Papan akselerasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan kinerja yang berbeda dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meskipun IHSG mengalami penurunan signifikan sejak awal tahun, papan akselerasi terus menunjukkan pertumbuhan. Pada akhir perdagangan hari ini, Selasa (7/7/2026), kinerja papan akselerasi naik 2,73% YTD (year to date), meskipun penurunan terjadi dibandingkan awal bulan lalu.
Pergerakan IHSG tercatat turun sebesar 30,77% YTD, sementara dana asing juga telah keluar dari pasar saham Indonesia sebesar Rp 89,07 triliun di pasar reguler dan Rp 74,6 triliun di seluruh pasar. Analyst Equity PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menjelaskan bahwa tekanan terbesar pada IHSG berasal dari foreign outflow yang fokus pada saham-saham besar, khususnya sektor perbankan dan saham dengan bobot dominan dalam indeks.
Sebaliknya, saham-saham di papan akselerasi memiliki kepemilikan institusi asing yang relatif terbatas. Hal ini membuat mereka lebih sedikit terpengaruh oleh arus keluar dana asing. Pergerakan harga saham di papan akselerasi lebih banyak ditentukan oleh aliran dana domestik dan faktor spesifik emiten, sehingga korelasinya terhadap IHSG cenderung lebih rendah dibandingkan saham blue chip.
Secara historis, banyak saham di papan akselerasi memiliki beta yang rendah atau bahkan negatif karena likuiditas yang terbatas dan korelasi terhadap IHSG yang kecil. Hal ini menyebabkan pergerakannya lebih dipengaruhi faktor spesifik emiten daripada sentimen pasar secara keseluruhan.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa outperformance papan akselerasi terhadap IHSG adalah “immunity by irrelevance”, bukan “immunity by quality”. Emenit kecil dengan free float terbatas tidak masuk radar foreign outflow yang memukul big caps. Saham-saham di papan akselerasi yang naik kencang biasanya narrative-driven, bukan pertumbuhan fundamental terverifikasi.
Junior Analyst Kiwoom Sekuritas, Kevin Yudha Pratama, menambahkan bahwa saat saham big caps tertekan, sebagian pelaku pasar mencari peluang pada emiten berkapitalisasi kecil. Beberapa saham yang menjadi penggerak papan akselerasi antara lain:
- PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK): Naik 25,56% YTD
- PT Hoffmen Cleanindo Tbk (KING): Naik 49,52% YTD
- PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV): Naik 295,45% YTD
- PT Prima Globalindo Logistik Tbk (PPGL): Naik 26,09% YTD
Menurut Kevin, kenaikan mereka didorong oleh ekspektasi pertumbuhan bisnis. Terutama, pada emiten yang mampu mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba yang konsisten, memiliki rencana ekspansi yang jelas, serta berada di sektor dengan prospek pertumbuhan tinggi.
Imam menegaskan bahwa kinerja saham di papan akselerasi tidak bisa secara pasti diproyeksikan. Sebab, kinerja historis saham tidak selalu menjadi gambaran kinerja di masa depan. Namun, apabila melihat kondisi pasar secara keseluruhan, IHSG mulai menunjukkan peluang pemulihan secara teknikal dalam jangka pendek setelah mengalami koreksi yang cukup dalam sejak awal tahun.
Jika tekanan jual asing mereda dan sentimen global membaik, saham-saham berkapitalisasi besar justru berpotensi menjadi penerima aliran dana pertama. Menurut Imam, investor sebaiknya tidak hanya fokus pada saham-saham papan akselerasi, tetapi juga memperhatikan saham-saham fundamental kuat yang mengalami koreksi cukup dalam, terutama sektor perbankan besar.
Wafi menilai outperform emiten papan akselerasi masih bisa berlanjut di semester II 2026. Namun, pergerakannya tak bisa menjadi indikator valid lantaran penurunan IHSG sudah sangat dalam. Yang perlu dipertimbangkan adalah apakah saham-saham tersebut naik secara absolut dan seperti apa katalis spesifik dari masing-masing emiten.
Kevin berpandangan bahwa tren positif papan akselerasi masih berpeluang berlanjut pada semester II 2026, tetapi akan lebih selektif. Di tengah dana asing yang masih keluar, saham dengan katalis fundamental dan aksi korporasi yang jelas berpotensi lebih menarik dibanding saham yang hanya bergerak karena momentum.
Saham dari papan akselerasi yang berpotensi bergerak kencang hingga akhir tahun adalah PACK. Alasannya, PACK memiliki arah transformasi yang jelas dari bisnis kemasan menjadi investment holding yang fokus pada ekosistem nikel, didukung ekspansi ke perdagangan dan pertambangan nikel. Jika eksekusinya berjalan sesuai rencana, katalis PACK tidak hanya berasal dari sentimen pasar, tetapi juga dari perubahan fundamental bisnis.
Investor perlu memperhatikan bahwa saham papan akselerasi umumnya memiliki likuiditas yang lebih terbatas dan volatilitas yang tinggi. Pergerakan harga bisa sangat cepat, baik saat naik maupun turun. Oleh karena itu, investor sebaiknya tidak hanya mengejar saham yang sudah naik tinggi, tetapi fokus pada emiten yang memiliki fundamental jelas, pertumbuhan pendapatan dan laba yang konsisten, rencana ekspansi yang terukur, serta prospek bisnis yang masih kuat.
Kevin merekomendasikan speculative buy untuk PACK dengan target harga Rp 266 per saham.
PACK Chart
by TradingView







