Pengangkatan Kembali Gholam-Hossein Mohseni-Ejei sebagai Ketua Hakim Agung
Gholam-Hossein Mohseni-Ejei kembali diangkat sebagai Ketua Hakim Agung Iran, sebuah keputusan yang dilakukan di tengah prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Pengangkatan ini menunjukkan fokus pemerintah Iran terhadap kesinambungan dan stabilitas negara dalam situasi yang penuh tantangan.
Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang baru, meminta Mohseni-Ejei untuk tetap berkomitmen dalam memerangi korupsi dan melakukan langkah-langkah yang akan mengarah pada “transformasi peradilan”. Dalam pesan teksnya, Mojtaba juga menekankan pentingnya mengejar kejahatan yang dilakukan oleh “kekuatan arogan” dan “agresor global”.
Mohseni-Ejei, yang terlihat hadir dalam prosesi pemakaman Ali Khamenei bersama dengan beberapa pejabat tinggi seperti Presiden Iran Masoud Pezeshkian, mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad, dan panglima IRGC Ahmad Vahidi, menyatakan komitmennya untuk mencapai “puncak kesuksesan” yang diinginkan para pemimpin Republik Islam. Ia juga menyampaikan seruan untuk membalas dendam atas pembunuhan Ali Khamenei, dengan menegaskan bahwa rakyat ingin tindakan kriminal tersebut tidak terulang lagi.
Wewenang dan Peran Mohseni-Ejei
Pasal 158 Konstitusi Republik Islam memberikan wewenang kepada kepala cabang yudisial untuk mengatur struktur organisasi peradilan, rancangan undang-undang peradilan, serta perekrutan, pemberhentian, pemindahan, promosi, dan penugasan hakim. Mohseni-Ejei juga memiliki kewenangan untuk menunjuk kepala Mahkamah Agung dan jaksa agung setelah berkonsultasi dengan hakim-hakim Mahkamah Agung.
Selain itu, ia dapat menominasikan enam ahli hukum dari 12 anggota Dewan Penjaga Konstitusi, yang kemudian dipilih oleh parlemen. Hal ini memberinya pengaruh tidak langsung atas proses pemilihan dan legislatif. Selama masa antara pembunuhan Ali Khamenei dan pemilihan putranya, Mojtaba Khamenei, Mohseni-Ejei menjadi bagian dari dewan tiga orang yang bertanggung jawab atas negara tersebut, bersama dengan presiden dan seorang anggota Dewan Penjaga Konstitusi.
Mohseni-Ejei juga dapat secara langsung memengaruhi politik melalui suaranya di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, badan pembuat keputusan tertinggi Iran yang saat ini memimpin negosiasi mediasi dengan Washington. Menurut laporan media lokal, Mohseni-Ejei mendukung nota kesepahaman antara AS dan Iran untuk menghentikan konflik antara kedua negara.
Reaksi Masyarakat dan Dunia Internasional
Pemakaman Ali Khamenei dihadiri oleh ribuan warga Iran yang berpawai di jalan-jalan Teheran. Rekaman drone menunjukkan puluhan ribu orang berdesakan di jalan raya pusat kota. Peti mati pemimpin yang terbunuh dan empat anggota keluarganya diangkut dengan truk besar. Sementara itu, selang pemadam kebakaran menyemprotkan air untuk menjaga agar peserta pawai tetap merasa sejuk.
Rezim teokrasi Iran berencana untuk mendatangkan banyak orang ke upacara tersebut di seluruh kota untuk menunjukkan dukungan rakyat kepada pemerintah. Pemakaman pendahulunya, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pada tahun 1989, dihadiri sekitar 10 juta orang. Kerumunan besar ini dianggap sebagai tanda kekuatan negara, terutama ketika Iran sedang bernegosiasi dengan AS untuk mengakhiri perang yang menewaskan ulama berusia 86 tahun itu.
Para pelayat mengulurkan tangan untuk menyentuh truk tersebut, dan beberapa melemparkan syal dan barang-barang lainnya agar para petugas dapat mengusapkannya ke peti mati, sebuah praktik umum di Iran yang dianggap sebagai berkah. Para petugas, beberapa di antaranya berada di tangga truk pemadam kebakaran, menyemprotkan air ke kerumunan untuk mendinginkan mereka di tengah panas terik.





