Produsen Tempe di Madiun Mengeluhkan Kenaikan Harga Kedelai dan Plastik
Harga bahan baku utama untuk produksi tempe, yaitu kedelai dan plastik, mengalami kenaikan yang signifikan. Hal ini membuat produsen tempe di Kota Madiun, khususnya di Kelurahan Manisrejo, Kecamatan Taman, harus beradaptasi agar tetap bisa menjaga kelangsungan usahanya.
Kenaikan Harga Kedelai yang Bertahap
Salah satu produsen tempe, Maria Goreti Gumini, mengungkapkan bahwa harga kedelai mulai naik secara bertahap sejak tiga bulan lalu. Dulu, harga kedelai hanya berkisar antara Rp 900 hingga Rp 950 ribu per kuintal. Namun, saat ini, harga kedelai impor telah mencapai Rp 1.090.000 per kuintal.
“Ada kenaikan harga kedelai walaupun memang lambat sampai saat ini Rp 1.090.000 per kuintal,” ujar Gumini pada Senin (6/4/2026).
Kenaikan harga kedelai tersebut memberi tekanan terhadap ongkos produksi, terlebih karena harga plastik juga mengalami kenaikan yang cukup besar.
Kenaikan Harga Plastik yang Menyentak
Harga plastik untuk bungkus tempe mengalami kenaikan hingga 75 persen. Sebelumnya, Gumini membeli plastik dengan harga Rp 35 ribu per kilogram, namun kini harganya meningkat menjadi Rp 57 ribu per kilogram. Ia membutuhkan setidaknya 3-4 kilogram plastik per hari.
“Jadi naiknya hampir 75 persen. Kenaikannya sejak seminggu yang lalu, setelah lebaran,” tambahnya.
Gumini menduga kenaikan harga plastik disebabkan oleh ketidakstabilan pasokan minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah. Pasalnya, plastik sendiri terbuat dari bahan baku minyak.
Stok Bahan Baku Masih Lancar
Meski harga bahan baku naik, stok kedelai dan plastik tidak mengalami kelangkaan. Hal ini memungkinkan Gumini untuk tetap berbelanja tanpa khawatir kehabisan bahan baku.
Namun, alternatif pengganti kedelai lokal dinilai tidak efektif. Selain lebih mahal, rasa kedelai lokal cenderung pahit. Sementara itu, bungkus daun justru lebih mahal dibandingkan plastik.
Strategi Produksi yang Adaptif
Untuk mengatasi kenaikan harga bahan baku, Gumini memilih untuk mengurangi ukuran tempenya. Ia menyesuaikan ukuran dari 200 gram menjadi 190 gram, serta dari 450 gram menjadi 440 gram. Hal ini dilakukan agar daya beli pelanggan tetap terjaga.
“Ya kita berusaha sedikit mulai mengurangi ukuran dari 200 gram yang harga Rp 3 ribu menjadi 190 gram. Yang 450 gram itu menjadi 440 gram,” ujarnya.
Strategi ini dianggap sebagai solusi win-win, di mana produsen tidak mengalami kerugian besar, sementara masyarakat tetap bisa menikmati tempe.
Kualitas Produk yang Selalu Terjaga
Gumini telah menjalani usaha tempe sejak tahun 1998. Nama usahanya, “Murni”, mencerminkan komitmennya dalam menjaga kualitas produk. Mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses pembuatan, semua dilakukan dengan standar tinggi.
Konsumen yang membeli tempe milik Gumini bervariasi, mulai dari rumah makan, restoran hingga hotel berbintang di Kota Madiun.
“Saya selalu beli kedelai impor yang sudah dalam kondisi bersih. Saat proses pembuatanpun kulit arinya juga harus benar-benar hilang dibersihkan,” ucapnya.
Dengan proses yang teliti, daya tahan tempe miliknya bisa bertahan hingga 3 hari. Ini memungkinkan tempe untuk dibawa keluar kota tanpa mudah rusak.
“Tidak ada campuran bahan lain, hanya tempe yang direbus lalu ditaburi ragi. Kuncinya hanya di proses yang selalu dijaga kebersihannya bersih dan higienis,” pungkasnya.






