Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Iran Ancam Serang Pangkalan Militer AS Usai Kehadiran Pejabat Trump di Kapal Induk

    11 Februari 2026

    Jawaban Informatika Kelas 10 Halaman 133 Kurikulum Merdeka: Scraping

    11 Februari 2026

    Jawaban Terkait Isu Anak Kedua Denada, Manajemen Ambil Langkah Tegas

    11 Februari 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Rabu, 11 Februari 2026
    Trending
    • Iran Ancam Serang Pangkalan Militer AS Usai Kehadiran Pejabat Trump di Kapal Induk
    • Jawaban Informatika Kelas 10 Halaman 133 Kurikulum Merdeka: Scraping
    • Jawaban Terkait Isu Anak Kedua Denada, Manajemen Ambil Langkah Tegas
    • Surabaya Bangun PLTSa Kedua, Sampah Gresik hingga Lamongan Jadi Sumber Listrik
    • Profil dan Biodata Darma Mangkuluhur Hutomo, Pewaris Keluarga Cendana
    • Honda Forza 250 2026: Spesifikasi Mewah dan Harga Terbaru!
    • 3 Berita Terpopuler Sumbar: Leo Guntara ke Arema FC, Gempa Pasaman, dan Produk Unggulan Solok Selatan
    • Jam Pasir MBG
    • Hari Kanker Sedunia: Pentingnya Pola Hidup Sehat di Era Instan
    • Kunci Jawaban PAI Kelas 9 Halaman 140-142: Soal Pilihan Ganda Bab 5
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Hukum»Opini: Bunuh Diri, Simbol Kemiskinan Ekstrem dan Kebijakan Publik yang Lemah

    Opini: Bunuh Diri, Simbol Kemiskinan Ekstrem dan Kebijakan Publik yang Lemah

    adm_imradm_imr11 Februari 20260 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Kasus Bunuh Diri YBR: Ironi di Balik Kekurangan Sosial dan Ekonomi

    Kasus bunuh diri yang dilakukan oleh YBR (10), seorang siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menimbulkan duka mendalam. Tindakan tragis ini terjadi karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar YBR akan buku dan pena. Fakta ini mengungkapkan masalah kemiskinan ekstrem yang melanda keluarga korban. Ibunya adalah orang tua tunggal dengan lima anak tanpa sosok ayah.

    Secara global, kasus bunuh diri menjadi isu serius yang dihadapi berbagai negara, baik berkembang maupun maju. Data terbaru dari Pusiknas Bareskrim Polri mencatat sebanyak 1270 kasus bunuh diri yang ditangani pihak kepolisian sejak Januari hingga November 2025. Namun, data ini belum termasuk kasus terbaru seperti yang terjadi di Kabupaten Ngada.

    Bunuh diri bukan sekadar tindakan individu, tetapi juga fenomena sosial yang menunjukkan adanya gangguan dalam masyarakat. Emile Durkheim, sosiolog Prancis, menyebutnya sebagai indikator patologi masyarakat yang dapat mengganggu stabilitas negara. Menurutnya, bunuh diri mengindikasikan lemahnya integrasi sosial dan krisis regulasi dalam sebuah negara, yang pada akhirnya menyebabkan situasi chaos.

    Jenis-Jenis Bunuh Diridalam Perspektif Durkheim

    Durkheim menjelaskan empat jenis bunuh diri:

    1. Bunuh Diri Egoistis

    Bunuh diri egoistis terjadi ketika ikatan sosial antara individu dan masyarakat melemah. Individu merasa tidak memiliki makna bagi negara dan kehilangan rasa kepedulian terhadap sesama. Hal ini bisa memicu kehilangan landasan moral dan emosional dalam masyarakat.

    2. Bunuh Diri Altruistis

    Bunuh diri altruistis terjadi ketika integrasi sosial sangat kuat. Contohnya adalah aksi bom bunuh diri yang dilakukan untuk keyakinan tertentu. Tindakan ini mengorbankan nyawa orang lain dan membahayakan stabilitas negara.

