Peristiwa Mural Malang The Glory Land yang Menimbulkan Kontroversi
Peristiwa viral mengenai mural Malang The Glory Land yang ditimpa oleh mural Malang Menyala Bersama kini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Malang. Mural yang digambar sejak tahun 2016 ini memiliki nilai historis bagi Aremania dan warga Malang, sehingga tindakan yang dilakukan oleh oknum tertentu menimbulkan amarah dan kekecewaan.
Malang The Glory Land atau Malang Tanah Kejayaan merupakan karya dari almarhum Sam Nyek, salah satu tokoh Aremania dari This Is Arema. Karya tersebut tidak hanya menjadi bagian dari seni kota Malang, tetapi juga mencerminkan identitas dan sejarah suporter Arema. Namun, kini mural tersebut terganggu oleh adanya mural baru yang muncul, yaitu Malang Menyala Bersama.
Peristiwa ini terjadi dalam rangka menyemarakkan event Festival Mbois yang akan berlangsung di Stadion Gajayana, Kota Malang akhir pekan ini. Tindakan panitia Festival Mbois yang tidak memberikan pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak yang membuat mural Malang The Glory Land menimbulkan ketidakpuasan. Hal ini memicu perdebatan dan diskusi di kalangan masyarakat, khususnya Aremania.
Humas Presidium Aremania Utas, Dedi Arisandi atau yang akrab disapa Pak Wo, menyampaikan bahwa sebagai organisasi suporter, pihaknya mendorong penyelesaian masalah secara damai dan kekeluargaan. Ia menyayangkan tindakan panitia yang melakukan perubahan tanpa komunikasi terlebih dahulu dengan pemilik karya.
“Kami sangat menyayangkan apa yang telah dilakukan oleh kawan-kawan panitia, karena tidak ada klarifikasi ataupun pemberitahuan kepada yang menginisiasi tulisan atau yang membuat tulisan di tembok hotel ini,” ujarnya.
Pak Wo menegaskan bahwa meskipun mural tersebut bukan milik organisasi suporter, isu yang berkaitan dengan identitas Aremania sering kali menyeret nama organisasi untuk memberikan penjelasan. Dalam hal ini, Presidium Aremania Utas hanya bertindak sebagai penengah antara kedua belah pihak agar tidak terjadi konflik yang berkepanjangan.
Ia meminta seluruh pihak menjaga citra Malang dan Aremania dengan mengedepankan dialog dan menghindari sikap arogan maupun anarkis. Selain itu, ia berharap panitia bersedia memberikan klarifikasi kepada pihak yang merasa dirugikan serta menunjukkan itikad baik untuk bertanggung jawab.
Bentuk tanggung jawab tersebut dapat berupa permintaan maaf atau langkah lain yang disepakati bersama, termasuk kemungkinan pengecatan ulang apabila diperlukan.
Sementara itu, mural Malang Menyala Bersama kini telah ditutup menggunakan cat biru sekitar pukul 16.30 WIB. Dari informasi yang diterima Surya, mural tersebut ditutup sendiri oleh pihak panitia Festival Mbois. Rencananya, setelah tembok tersebut diblok biru akan kembali digambar tulisan Malang The Glory Land.







