Pembalap MotoGP asal Spanyol, yang akan mengenakan seragam merah pada tahun depan, memiliki tolok ukur dalam diri Marc Marquez. Ia sudah menantikan kesempatan untuk bergabung dengan Ducati pada musim 2027.
Acosta mengungkapkan pencapaian musim ini, yang menjadi tahun terakhirnya bersama Red Bull KTM setelah debut yang impresif pada 2024. Selama jeda musim panas, ia pergi ke Amerika Serikat dan menjalani liburan sungguhan pertama yang pernah dia lakukan.
“Awal tahun ini cukup berat karena segala masalah teknis yang kami hadapi. Jadi saya berkata, ‘Oke, saya akan pergi ke Amerika untuk bersenang-senang bersama teman-teman,’ kata Acosta dalam wawancara eksklusif dengan MotoSport.com.
“Saya juga menonton balapan NASCAR, yang merupakan salah satu hal dalam daftar impian saya. Saya sangat menikmatinya; biasanya saya selalu merasa senang saat berkunjung ke wilayah dunia tersebut. Pengalaman itu sungguh luar biasa.”
“Secara pribadi, saya tidak menganggap diri saya sebagai orang yang sukses. Memang benar saya meraih banyak pencapaian di awal karier saya. Saya memenangkan gelar juara Moto3 di awal, lalu gelar Moto2.”
“Semuanya terjadi begitu cepat, dan pada musim keempat di Kejuaraan Dunia, saya sudah berada di MotoGP bersama para pembalap papan atas. Dalam hal itu, memang benar saya sukses—dan sangat cepat meraihnya.”
“Tetapi di sisi lain, saya belum mencapai hal yang saya inginkan seumur hidup, yaitu meraih kemenangan di MotoGP. Kami berada di jalur yang tepat.”
Berbeda dengan atlet lain segenerasi yang gemar memamerkan barang-barang mewah atau materi hasil kesuksesan mereka, tidak ada satu pun foto Acosta bersama supercar atau di atas dek kapal pesiar.
“Saya ingin menunjukkan kepada orang-orang jati diri saya yang sebenarnya. Mudah sekali untuk menjadi terlena, dan saya senang berpikir bahwa kaki saya masih tetap membumi,” ucap Acosta.
“Orang-orang di rumah tidak membiarkan hal itu terjadi atau membiarkan saya jadi terlena. Meski begitu, memang ada hal-hal yang saya nikmati sebagai bentuk memanjakan diri: tahun lalu saya membeli sebuah camper van.”
“Sekarang saya sering menghabiskan waktu berkendara serta tidur di tepi danau atau tempat-tempat semacam itu.”
“Mungkin itulah bentuk kemewahan bagi saya. Dengan gaji pertama, saya membeli van untuk pergi ke tempat latihan, tetapi saya tidur di kursi kendaraan sampai suatu hari di Barcelona, saya hampir membeku kedinginan.”
“Saat itulah saya berkata, ‘Oke, mungkin sudah waktunya mengeluarkan sedikit lebih banyak uang dan membeli sesuatu yang lebih layak.'”
Setelah enam musim bersama KTM, pembalap berusia 22 tahun itu memutuskan untuk meninggalkan pabrikan asal Austria itu pada akhir tahun dan bergabung dengan Ducati.
“Menurut saya, KTM telah memberikan segalanya di setiap momen karier saya dan di setiap tahapan hubungan kami. Namun, saya telah sampai pada titik di mana saya membutuhkan tantangan baru,” tutur Acosta.
“Saya tidak ingin terdengar sombong, tetapi sejak saya tiba di MotoGP, saya selalu menjadi pembalap KTM dengan posisi terbaik di grid. Mungkin saya butuh tantangan baru atau sesuatu untuk membangkitkan kembali semangat saya.”
