Kecintaan Safaluna Putri Jovita pada Dunia Fesyen
Safaluna Putri Jovita, yang akrab dipanggil Safa, adalah seorang anak berusia enam tahun yang memiliki bakat luar biasa di dunia fesyen. Meskipun masih sangat muda, ia telah menunjukkan kemampuannya dalam berbagai ajang kompetisi modeling, baik tingkat kota hingga nasional.
Awalnya, Safa adalah anak yang pemalu dan kurang percaya diri. Namun, ketertarikannya pada dunia modeling membuat perubahan besar dalam kepribadiannya. Dari seorang anak introvert, ia kini menjadi lebih ekstrovert dan percaya diri.
“Saya ingin jadi dokter, tapi hobinya model,” kata Safa dengan suara kecilnya saat ditemui. Keinginan untuk menjadi model datang dari kebiasaannya menonton tayangan ajang kecantikan dan peragaan busana di layar kaca. Dari sana, ia mulai tertarik mengenal dunia fesyen.
Perjalanan Karier Safa
Safa memulai karier modelingnya sejak April 2025, saat masih duduk di TK A. Ia bergabung dengan agensi Posh Model Kids dan mulai menapaki dunia modeling anak. Orang tuanya, Diah Ekarini (34), sangat mendukung langkah ini, meskipun awalnya tidak paham tentang dunia fesyen.
Diah bercerita bagaimana langkah kaki putrinya di atas panggung begitu mempesona. Dari sejumlah kejuaraan yang diikuti, Safa mulai dikenal di berbagai ajang modeling.
Beberapa pencapaian yang diraihnya antara lain:
* Juara Umum Asosiasi Modeling Malang (AMM) 2025
* Runner-up 2 Anak Super Model World International Jatim
* Runner-up 1 Miss Icon Mini Model Indonesia 2026
* Runner-up Wastra Batik Indonesia 2025
* Pemenang ajang modeling di Rayz Hotel UMM
Selain itu, Safa juga beberapa kali tampil dalam pertunjukan fesyen dan pernah menjadi model iklan hotel di Kota Malang.
Peran Orang Tua dalam Mendukung Bakat Safa
Diah tidak hanya mendukung Safa secara moral, tetapi juga aktif belajar tentang dunia modeling. Ia mempelajari teknik catwalk, pemilihan kostum, warna busana, tata rias, hingga memahami selera juri dalam kompetisi.
“Saya ikut belajar bersama anak. Tentang costume, wardrobe, make up, sampai seperti apa selera juri di dunia lomba,” ujarnya. Baginya, kemenangan bukan tujuan utama. Yang terpenting adalah proses tumbuh kembang sang anak.
“Kalah atau menang itu biasa. Yang penting kalau dia suka, tampil harus maksimal. Berlatih terus supaya semakin bagus,” katanya.
Diah berharap putrinya tumbuh menjadi perempuan yang berkelas, percaya diri, dan memiliki nilai diri tinggi, apa pun jalan hidup yang nanti dipilihnya. Sebagai orangtua, dukungan kepada anak sangat penting.
“Kalau memang pilihannya di dunia model, tidak masalah. Yang penting jadi perempuan yang punya high value,” katanya.
Masa Depan Safa
Setiap kali Safa tampil, Diah selalu bangga. Ia melihat anaknya seperti menjadi lebih dewasa daripada anak-anak sebayanya di sekolah. Saat ini, Safa bersekolah di TK B.
Dari panggung kecil di Kota Malang, Safaluna Putri Jovita kini sedang menapaki jalan mimpinya. Langkah mungilnya mungkin baru dimulai, tetapi keberanian yang tumbuh dalam dirinya sedang melangkah jauh ke depan.






