Penjelasan UMM Mengenai Desain Toga Baru yang Kontroversial
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan penjelasan terkait desain toga baru yang sempat menjadi perbincangan di media sosial. Toga tersebut dinilai memiliki kemiripan dengan kostum kesenian bantengan atau yang dikenal sebagai “mberot” oleh masyarakat Malang. Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni UMM, Tatag Muttaqin, menjelaskan bahwa pihak kampus menemukan beberapa ketidaksesuaian pada toga tersebut.
Menurutnya, masalah utama terletak pada aspek desain, pemilihan warna, serta bahan yang digunakan dalam produksi. Tatag menyatakan bahwa pembaruan desain toga sebenarnya telah direncanakan jauh sebelum munculnya polemik di media sosial. Hal ini dilakukan karena toga lama sudah digunakan dalam waktu yang cukup lama dan dinilai perlu adanya penyegaran.
Dalam proses pengembangan, kampus bersama pihak terkait telah menyepakati konsep toga yang akan digunakan, termasuk desain, warna, dan materialnya. Namun, hasil produksi yang diterima UMM ternyata tidak sesuai dengan sampel maupun konsep yang sebelumnya disetujui.
Akibat perbedaan tersebut, toga yang diterima kampus tidak mencerminkan rancangan awal yang telah direncanakan dan disepakati. “Sejak awal memang ada kesalahan pada desain, warna, dan bahannya. Karena itu, kami di universitas menyepakati bahwa kondisi ini tidak bisa dibiarkan,” kata Tatag, Selasa (7/7/2026). Ia juga menegaskan bahwa tujuan pembaruan bukanlah untuk mengikuti tren atau fomo seperti kampus lain yang menggunakan toga baru.
Tatag menambahkan, “Yang kami sepakati sebenarnya desain, warna, dan bahannya. Tetapi realisasinya tidak sesuai dengan contoh yang pertama kami setujui.” Setelah toga dibagikan kepada calon wisudawan, berbagai tanggapan bermunculan, baik dari mahasiswa maupun masyarakat. Kondisi ini kemudian menjadi bahan evaluasi bagi pimpinan universitas.

Toga Baru Ditarik dan Pakai Toga Lama
Sebagai bentuk tanggung jawab, UMM memutuskan menarik seluruh toga baru yang telah didistribusikan dan kembali menggunakan toga lama pada pelaksanaan wisuda. Meski menarik toga baru, UMM memastikan rencana penyegaran desain toga tidak dibatalkan. Menurut Tatag, pembaruan tetap diperlukan agar toga wisuda memiliki tampilan yang lebih baik dan tetap mencerminkan kesakralan prosesi akademik.
“Toga yang ada saat ini sudah digunakan sangat lama. Sudah saatnya UMM melakukan penyegaran agar tampil lebih menarik dan memberikan kesan sakral yang lebih baik,” katanya.
Desain toga baru UMM sempat ramai diperbincangkan di media sosial setelah sejumlah unggahan memperlihatkan perpaduan warna hitam, merah, dan kuning yang dinilai menyerupai kostum kesenian bantengan. Salah satu video yang beredar memperlihatkan dua mahasiswa mengenakan toga tersebut sambil menirukan gerakan kesenian bantengan dengan iringan musik khas ‘mberot’. Unggahan itu disertai tulisan “UMM Universitas Mberot Mania” dan menuai beragam komentar dari warganet.
Sebagian besar warganet menilai desain toga tersebut kurang mencerminkan kesan formal dan sakral sebagai pakaian yang dikenakan dalam prosesi wisuda. Tidak sedikit pula yang meminta pihak kampus mengevaluasi desain tersebut agar lebih sesuai dengan identitas akademik UMM.







