Kebakaran Hebat di Kompleks Terminal Lawang Kuari Sekadau
Pada Jumat, 21 Agustus 2026 dini hari, kawasan kompleks Terminal Lawang Kuari Sekadau mengalami kebakaran hebat. Kejadian ini terjadi di belakang Kantor PLN Sekadau, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau. Kebakaran tersebut menyebabkan sekitar 18 pintu rumah toko (ruko) di kawasan pasar hangus terbakar.
Sekadau berada sekitar 4 jam perjalanan dari Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat, dan menjadi jalur utama menuju wilayah hulu. Sejak kejadian, masyarakat setempat serta pihak berwenang langsung merespons dengan cepat.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Sekadau, Eko Sulistyo, menjelaskan bahwa laporan kebakaran diterima sekitar pukul 00.53 WIB. Ia menyampaikan bahwa kebakaran terjadi di pasar kawasan kompleks Terminal Lawang Kuari yang menghanguskan sejumlah bangunan.
“Kami menerima laporan kebakaran sekitar pukul 00.53 WIB,” ujar Eko saat diwawancarai di lokasi kejadian.
Setelah menerima laporan, petugas piket bersama regu yang sedang beristirahat langsung dikerahkan untuk melakukan penanganan. Bantuan juga datang dari Srikandi, Yayasan Bakti Luhur, serta Polres Sekadau yang mengerahkan kendaraan water cannon untuk membantu proses pemadaman.
Selain itu, petugas pemadam kebakaran dari Kabupaten Sanggau turut berpartisipasi dalam penanganan kebakaran tersebut. Eko menilai koordinasi antarunit pemadam menjadi faktor penting dalam mempercepat proses pemadaman.
“Alhamdulillah, saat ini sudah masuk pada tahap pendinginan. Kami juga dibantu oleh rekan-rekan pemadam kebakaran dari Sanggau sehingga keterpaduan dan kerja sama dapat kita lakukan secara maksimal,” jelasnya.
Menurut Eko, proses pemadaman dapat berjalan baik karena koordinasi yang baik antara unit-unit yang terlibat. Meski begitu, ada beberapa kendala di lapangan, seperti kebutuhan suplai air selama proses pemadaman.
Untuk memenuhi kebutuhan air, petugas memanfaatkan hydrant yang masih aktif di sekitar kawasan terminal dan di simpang keluar terminal.
“Secara umum, tidak ada masalah di lapangan. Hanya saja suplai air, tetapi kami bisa memenuhinya dengan hydrant-hydrant yang masih aktif di sekitar terminal dan di simpang keluar terminal,” tambahnya.
Eko memastikan bahwa kebakaran tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, berdasarkan informasi yang diperoleh, satu tempat penitipan kendaraan ikut terbakar dan tidak dapat diselamatkan karena kondisi saat kejadian.
“Untuk korban tidak ada. Hanya ada satu tempat penitipan kendaraan yang ikut terbakar karena situasinya tidak memungkinkan untuk diselamatkan,” ujarnya.
Setelah kobaran api berhasil dikendalikan, petugas melanjutkan proses pendinginan untuk memastikan tidak ada titik api yang berpotensi memicu kebakaran kembali. Secara keseluruhan, proses penanganan kebakaran dari pemadaman hingga pendinginan memakan waktu sekitar tiga jam.







