Kecemasan Masyarakat Semarang dan Solo Akibat Pemadaman Listrik yang Tidak Menentu
Kota Semarang dan Solo, Jawa Tengah, kini tengah dihadapkan pada kecemasan baru akibat pasokan listrik yang tidak stabil. Kondisi ini menyebabkan seringnya terjadinya pemadaman listrik, yang memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat. Pemandangan warga yang berburu lampu darurat (emergency lamp) hingga memborong power bank kini menjadi hal yang biasa ditemui di sudut-sudut kota.
Dampak dari “byar-pet” berkepanjangan ini sangat terasa, baik dalam aktivitas sehari-hari maupun bisnis. Banyak keluhan datang dari warga yang merasa tidak puas dengan pengumuman pemadaman yang tidak sesuai dengan jadwal yang sudah disampaikan. Ninda, salah satu warga Kecamatan Serengan, mengungkapkan kesalannya karena jadwal pemadaman yang diberitahukan tidak sesuai dengan kenyataan. Ia menyebutkan bahwa jadwal yang diberikan adalah jam 10.00-12.00 siang, namun nyatanya mati lampu terjadi menjelang malam hari.
Pemadaman listrik juga memberikan dampak buruk bagi pelaku usaha yang telah bersiap untuk berjualan di malam hari. Banyak toko dan tempat usaha yang terpaksa tutup atau hanya bisa beroperasi dengan bantuan lilin dan lampu darurat. Hal ini tentu saja menurunkan penjualan dan membuat para pelaku usaha kesulitan dalam menjalankan aktivitasnya.
Wilayah-wilayah yang terdampak pemadaman listrik antara lain Jalan Veteran, Jalan Cokrobaskoro, Jalan Pulanggeni, Jalan Bayangkara, Jalan Wijayakusuma, Jalan Tejomoyo, Jalan Moh Yamin, Jalan Haryo Panular, Tipes Serengan, dan sekitarnya. Masalah ini tidak hanya terjadi di Solo, tetapi juga melanda wilayah-wilayah di Kota Semarang.
Pengalaman Pahit Akibat Pemadaman Massal
Pengalaman pahit dirasakan oleh Dinda (25), seorang karyawan swasta yang tinggal di kawasan kos Lampersari. Pada Rabu (17/6/2026), ia harus menghadapi pemadaman massal yang berlangsung dari pukul 11.00 hingga 18.00 WIB. Enam jam tanpa listrik di tengah panasnya Semarang terasa seperti siksaan fisik.
“Bayangkan aja, Semarang lagi panas-panasnya. Orang yang pakai kipas angin atau AC, apalagi yang harus bekerja dari rumah, pasti berat sekali. Wi-Fi juga mati,” kata Dinda saat diwawancarai Kompas.com, Kamis (18/6/2026).
Ia juga menyebutkan bahwa minimnya keterbukaan dari pihak PLN menjadi masalah besar. Tidak ada pemberitahuan atau peringatan dini yang masuk ke ponsel warga. Ironisnya, saat aliran listrik padam, jaringan data seluler pun ikut tumbang karena menara pemancar (base transreceiver station/BTS) kehilangan daya.
Persiapan Warga Menghadapi Kekacauan
Ilma (28), warga Semarang lainnya, juga mengungkapkan rasa kecewa atas kondisi ini. Dalam satu minggu terakhir, wilayah tempat tinggalnya sudah diguncang mati lampu mendadak sebanyak dua kali, yakni pada Senin (8/6/2026) dan Rabu (10/6/2026). Ia memastikan tiga buah power bank berkapasitas masing-masing 10.000 mAH di rumahnya selalu terisi penuh. Bahkan, ada rencana untuk menambah unit baru karena khawatir Semarang akan menghadapi mati lampu total (blackout) dalam skala yang lebih masif.
Menurut Dinda, kondisi ini menjadi pukulan yang sangat telak, khususnya bagi anak rantau yang mendiami rumah kos. Berbeda dengan gedung perkantoran atau perumahan elite, mayoritas rumah sewaan di Semarang sama sekali tidak menyediakan fasilitas generator set (genset).
Penjelasan PLN Mengenai Masalah Pembangkit Interkoneksi
Manager Komunikasi PLN UID Jawa Tengah dan DIY, Prayudha Fasya Perdana, mengonfirmasi bahwa memang tengah terjadi kendala teknis operasional yang cukup mendalam pada unit pembangkit interkoneksi. Masalah inilah yang menyebabkan volume pasokan daya ke masyarakat merosot tajam.
Kendati demikian, Prayudha memastikan bahwa tim teknis di lapangan terus bekerja dan PLN akan memperbarui estimasi waktu pemulihan lewat kanal informasi resmi mereka. “Untuk menjaga stabilitas dan keandalan sistem kelistrikan, PLN melakukan manajemen beban secara terbatas di sejumlah wilayah terdampak di Provinsi Jawa Tengah serta terus mengupayakan percepatan pemulihan kondisi operasi pembangkit agar pasokan listrik dapat kembali normal,” ujar Prayudha dalam keterangan resminya, Kamis (18/6/2026).







