Peristiwa Menyedihkan di Distrik Jila, Kabupaten Mimika
Pada hari Senin (17/8/2026), sebuah peristiwa tragis terjadi di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Aksi penyanderaan yang dilakukan oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) – Organisasi Papua Merdeka (OPM) mengakibatkan kematian seorang ibu dan cedera pada satu orang lainnya.
Neregingget Magai, seorang ibu yang lahir pada tahun 1978, meninggal dunia setelah ditembak oleh OPM. Saat kejadian, Neregingget sedang berusaha mencegah anak perempuannya dari dibawa paksa oleh kelompok tersebut. Dia ditembak di bagian perut dan meninggal di tempat kejadian.
Jenazah Neregingget Magai kemudian dievakuasi oleh masyarakat Distrik Jila untuk menjalani prosesi adat pembakaran atau kremasi. Sementara itu, Inkolung Aim, seorang ibu lainnya, dibuang ke jurang oleh OPM. Beruntung, nyawanya selamat setelah dievakuasi oleh warga setempat. Korban mengalami patah kaki dan dibawa ke Kampung Pilikogom, Distrik Jila, untuk mendapatkan penanganan medis.
Komandan Kodim (Dandim) 1710/Mimika, Letkol Inf Jozanda, menyampaikan bahwa satu ibu ditembak tewas di tempat sedangkan satu lainnya dibuang ke jurang dengan kondisi patah kaki. Ia menilai tindakan OPM sebagai tindakan biadab dan tidak manusiawi.

Sebelumnya, OPM juga melakukan penyanderaan terhadap sembilan anak-anak perempuan yang masih di bawah umur. Usia mereka berkisar antara belasan tahun, bahkan beberapa di antaranya adalah siswa Sekolah Dasar (SD). Salah satu sandera bahkan dalam kondisi hamil muda. Peristiwa penyanderaan ini terjadi di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, pada Selasa (18/8/2026).
Distrik Jila merupakan salah satu distrik di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Wilayah ini terletak di pedalaman dan memiliki karakter geografis yang berbeda dengan kawasan pesisir dan pusat kota Timika. Jila merupakan wilayah pegunungan dengan potensi untuk konservasi, kehutanan, pertanian, peternakan, dan perikanan darat.
Berikut identitas sembilan anak-anak yang dibawa paksa dan disandera oleh OPM di Distrik Jila:
- Namerina Wamang (17) – Kondisi hamil muda
- Alin Mesawarol – Siswi Kelas 6 SD
- Nopi Aim – Siswi Kelas 4 SD
- Opinte Mesawaro – Siswi Kelas 3 SD
- Yonita Senawatme (18)
- Meria Nibilingame (15)
- Wena Katagame (18)
- Ilimin Onawame (18)
- Miante Nibilingame (13)
Hingga Kamis (20/8/2026), nasib dan keberadaan sembilan perempuan yang diduga masih disandera belum diketahui.
Kronologi Penyanderaan
Letkol Inf Jozanda menjelaskan kronologi penyanderaan 9 anak-anak belasan tahun tersebut. Menurutnya, OPM melakukan aksi pembawaan paksa terhadap perempuan. “Waktu itu mereka menembak prajurit kami dan kami membalas serangan. Kami pukul mundur mereka (OPM),” katanya.
Ia mengatakan, saat kejadian Danramil menerima laporan dari masyarakat bahwa ada beberapa perempuan dibawa paksa. Serangan dilakukan OPM pagi hari sekitar pukul 07.00 WIT. “Kami melakukan konsolidasi dengan mengamankan situasi disana. Ada anak kelas 3 SD, 4 SD, 6 SD, umur 18 tahun 3 orang, umur 17 tahun hamil muda,” katanya.
Dandim menjelaskan saat hendak dibawa anak-anak itu ada dua perempuan dewasa mencoba menghalangi karena tidak tega anak mereka dibawa paksa. Dua ibu tersebut yang ditembak mati bernama Neregingget Magai dan satu korban lain mengalami patah kaki bernama Inkolung Aim.
Ia menyebut, yang dilakukan OPM ini adalah tindakan biadab dan tidak manusiawi. “Itu masyarakat kita. Tolong angkat berita ini tentang pembawaan paksa warga,” katanya.
Pihaknya telah mengirim satu pleton Satgas untuk mengejar OPM. “Semoga pengejaran ini ada hasil tetapi butuh kerja keras,” ujarnya. Dandim Mimika mengaku sudah berkoordinasi dengan bupati untuk mengatasi masalah ini sesuai permintaan warga Jila.
“Saya sudah sampaikan ke bupati bahwa masyarakat disana takut untuk berkebun sehingga mereka butuh bantuan bahan makanan,” katanya. Ia menyebut, situasi di Jila belum kondusif sehingga penerbangan belum dibuka. “Maskapai juga takut kesana sehingga kendala kami disitu apalagi pilot,” ujarnya.
Coba pikirkan anak-anak masih dibawa umur dibawa OPM itu untuk apa. “Semua dibawa itu adalah perempuan. Itu perilaku keji dan keterlaluan dilakukan OPM,” ungkapnya. Ia berharap proses pengejaran ini membuahkan hasil dan para perempuan yang dibawa paksa kembali dalam keadaan selamat.
Pelaku Penyanderaan
Kapolres Mimika, AKBP Alfredo Rumbiak, mengatakan, penyanderaan dilakukan oleh sekitar 15 anggota OPM. Para pelaku diduga merupakan kelompok yang sama dengan pelaku penembakan tiga personel TNI di Distrik Jila pada Senin (17/8/2026). Dalam penembakan tersebut, satu anggota TNI, Pratu Rizki Kurniawan gugur setelah mengalami luka tembak di bagian kepala. Dua rekannya, Pratu Y Pasaribu dan Pratu Kiki Febrio juga tertembak. Pratu Y Pasaribu mengalami luka tembak di bagian pinggang. Sementara Pratu Kiki Febrio mengalami luka tembak di bagian lengan.
“Kelompok ini mungkin sama karena tragedinya berkelanjutan pasca penembakan 3 personel TNI,” ujarnya.




