Pertemuan Tingkat Tinggi China dan Korea Selatan di Seoul
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, mengadakan pertemuan penting dengan Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun, setelah tiba di Seoul. Diskusi utama antara kedua pejabat tersebut berfokus pada isu keamanan di kawasan Semenanjung Korea. Selain itu, mereka juga akan mengadakan pertemuan khusus dengan Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, pada hari Kamis (20/8/2026).
Pertemuan ini terjadi dalam situasi yang sangat dinamis, terutama karena evaluasi pengerahan militer Amerika Serikat di Asia Timur. China, yang merupakan satu-satunya sekutu formal Korea Utara, melalui Wang Yi meminta Washington untuk segera mengubah “kebijakan bermusuhan” terhadap Pyongyang agar dapat membuka jalan bagi penyelesaian politik.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menekankan pentingnya stabilitas kawasan. “Menjaga perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea serta mempromosikan penyelesaian politik atas masalah Semenanjung Korea adalah demi kepentingan bersama semua pihak,” ujar Lin Jian. Pernyataan ini menunjukkan komitmen Beijing sebagai penengah dalam proses diplomasi regional.
Kebijakan Militer Donald Trump Ubah Peta Keamanan Kawasan

Langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memangkas skala latihan militer tahunan dengan Korea Selatan menuai perhatian luas. Latihan militer yang biasanya melibatkan sekitar 39 ribu prajurit AS dan Korea Selatan tersebut disesuaikan skalanya setelah Trump menyatakan memiliki hubungan yang sangat baik dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un serta ingin menghidupkan kembali dialog diplomatik.
Di sisi lain, pemangkasan skala latihan militer ini memicu analisis mendalam tentang komitmen pertahanan Amerika Serikat di kawasan Asia. Adik Pemimpin Korea Utara, Kim Yo Jong, menegaskan melalui media pemerintah KCNA bahwa pemangkasan skala latihan tersebut tidak mengubah hakikatnya sebagai ancaman militer. Sementara itu, Pemerintah Korea Selatan berusaha menjaga keseimbangan antara aliansi militer dengan Amerika Serikat dan perbaikan hubungan diplomasi bersama China.
Wang Yi menyebut Korea Selatan sebagai negara tetangga terpenting bagi China di kawasan Asia Timur. Dia menegaskan bahwa pihak Beijing akan melakukan segala upaya yang diperlukan demi menjaga stabilitas kawasan. “Kami juga berharap Korea Selatan dan Korea Utara secara bertahap dapat mengejar peluang untuk perdamaian dan koeksistensi, dan kami secara tulus menghendaki stabilitas dan pembangunan yang abadi di Semenanjung Korea,” tegas Wang Yi.
Rencana Pertemuan Puncak Lee Jae Myung dan Xi Jinping

Pemerintah Korea Selatan sedang merancang agenda pertemuan puncak antara Presiden Lee Jae Myung dan Presiden China Xi Jinping. Sesi dialog bilateral ini direncanakan berlangsung di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi APEC di Shenzhen pada November 2026. Pertemuan ini diharapkan menjadi momentum penting untuk merekatkan kembali kerja sama ekonomi serta politik kedua negara.
Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun, menyampaikan optimismenya terkait proses pemulihan hubungan diplomasi dengan China. Dia berharap perbaikan hubungan bilateral ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi perdamaian kawasan di Semenanjung Korea. Selain itu, Presiden Lee Jae Myung juga mengusulkan dialog multilateral yang melibatkan negara-negara peserta Perang Korea untuk merumuskan pakta perdamaian abadi.
Langkah proaktif Korea Selatan menuju Beijing menunjukkan kepiawaian merespons pergeseran peta geopolitik global yang cepat. Saat Amerika Serikat mulai melunakkan pendekatan militer terhadap Korea Utara, Korea Selatan bergerak mengamankan jalur diplomasi dengan China. Kerja sama multitrek ini diharapkan mampu menciptakan iklim keamanan yang lebih stabil bagi seluruh negara di kawasan Asia Timur.







