Peran Data dan Teknologi dalam Pembinaan Olahraga Nasional
Pengembangan olahraga modern tidak lagi hanya bergantung pada kekuatan fisik atau teknik atlet. Di era digital, kemampuan mengolah data, membaca kekuatan lawan, serta menyusun strategi berbasis informasi menjadi fondasi penting dalam membangun prestasi olahraga yang berkelanjutan.
Gagasan tersebut muncul dalam bedah buku Sport Intelligence yang digelar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Selasa (7/7/2026). Forum ini dihadiri oleh Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, Ketua KONI Jawa Timur Muhammad Nabil, Rektor Unesa Nurhasan M.Kes, serta akademisi dan praktisi olahraga untuk membahas masa depan pembinaan atlet berbasis ilmu pengetahuan.
Buku Sport Intelligence merupakan karya empat penulis, yakni Syarif Hidayat, Jerry Indrawan, Eman Sungkowo, dan Irandito Abdul Hakim Malik. Melalui pendekatan multidisipliner, buku tersebut menjelaskan bagaimana pemanfaatan data olahraga dapat diintegrasikan dengan aspek fisik, mental, emosional, hingga analisis performa untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih objektif.
Konsep Sport Intelligence juga dinilai mampu membantu proses identifikasi bakat atlet dari berbagai daerah, meminimalkan subjektivitas dalam seleksi, serta memperkuat sistem pembinaan berbasis bukti. Pendekatan serupa telah diterapkan di sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat, China, Inggris, dan Australia dengan dukungan teknologi Artificial Intelligence (AI), Big Data, serta analisis performa untuk meningkatkan kualitas pelatihan dan manajemen olahraga.
Membangun Prestasi Lewat Kolaborasi dan Data
Ketua Umum KONI Pusat, Marciano Norman, menekankan bahwa esensi Sport Intelligence bukan sekadar memanfaatkan teknologi, tetapi membangun budaya kolaborasi yang mampu memperkuat pembinaan olahraga nasional. “Buku Sport Intelligence ini intinya adalah bagaimana kita meningkatkan kualitas kolaborasi kita, membekali pelaku olahraga untuk kita bisa secara akademik membaca kekuatan lawan, sehingga kita bisa mempersiapkan bagaimana kita menghadapi mereka,” katanya.
Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi menjadi modal penting agar pendekatan ilmiah tersebut berkembang dan dapat diterapkan secara luas dalam sistem olahraga Indonesia. “Saya rasa kita hari ini sangat beruntung dan saya dapat yakinkan melalui perguruan tinggi, kemampuan Sport Intelligence menjadi kebutuhan seluruh pemangku kepentingan olahraga,” tambahnya.
Ketua KONI Jawa Timur, Muhammad Nabil, menilai keberhasilan sebuah inovasi di bidang olahraga pada akhirnya diukur dari prestasi yang mampu diraih atlet. “Karena ujung-ujungnya, bagaimana sebuah karya seperti ini adalah berhasil memberikan sebuah prestasi. Alat ukur olahraga sukses itu bukan di penataan saja, tapi di prestasi,” terang Nabil.
Ia menegaskan, pencapaian prestasi harus diraih melalui proses pembinaan yang benar, mulai dari metode latihan hingga pelaksanaan pertandingan. “Karena itu, bagaimana kita menghasilkan prestasi dengan cara yang terhormat. Yang terhormat itu yang metodologinya, mekanismenya, latihannya, juga pada saat pertandingannya. Tidak ada cara-cara yang lain karena itu akan bertentangan dengan filosofi sport,” tambahnya.
Unesa Siapkan Sport Intelligence Masuk Kurikulum
Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan ilmu tersebut, Unesa berencana memasukkan Sport Intelligence ke dalam kurikulum pendidikan, terutama pada program pascasarjana. Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Unesa, Gigih Siantoro, mengatakan mata kuliah baru itu akan diterapkan di Program Magister Kepelatihan Olahraga dan Magister Ilmu Keolahragaan.
“Terutama di program pasca sarjana, yaitu S2 kepelarihan olahraga dan S2 Ilmu Keluarga, dimana disana kita akan masukkan keilmuan tentang rumpun ilmu baru tadi, Sport Intelligent,” kata Gigih. Menurutnya, materi tersebut akan melengkapi mata kuliah analisis kebijakan yang telah ada dengan pendekatan baru mengenai pemanfaatan data pesaing di tingkat internasional.
“Di dalam program kami sudah ada analisis kebijakan, tapi Sport Intelligent ini bagian dari suatu proses keluarga prestasi bagaimana kita bisa mendapatkan data-data dari pesaing-pesaing kita di tingkat internasional sehingga akan masukkan di kurikulum,” tambahnya.
Sebelum diterapkan, Unesa akan melakukan kajian akademik melalui forum guru besar agar materi yang disusun memiliki landasan ilmiah yang kuat. “Kami di FIKK sudah ada 20 guru besar profesor, sehingga dalam waktu dekat ini mereka akan kami undang untuk mengkaji buku dari Sport Intelligent ini,” kata Dwi Cahyo Kartiko.
“Sehingga ketika memasukkan dalam kurikulum, itu sudah tertata rapi bagaimana analisisnya bagaimana terkait dengan keilmuannya bagaimana dengan materi-materi yang akan disampaikan kepada mahasiswa di dalam kurikulum akan bisa dikaji,” pungkasnya.
Apabila seluruh proses kajian selesai, mata kuliah Sport Intelligence ditargetkan mulai diterapkan pada tahun ajaran baru mendatang.






