Kehidupan di Bawah Jembatan Ciliwung Kalibata
Di bawah Jembatan Ciliwung Kalibata, Jakarta Selatan, kehidupan berjalan dalam ritme yang jauh dari hiruk-pikuk kendaraan di atasnya. Ruang sempit, lembap, dan beraroma sungai menjadi tempat bagi sekelompok warga yang mengolah ikan sapu-sapu. Ikan yang selama ini dianggap hama itu diangkat dari dasar Sungai Ciliwung yang keruh, lalu diproses langsung di atas rakit apung dari kubus plastik hijau.
Kulit hitam ikan yang keras disayat dan dibuang kembali ke sungai. Sementara daging berwarna kemerahan dimasukkan ke kantong plastik merah untuk dijual. Telur ikan berwarna oranye terang juga dipisahkan, dimanfaatkan sebagai umpan memancing. Hampir seluruh bagian ikan sapu-sapu memiliki nilai ekonomi. Daging dijual per kilogram, telur dijadikan umpan, sementara kulitnya dibuang karena sulit diolah.
Dapur Terbuka di Bawah Jembatan
Bagi para pencari ikan, kolong jembatan bukan sekadar tempat berteduh. Ruang itu berubah menjadi dapur terbuka, ruang produksi, sekaligus ruang hidup di tengah keterbatasan. Ali (35), salah satu pencari ikan sapu-sapu, menjelaskan bahwa saat kondisi sungai normal, hasil tangkapan bisa jauh lebih banyak. Ikan sapu-sapu biasanya bersembunyi di lubang dasar sungai yang sulit dijangkau saat air naik.
“Biasanya banyak, sekarang kerasa dikit,” ujar Ali.
Ia mengaku sudah sekitar 10 tahun bekerja sebagai pencari dan pembersih ikan sapu-sapu. Alat yang digunakan sederhana, jala dan ban bekas sebagai pelampung. Dalam sekali jaring, hasil tangkapan bisa lebih dari 10 ekor. Namun saat ini, jumlahnya menurun.
“Paling dikit sekitar 7 kilo. Sekarang paling 8 kilo juga enggak ada,” ujar Ali.
Di lokasi tersebut, sekitar 15 orang terlibat dalam aktivitas ini. Namun keberadaan mereka nyaris tak terlihat oleh publik. “Banyak yang lewat aja, enggak berhenti, jadi orang enggak tahu,” kata Ali.
Telur Jadi Umpan, Daging Dikelola Bos
Selain daging, telur ikan sapu-sapu juga menjadi komoditas tersendiri. “Kalau buat umpan mancing, per kilo Rp 20.000. Kalau yang dari lubang, satuannya bisa seribu telur itu Rp 5.000,” ujar Ali. Menurut dia, telur ikan sapu-sapu hanya diminati untuk umpan ikan tertentu. “Ikan lain enggak suka amis. Lele sama bawal yang cocok,” katanya.
Soal pemanfaatan daging, Ali menyebutkan sebagian besar diolah oleh pengepul. “Ada bosnya yang ngelola. Ada yang buat pakan ikan, pakan ayam,” ujar dia. Ia mengaku heran dengan perdebatan soal ikan sapu-sapu sebagai bahan makanan. “Saya juga heran orang bisa heboh. Dari dulu juga ikan. Di Indonesia kalau nggak pro ya kontra,” kata Ali.
Risiko yang Mengintai
Namun, pekerjaan ini bukan tanpa risiko. Pitri (65), pencari ikan yang sudah dua dekade beraktivitas di Ciliwung, menyebut bahaya selalu mengintai. “Ada buaya juga. Tapi ya bismillah saja,” kata Fitri singkat. Menurut dia, ikan sapu-sapu kini mendominasi Ciliwung. “Ada, tapi ikan lain hampir nggak ada. Kebanyakan ini,” ujar dia.
Dari Sungai Tercemar ke Peredaran Makanan
Rantai pemanfaatan ikan sapu-sapu berlanjut hingga ke gerobak makanan. Di kawasan Stasiun Duren Kalibata, Mamat (bukan nama sebenarnya) (51), pedagang siomay, mengaku menggunakan ikan sapu-sapu sebagai salah satu bahan baku. “Kalau pakai daging ikan sapu-sapu, warnanya memang agak lebih gelap, mirip bakso,” kata Mamat.
Mamat mengakui aroma amis ikan ini lebih kuat. Namun Mamat tidak selalu menggunakan ikan sapu-sapu sepenuhnya tetapi mencampur dengan ikan lain karena harga yang lebih murah. “Ya karena lebih murah. Terus juga kan sama-sama ikan. Enggak beracun juga,” katanya.
Namun perbincangan soal ikan sapu-sapu belakangan berdampak pada penjualan. “Kadang pembeli nanya. Ada yang jadi beli, ada juga yang nggak jadi,” ujar Mamat. “Saya juga nggak pernah dengar ada yang keracunan gara-gara makan siomay ikan ini,” kata dia.
Penjelasan dari Pihak Berwenang
Menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan A. Sidabalok, ikan sapu-sapu dari sungai tercemar tidak dapat dipastikan aman. “Dalam kondisi ini pun masih harus disertai dengan uji laboratorium, baik logam berat maupun mikrobiologi,” ujar Hasudungan.
Ia menegaskan, ikan sapu-sapu dari perairan tercemar berpotensi mengandung arsen, kadmium, timbal, dan merkuri, serta residu bahan kimia lain. “Ikan yang hidup di perairan tercemar juga berpotensi menyerap residu pestisida, mikroplastik, dan bahan kimia limbah,” ujar Hasudungan.
Ia menilai ikan sapu-sapu bukan solusi pencemaran, melainkan penanda sungai yang sakit. “Dominasi ikan sapu-sapu menciptakan ekosistem dengan keanekaragaman rendah,” kata dia. Pemerintah daerah mendorong pemanfaatan ikan sapu-sapu untuk keperluan non-konsumsi. “Alternatifnya bisa digunakan sebagai pakan ternak non-konsumsi atau pupuk,” ujar Hasudungan.
Bagi para pencari ikan di kolong jembatan, perdebatan soal kesehatan dan ekologi terasa jauh. Sungai yang tercemar tetap menjadi ruang hidup sekaligus sumber nafkah, meski risikonya terus mengintai.







