Penjelasan Jokowi tentang Ritual Injak Kepala Kerbau di Lampung
Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau Jokowi, akhirnya memberikan pernyataan resmi terkait polemik yang muncul setelah dirinya menginjak kepala kerbau saat menerima gelar kehormatan adat di Lampung. Peristiwa ini memicu berbagai narasi viral di media sosial, termasuk dugaan keterkaitan dengan politik atau simbolisasi tertentu.
Jokowi menegaskan bahwa kehadirannya di Istana Kedatun Keagungan adalah murni untuk menghormati adat dan budaya lokal. Ia menyatakan bahwa ritual tersebut sudah dilakukan ratusan kali sejak lama dan bukanlah sesuatu yang baru atau dipolitisasi.
“Kita harus menjaga kekayaan budaya Nusantara dari pengaruh politik praktis,” ujar Jokowi. Ia juga menekankan pentingnya menghargai kearifan lokal dan tidak mengaitkan segala hal dengan kepentingan politik.
Ritual Adat yang Sudah Ada Sejak Lama
Sambil tertawa ringan, Jokowi menjelaskan bahwa ritual injak kepala kerbau merupakan bagian dari tradisi adat yang sudah ada sejak ratusan tahun. Ia menilai bahwa narasi yang mengaitkan ritual tersebut dengan simbol banteng moncong putih sebagai logo Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) adalah hal yang tidak relevan dan tidak berdasar.
“Ritual ini sudah dilakukan sejak lama, jadi jangan terlalu banyak spekulasi,” ujarnya. Ia berharap masyarakat dapat melihat ritual ini secara objektif sebagai bagian dari khazanah budaya Nusantara yang perlu dihormati.
Tanggapan dari PDIP
Beberapa anggota PDIP memberikan respons terhadap prosesi ini. Guntur Romli, Ketua DPP PDI Perjuangan, menyatakan bahwa ia tidak tahu pasti maksud dari ritual tersebut. Namun, ia menilai hewan dalam ritual adat seharusnya tetap mendapat perlakuan yang dihormati.
“Kalau hewan dikurbankan, mereka harus dihormati, bukan diinjak seperti itu,” katanya. Ia juga membandingkan dengan tradisi lain yang lebih menghormati hewan kurban.
Sementara itu, Komarudin Watubun, Ketua DPP PDI Perjuangan lainnya, mengatakan bahwa PDIP tidak perlu merespons karena kerbau bukanlah simbol partainya. Menurutnya, Jokowi kini bukan lagi bagian dari partai tersebut.
Penjelasan dari PSI dan Tokoh Adat
PSI juga memberikan penjelasan bahwa prosesi meletakkan kaki di atas kepala kerbau adalah bagian dari adat budaya Lampung. Bestari Barus, Ketua DPP PSI, menegaskan bahwa tindakan Jokowi tidak seharusnya ditafsirkan sebagai simbol politik.
Tokoh adat Lampung Pepadun, Suttan Seghayo Dipuncak Nur Mawardi Harirama, menjelaskan makna ritual tersebut. Menurutnya, prosesi ini memiliki makna filosofis sebagai simbol pengendalian diri, bukan bentuk penghinaan terhadap hewan.
Mawardi menambahkan bahwa penggunaan karpet merah di lokasi acara tidak memiliki kaitan dengan simbol politik tertentu. Ia menjelaskan bahwa karpet merah adalah bagian dari tata ruang adat di Kedaton Keagungan Lampung.
Kesimpulan
Jokowi menegaskan bahwa ritual injak kepala kerbau adalah bagian dari adat istiadat yang perlu dihormati. Ia meminta masyarakat untuk tidak terprovokasi oleh narasi liar di media sosial dan lebih dewasa dalam memandang kearifan lokal.
Dengan penjelasan dari berbagai pihak, baik dari PDIP, PSI, maupun tokoh adat, diharapkan masyarakat dapat memahami bahwa ritual ini adalah bagian dari warisan budaya yang perlu dijaga dan dihormati.







