Peran Aktif Bakorwil III Malang dalam Pembangunan Wilayah
Bakorwil III Malang memiliki visi yang lebih luas daripada sekadar menjadi koordinator antar daerah. Dalam situasi yang serba tidak pasti dan dunia yang berkembang pesat, pihaknya ingin berperan sebagai penggerak utama di wilayah kabupaten dan kota yang termasuk dalam cakupannya. Hal ini disampaikan oleh Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, saat menghadiri sebuah podcast yang diadakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur pada Kamis (18/6/2026).
Asep menjelaskan bahwa agenda besar Bakorwil III Malang adalah memajukan wilayah selatan Jawa Timur dengan paradigma baru yang diberi nama DNA Baru Bakorwil Malang. Paradigma ini menekankan pentingnya kolaborasi dalam pembangunan. Tujuannya adalah mempertemukan keinginan pemerintah dengan kemauan para pelaku usaha, perguruan tinggi, komunitas, media, dan masyarakat agar bisa bergerak dalam satu visi bersama.
“Tidak bisa kita terus-menerus biasa-biasa saja. Zamannya sudah berubah karena tingkat kompleksitasnya cukup tinggi,” ujarnya. Ia menilai bahwa tantangan pembangunan saat ini membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada penyelesaian masalah.
DNA Baru Bakorwil Malang didasarkan pada kolaborasi, gotong royong, dan solutif. Menurut Asep, Bakorwil bukan hanya sebagai perpanjangan tangan dari gubernur, tetapi juga sebagai ruang bersama yang mempertemukan antara Pemprov Jawa Timur dengan kabupaten dan kota di wilayahnya.
“Pembangunan yang efektif adalah yang mampu menghubungkan visi besar antara pemerintah dengan masyarakat. Itu harus ada komunikasi dua arah,” katanya kepada Infomalangraya.com.
Wilayah kerja Bakorwil III Malang mencakup berbagai karakteristik daerah, mulai dari kawasan perkotaan, pertanian, pegunungan, pesisir hingga kawasan selatan. Menurut Asep, keberagaman ini justru menjadi kekuatan yang saling menguatkan. Oleh karena itu, Bakorwil tidak lagi sebatas mengkoordinasikan program, tetapi aktif membangun ruang dialog, memperkuat sinergi antarwilayah, serta mengikis ego sektoral yang sering menjadi hambatan percepatan pembangunan.
“Ketika semua pihak punya tujuan yang sama, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka sekat-sekat sektoral akan semakin berkurang. Yang muncul adalah semangat gotong royong untuk menghadirkan solusi,” tegas Asep.
Dalam kesempatan tersebut, Asep menegaskan bahwa kawasan selatan Jatim akan menjadi fokus agenda pembangunan ke depan. Kawasan ini memiliki potensi besar di sektor pertanian, perikanan, perkebunan, peternakan, pariwisata, ekonomi kreatif, serta berbagai sumber daya lokal yang belum sepenuhnya memberikan nilai tambah optimal bagi masyarakat.
Karena itu, Bakorwil akan mengorkestrasi pembangunan kawasan selatan melalui beberapa langkah, seperti:
- Penguatan konektivitas wilayah
- Percepatan hilirisasi komoditas unggulan
- Pengembangan pariwisata berkelanjutan
- Peningkatan kualitas SDM
- Penciptaan iklim investasi yang inklusif dan berkelanjutan
“Kawasan selatan bukan lagi pinggiran, tapi akan jadi beranda masa depan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur,” kata Asep. Keberadaan Jalur Lintas Selatan (JLS) juga akan menjadi momentum penting untuk membuka akses ekonomi baru, memperkuat konektivitas antarwilayah, memperlancar distribusi barang dan jasa, serta menarik investasi yang berkualitas.