“KTM memberi saya kesempatan untuk memenangkan kejuaraan Moto3 dan segala sarana untuk mencoba meraih gelar Moto2. Seandainya peluang untuk membangun motor yang kompetitif lebih dekat terwujud, mungkin saya akan bertahan. Sayangnya, kenyataannya tidak demikian.”
Singkatnya, kesabaran Acosta sudah habis.
“Tentu saja, ya. Saya telah memercayai proyek ini selama tiga tahun dan terus memberinya kesempatan demi kesempatan. Namun, saya merasa bisa melangkah lebih jauh lagi, dan itulah alasan saya memutuskan untuk pergi,” aku Acosta.
“Tahun lalu tidak mudah untuk dihadapi. Terutama karena saya terus berpikir bahwa jika saya tidak menang, itu adalah kesalahan saya sendiri. Dan ketika sesuatu itu… Rasanya jauh lebih sulit untuk melepaskan tekanan itu ketika hal tersebut menjadi tanggung jawab Anda sendiri.”
“Orang yang paling membantu saya menyadari bahwa masalahnya mungkin bukan pada diri saya adalah Carmelo Morales, pelatih saya. Dia memiliki perspektif berbeda mengenai balapan, dan hal itu menjadi kunci untuk memahami adanya batasan yang nyata.”
“Masalahnya adalah saya menuntut performa motor jauh melampaui kemampuannya, dan setiap kali saya melakukan itu, saya akhirnya terjatuh. Meski bukan gaya saya, tiba saatnya saya harus merenung dan berkata, ‘Oke, finis di posisi lima besar tidaklah buruk.'”
“Dan saat kita sudah kompetitif, kita bisa bersaing memperebutkan podium. Terutama karena alasan itulah, tahun ini saya tampil jauh lebih kompetitif. Bahkan dengan berbagai kendala di paruh pertama musim, saya biasanya mampu bersaing ketat dengan tiga pembalap terdepan.”
Debut MotoGP pembalap yang dijuluki Hiu dari Murcia diwarnai sorotan media yang luar biasa dan perbandingan terus-menerus dengan Marc Marquez hingga terasa membebaninya.
“Menurut saya, hal itu tidak memengaruhi saya. Saya bukan tipe orang yang terlalu banyak membaca berita tentang diri sendiri, dan saya dikelilingi oleh orang-orang yang sangat jujur yang berani bicara apa adanya kepada saya,” ujar Acosta.
“Ekspektasi semacam itu sudah ada sejak hari pertama; bahkan saat di Moto3 pun orang-orang sudah membandingkan saya dengan Marc. Saya rasa saya telah membuat lompatan besar.”
“Soal kedewasaan saat beralih dari Moto2 ke MotoGP. Pada tahun pertama saya di Moto2, saya ingin meraih segalanya terlalu cepat, namun saya kurang dewasa. D”
“Pada musim perdana Moto2, saya sudah mematok target untuk merebut gelar juara. Sebaliknya, saat di Moto3, saya hanya fokus mengumpulkan poin. Di MotoGP, saya belajar mengelola ekspektasi dengan cara yang berbeda.”
Musim depan Acosta akan bergabung dengan tim pabrikan Ducati, yang merupakan tolok ukur utama. Tidak ada ruang untuk alasan apa pun di sana.
“Jujur saja, saya cukup senang dengan hal itu. Saat ini, ada banyak pertanyaan di benak saya tentang bagaimana situasinya nanti. Saya bukan tipe orang yang suka menyalahkan pihak lain demi menegaskan bahwa suatu masalah bukan kesalahan saya,” kata Acosta.
“Mungkin tahun depan hal itu akan berubah; tidak ada lagi alasan, dan jika segalanya tidak berjalan lancar, itu sepenuhnya kesalahan saya. Justru hal itulah yang membuat saya sangat senang.”
“Saya orang yang sangat blak-blakan, bahkan terhadap diri sendiri, dan ini hanya akan membawa dampak positif bagi karier saya.”