    3. Bunuh Diri Anomik

    Anomi merujuk pada kekaburan norma dalam hidup seseorang. Kondisi ini diperparah oleh sistem politik absolut, pengangguran, atau depresi ekonomi. Bunuh diri anomik mengancam kepercayaan publik terhadap pemerintah dan bisa membuat masyarakat memilih bunuh diri daripada hidup dalam kesulitan.

    4. Bunuh Diri Fatalistis

    Bunuh diri fatalistis terjadi ketika individu merasa masa depannya tertutup akibat penindasan atau kontrol berlebihan dari sistem sosial. Contoh klasiknya adalah budak yang mengakhiri hidupnya karena putus asa.

    Ironi di Balik Bunuh Diri YBR

    Kasus bunuh diri YBR merupakan contoh bunuh diri anomik, yang dipicu oleh kemiskinan ekstrem. Keluarganya mengalami keterbatasan akses pendidikan, pekerjaan, dan layanan sosial. Banyak rakyat NTT hidup dalam kondisi ekonomi yang kurang sejahtera, sehingga kebutuhan dasar seperti buku tulis dan alat tulis sulit terpenuhi.

    Kemiskinan di NTT bukan hanya soal kekurangan finansial, tetapi juga kurangnya bantuan publik yang tepat sasaran. Program beasiswa dan perlindungan untuk anak sering kali tidak menjangkau keluarga rentan. Justru, bantuan sering diberikan kepada keluarga yang cukup mampu.

    Selain itu, kebijakan pendidikan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) tampaknya tidak sesuai dengan realitas kebutuhan masyarakat NTT. Kebutuhan utama dalam dunia pendidikan di wilayah tersebut lebih berkaitan dengan biaya dan pemenuhan penunjang pembelajaran, bukan semata-mata soal makanan.

    Harapan untuk Perubahan

    Menanggapi kasus YBR, beberapa poin penting perlu diperhatikan:

    • Empati kemanusiaan harus menjadi dasar tindakan. Rasa iba tidak cukup; diperlukan kesadaran kolektif untuk membantu keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi.
    • Kebijakan publik harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Misalnya, bantuan pendidikan lebih prioritas daripada program makanan.
    • Perbaikan ekonomi rakyat menjadi tugas pemerintah. Pembukaan lapangan kerja, pelatihan usaha kecil menengah, serta bantuan modal usaha harus ditingkatkan.

    Dengan langkah-langkah tersebut, potensi masalah sosial seperti yang dialami keluarga YBR bisa diminimalisir.


    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Empat Terpidana Pagar Laut Dipindahkan ke Tangerang

    By adm_imr11 Februari 20260 Views

    8 Fakta Balita Jakarta Dijual ke Merangin, Ibu Banderol 17,5 Juta

    By adm_imr11 Februari 20260 Views

    KPK Tetapkan 14 Anak Buah Menkeu Purbaya sebagai Tersangka Korupsi di Awal 2026

    By adm_imr11 Februari 20260 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Iran Ancam Serang Pangkalan Militer AS Usai Kehadiran Pejabat Trump di Kapal Induk

    11 Februari 2026

    Jawaban Informatika Kelas 10 Halaman 133 Kurikulum Merdeka: Scraping

    11 Februari 2026

    Jawaban Terkait Isu Anak Kedua Denada, Manajemen Ambil Langkah Tegas

    11 Februari 2026

    Surabaya Bangun PLTSa Kedua, Sampah Gresik hingga Lamongan Jadi Sumber Listrik

    11 Februari 2026
    Berita Populer

    Kejari Kabupaten Malang Geledah Kantor Dispora, Dalami Dugaan Penyelewengan Dana Hibah KONI

    Kabupaten Malang 6 Februari 2026

    Kabupaten Malang– Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Malang menggeledah Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten…

    Keluhan Pasien Poli Gigi Puskesmas Arjuno, Kadinkes Kota Malang Beri Penjelasan

    6 Februari 2026

    Kabar Transfer: AC Milan Beralih dari Vlahovic ke Striker Nomor 9

    9 Februari 2026

    Unduh Jadwal Imsakiyah Ramadan 2026, Lengkap Muhammadiyah dan Kemenag

    8 Februari 2026
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?