Transformasi Pembayaran Digital di Banyumas Raya Mengalami Peningkatan Signifikan
Banyumas Raya semakin menunjukkan tanda-tanda transformasi pembayaran digital yang pesat. Hingga Mei 2026, sebanyak 705.885 pelaku usaha telah menerima pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Jumlah tersebut meningkat sebesar 32,99 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Tidak hanya jumlah pengguna yang meningkat, nilai transaksi QRIS juga melonjak signifikan. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, volume transaksi mencapai 105,53 juta transaksi dengan total nilai mencapai Rp8,42 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin percaya dan memahami sistem pembayaran digital.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto, Christoveny, mengatakan bahwa penggunaan QRIS terus meningkat seiring semakin luasnya pemahaman masyarakat terhadap transaksi digital. Menurutnya, peningkatan penggunaan QRIS merupakan hasil dari berbagai program edukasi dan perluasan digitalisasi sistem pembayaran yang terus dilakukan Bank Indonesia kepada masyarakat.
Edukasi tersebut menyasar berbagai kalangan, mulai dari lansia, komunitas perempuan perbankan, santri pondok pesantren, anggota Pramuka, peserta pasar murah. Adapula program QRIS Ramadan, hingga lebih dari 6.000 peserta kegiatan lari yang berhasil mencatatkan Rekor MURI.
Berbagai upaya tersebut turut berdampak terhadap meningkatnya literasi transaksi digital masyarakat. Berdasarkan survei terhadap 1.995 responden, tingkat pemahaman masyarakat mengenai pembayaran digital telah mencapai 94,97 persen, yang menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap ekosistem pembayaran digital.
Kondisi Harga Telur Ayam Ras yang Mengalami Penurunan
Bank Indonesia Purwokerto juga menyoroti kondisi harga telur ayam ras yang saat ini mengalami penurunan akibat melimpahnya pasokan yang tidak diimbangi peningkatan permintaan. Christoveny menjelaskan, kondisi tersebut menyebabkan harga di tingkat peternak terus tertekan sehingga diperlukan diversifikasi pasar untuk menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi kesejahteraan peternak.
Dalam situasi pasokan yang melimpah, langkah yang perlu dilakukan adalah membuka pasar baru agar kelebihan produksi dapat terserap dan harga tidak terus menurun. Ia mengatakan, meningkatnya produksi telur di berbagai daerah membuat harga di pasaran turun menjadi sekitar Rp23 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram, lebih rendah dibandingkan Harga Acuan Pemerintah (HAP) di tingkat konsumen sebesar Rp26.500 per kilogram.
Karena itu, Bank Indonesia mendorong penguatan jaringan distribusi dan perluasan akses pasar agar hasil produksi peternak dapat terserap secara optimal. Salah satu contohnya adalah produksi telur ayam ras dari Pondok Pesantren Modern ZIIS (Zamzam Integrated Islamic School) yang berhasil dipasarkan melalui Badan Usaha Milik Petani (BUMP) PT Wijaya Kusuma Pangan Mandiri.
Penyerapan dilakukan melalui skema Kerja Sama Antardaerah (KAD) dengan Pemerintah Kabupaten Cilacap yang difasilitasi KPwBI Purwokerto. Kerjasama antardaerah menjadi salah satu solusi mengatasi surplus produksi sekaligus memenuhi kebutuhan daerah lain.
Pertumbuhan Ekonomi Banyumas Raya yang Terus Mengalami Akselerasi
Bank Indonesia juga memaparkan kondisi perekonomian Banyumas Raya yang terus mengalami akselerasi pada Triwulan I 2026. Pertumbuhan ekonomi Banyumas Raya tercatat 6,57 persen, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 5,32 persen.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga selama Ramadan dan Idulfitri, kenaikan upah minimum, pencairan tunjangan hari raya (THR), penyaluran stimulus pemerintah, serta meningkatnya aktivitas ekonomi selama masa libur panjang. Selain itu, pembangunan proyek strategis nasional, pembangunan infrastruktur, investasi swasta, dan musim panen turut menopang pertumbuhan sektor konstruksi maupun pertanian.
Secara sektoral, perekonomian Banyumas Raya masih didominasi industri pengolahan dengan kontribusi sekitar 39 persen, diikuti sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 14 persen, perdagangan 11 persen, serta konstruksi 9 persen.
Inflasi di Purwokerto dan Cilacap Masih dalam Sasaran Nasional
Dari sisi harga, inflasi di Purwokerto dan Cilacap pada Juni 2026 juga masih berada dalam sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen secara tahunan (year on year). Inflasi di Purwokerto tercatat 2,79 persen, sedangkan Cilacap sebesar 2,88 persen.
Kenaikan inflasi dipengaruhi oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi, meningkatnya harga bawang merah akibat terbatasnya pasokan, kenaikan harga bawang putih karena biaya impor, serta meningkatnya pengeluaran masyarakat untuk rekreasi selama libur sekolah. Sementara itu, turunnya harga daging ayam ras, cabai rawit, cabai merah, emas perhiasan, serta sejumlah komoditas hortikultura turut menahan laju inflasi sehingga tetap berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia.
Rangkaian Kegiatan SELARAS 2026
Christoveny juga memperkenalkan rangkaian kegiatan SELARAS (Road to Festival Ekonomi Syariah/FESyar) 2026 bertema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital.” Rangkaian kegiatan meliputi seminar, edukasi ekonomi syariah, pameran UMKM halal, business matching pembiayaan dan ekspor, sertifikasi halal bagi UMKM, peluncuran Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS), tabligh akbar, hingga berbagai kompetisi syariah.
Melalui berbagai program tersebut, Bank Indonesia berharap digitalisasi sistem pembayaran, pengendalian inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta pengembangan ekonomi dan keuangan syariah dapat terus mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat Banyumas Raya.