Dia akan berbagi garasi dengan Marquez, pembalap yang selalu mendominasi rekan-rekan setimnya. Acosta mengungkap hal yang membuat dia yakin bisa mematahkan pola tersebut?
“Saya tidak tahu persis apa yang akan saya hadapi di garasi itu, tetapi saya tidak merasa tertekan. Marc sedang berada di fase akhir kariernya, sementara saya baru saja memulainya,” aku Acosta.
“Dia sudah mengenal semua orang di pabrikan tersebut, sedangkan saya butuh waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan tim yang sepenuhnya Italia setelah enam tahun bersama KTM. Saya menghadapi babak yang benar-benar baru, jadi saya tidak merasa tertekan.”
“Untungnya, saya akan berada di sana setidaknya selama dua tahun. Jadi, saya punya waktu untuk beradaptasi dan meningkatkan performa di tahun pertama, lalu melihat apa yang terjadi di tahun kedua.”
Saat ditanya apakah bergabung dengan Marquez mirip dengan langkah Jorge Lorenzo saat pindah ke Yamaha pada 2008, ketika Valentino Rossi menjadi sosok utamanya.
“Bisa jadi demikian, meskipun saya belum pernah benar-benar memikirkannya. Saya sangat berterima kasih kepada Ducati karena telah mengizinkan saya menjadi bagian dari proyek mereka, meskipun saya belum pernah memenangkan balapan MotoGP,” ucap Acosta.
“Saat itu, Lorenzo adalah kekuatan dominan di kelas 250cc, sementara saya sudah tiga tahun berkecimpung di MotoGP. Saya tidak memasang ekspektasi apa pun. Saya hanya akan datang pada hari Selasa setelah balapan Valencia dan melihat apa yang bisa saya lakukan.”
Pandangan Acosta tentang Marquez tidak berubah setelah bertemu dan bersaing dengannya di lintasan.
“Hal yang paling membuat saya terkesan dari Marc adalah segala penderitaan yang harus ia lalui demi merebut kembali gelar juaranya,” kata Acosta.
“Kita bicara tentang seorang pembalap yang menghabiskan lebih dari satu dekade bersama tim pabrikan terbesar di dunia dan memenangkan banyak sekali gelar. Besarnya penderitaan yang ia alami secara sia-sia—padahal ia tidak perlu membuktikan apa pun lagi.”
“Hal ini menunjukkan ketangguhan luar biasa yang sebelumnya tidak terlihat pada dirinya. Kekuatan mental yang ia tunjukkan untuk kembali setelah mengalami begitu banyak cedera adalah hal yang paling mengesankan bagi saya.”
Di Kejuaraan Dunia yang umumnya diwarnai keakraban antar-pembalap, Acosta selalu menjaga jarak dari suasana akrab tersebut.
“Bisa jadi begitu. Atau, saya termasuk tipe orang yang tidak mengikuti tren umum. Saya paham bahwa kebanyakan pembalap saling akrab dan kita bisa mengobrol dengan siapa saja di antara mereka,” tutur Acosta.
“Namun, kita semua di sini mengejar mimpi yang sama, dan sangat sulit menjalin hubungan yang tulus dengan seseorang yang menginginkan hal persis sama seperti Anda.”
“Demi mewujudkan mimpinya, seorang rival bisa saja menghancurkan siapa pun atas nama olahraga ini. Jadi, jika saya tidak bisa bersikap jujur kepada Anda, saya lebih memilih untuk mundur sejenak dan menjaga jarak.”
“Saya tidak pernah punya teman di paddock, dan saya senang dengan kondisi itu karena dengan begitu, saya tidak akan ragu saat melakukan manuver menyalip. Dulu, rivalitas besar (Rossi-Biaggi, Crivillé-Doohan, Rossi-Márquez) tidak melibatkan hubungan yang akrab.”
“Mungkin inilah bumbu yang kini hilang dari MotoGP.”







