Kenaikan Harga Telur dan Cabai di Kabupaten Kediri
Harga telur ayam ras dan cabai di Kabupaten Kediri mengalami kenaikan, terutama menjelang Bulan Ramadan 1447 Hijriah / 2026. Hal ini diketahui berdasarkan hasil pantauan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Kediri di Pasar Induk Pare. Fluktuasi harga ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti cuaca dan pasokan.
Pantauan pada Sabtu, 7 Februari 2026 menunjukkan bahwa harga telur ayam ras berada di kisaran Rp 28.000 hingga Rp 30.000 per kilogram. Sebelumnya, harga telur masih bertahan di angka Rp 27.000 per kilogram. Kenaikan ini disebabkan oleh meningkatnya permintaan dalam beberapa hari terakhir. Salah satu pedagang telur di Pasar Induk Pare, Dwi, menyampaikan bahwa lonjakan permintaan berasal dari kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyerap pasokan langsung dari pengepul besar.
“Sebelumnya masih di kisaran Rp 27 ribu, sekarang naik di angka Rp 28 ribu sampai Rp 30 ribu. Naiknya karena ada kebutuhan dari MBG yang pakai telur. Mereka langsung ambil ke pengepul, jadi stok di pasaran mulai kurang,” ucap Dwi. Ia menambahkan bahwa kenaikan harga telur sudah berlangsung sekitar empat hari terakhir. Menurutnya, harga berpeluang kembali stabil jika penggunaan telur dalam program MBG berkurang atau pasokan kembali normal.
Perubahan Harga Cabai di Pasar Induk Pare
Selain telur, komoditas cabai juga menjadi perhatian utama. Berdasarkan data Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI) Kabupaten Kediri, harga cabai di Pasar Induk Pare terpantau bervariasi. Beberapa jenis cabai mengalami kenaikan signifikan, sementara yang lain turun.
Untuk cabai merah besar, harga cabai jenis Gada EVO tercatat Rp 23.000 per kilogram, turun Rp 1.000 dari harga normal Rp 24.000. Cabai Imola F1 stabil di harga Rp 22.000 per kilogram, sedangkan cabai Sandi 08 F1 berada di angka Rp 20.000 per kilogram, turun Rp 2.000 dari harga normal.
Sementara itu, cabai merah keriting menunjukkan tren kenaikan ringan. Cabai jenis Boos Tavi F1 dijual seharga Rp 24.000 per kilogram, naik Rp 1.000 dari harga normal, sedangkan Sibad 46 berada di kisaran Rp 22.000 per kilogram atau naik Rp 1.000. Lonjakan paling tajam terjadi pada cabai rawit merah. Cabai rawit merah Brengos 99 tercatat Rp 64.000 per kilogram, disusul Asmoro 043 Rp 63.000, cabai rawit lokal Kediri Rp 61.000, Prento Tumi 99 Rp 59.000, dan Juwita 25 F1 mencapai Rp 57.000 per kilogram. Angka ini melonjak jauh dibandingkan harga normal yang berada di kisaran Rp 23.000 hingga Rp 28.000 per kilogram.
Penyebab Kenaikan Harga Cabai
Ketua APCI Kabupaten Kediri, Suyono, menjelaskan bahwa fluktuasi harga cabai dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang tidak menentu, terutama hujan yang terjadi hampir sepanjang hari hingga malam. “Hari ini harga CRM memang fluktuatif. Ada yang naik tajam karena pasokan dari petani berkurang. Kondisi hujan terus-menerus sampai malam hari membuat produksi terganggu,” jelas Suyono.
Suyono menambahkan bahwa meskipun sebagian pasokan masih tersedia, kualitas dan volume panen tidak maksimal akibat serangan jamur dan kelembapan tinggi di lahan pertanian. Hal ini memperparah kelangkaan pasokan cabai di pasar.
Upaya Pemerintah Daerah dalam Mengendalikan Harga
Di sisi lain, DKPP Kabupaten Kediri memastikan bahwa secara umum ketersediaan bahan pangan strategis menjelang Ramadan hingga Idulfitri masih dalam kondisi aman. Pemantauan harga dan stok terus dilakukan secara rutin bersama Satgas Pangan. Pemerintah daerah juga berkomitmen menjaga harga tetap terkendali dengan menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) serta mengimbau pedagang agar tidak memanfaatkan momentum Ramadan untuk mengambil keuntungan berlebih.
Masyarakat pun diimbau tetap berbelanja secara bijak dan tidak melakukan panic buying. Pemerintah Kabupaten Kediri memastikan stok bahan pokok mencukupi dan distribusi terus berjalan untuk menjaga stabilitas harga di pasaran.
“Dari hasil pengecekan sementara di pasar, harga bahan pokok masih relatif stabil menjelang Ramadan. Untuk saat ini tidak ditemukan lonjakan harga yang signifikan,” tutur Pelaksana Tugas Kepala DKPP Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih.







