar medis dan memiliki izin edar resmi.
“Melalui kampanye #SehatTanpaRokok, kami menggandeng sektor swasta dan organisasi profesi medis untuk memastikan masyarakat tidak hanya menerima edukasi bahaya merokok, tetapi juga mendapatkan akses terhadap pendampingan klinis dan farmakoterapi yang tepat,” tegas Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid dalam keterangan pers.
Itu dia penjelasan mengenai Indonesia darurat perokok anak, Kemenkes dorong kampanye Sehat Tanpa Rokok. Selain dari pemerintah dan swasta, gerakan ini tentu akan sukses dengan dukungan dari masyarakat langsung yang berupaya mengurangi kebiasaan rokok!






