Penjelasan Anggota DPR RI Mengenai Pemadaman Listrik Massal di Sumatra
Anggota Komisi VI DPR RI, Herman Khaeron, menyampaikan bahwa pemadaman listrik massal yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatra disebabkan oleh kendala teknis pada jaringan transmisi. Ia menegaskan bahwa insiden tersebut tidak melibatkan unsur sabotase.
Herman menjelaskan bahwa putusnya kabel transmisi utama berdampak luas karena sistem kelistrikan Sumatra menggunakan jaringan interkoneksi. Hal ini menyebabkan gangguan pada seluruh jalur transmisi yang terhubung.
Meski demikian, ia mengapresiasi peningkatan profesionalisme dan mitigasi yang dilakukan PLN dalam menghadapi berbagai potensi gangguan. Menurutnya, PLN kini semakin mampu mengantisipasi berbagai kemungkinan terjadinya gangguan dalam sistem kelistrikan nasional.
Dampak dari Gangguan Jaringan Transmisi
Gangguan pada kabel transmisi utama dapat memicu ketidakstabilan frekuensi dan tegangan listrik. Hal ini dapat menyebabkan fenomena trip berantai pada sejumlah pembangkit listrik, sehingga jaringan Sumatera terpecah dan kehilangan pasokan daya dalam jumlah besar.
PLN menyebut cuaca ekstrem seperti hujan lebat dan angin kencang sebagai salah satu faktor yang diduga memicu gangguan awal pada jaringan transmisi. Untuk memastikan penyebab kejadian, Bareskrim Polri membentuk tim gabungan bersama Puslabfor Polri, Polda Jambi, dan PLN.
Hasil penyelidikan awal tim gabungan menyimpulkan bahwa belum ditemukan indikasi sabotase maupun unsur pidana dalam insiden tersebut. Wakabareskrim Polri Irjen Nunung Syaifudin menjelaskan pola kerusakan kabel menunjukkan bentuk serabut terurai, bukan potongan rapi yang lazim ditemukan pada tindakan perusakan disengaja.
Percepatan Identifikasi Gangguan pada Jaringan Transmisi
Herman juga menyoroti pentingnya percepatan identifikasi gangguan pada jaringan transmisi agar proses penanganan blackout dapat dilakukan lebih cepat. Ia menyarankan adanya teknologi yang bisa cepat mengidentifikasi di mana terjadinya putusnya kabel transmisi.
Karena itu, ia meminta PLN memperkuat sistem deteksi dini agar gangguan pada jaringan transmisi utama dapat diidentifikasi lebih cepat dan tidak meluas menjadi blackout berskala besar.
Informasi Singkat tentang Blackout di Pulau Sumatera
Pemadaman listrik massal atau blackout yang melanda sebagian besar wilayah Pulau Sumatera terjadi pada Jumat, 22 Mei 2026 sekitar pukul 18.44 WIB. Gangguan ini membuat pasokan listrik di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, hingga sebagian Sumatera Selatan terhenti secara bersamaan.
Berdasarkan hasil identifikasi awal, titik gangguan berasal dari jaringan transmisi SUTET 275 kV jalur Muara Bungo–Sungai Rumbai di wilayah Jambi. PT PLN menjelaskan bahwa sistem kelistrikan Sumatera merupakan jaringan interkoneksi besar yang menghubungkan pembangkit dari wilayah selatan hingga utara.
Poin-Poin Utama Blackout Sumatera 2026
- Terjadi pada 22 Mei 2026 pukul 18.44 WIB dan berdampak pada sebagian besar wilayah Sumatera.
- Sumber gangguan berada di jalur transmisi SUTET 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai di Jambi.
- PLN menyebut cuaca ekstrem menyebabkan gangguan transmisi yang memicu trip pembangkit secara berantai.
- Tim gabungan Polri dan PLN memastikan belum ditemukan unsur sabotase; penyebab sementara mengarah pada faktor teknis dan cuaca.
Komisi VI DPR RI sendiri di antara ruang lingkupnya membidangi dan mengawasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dengan begitu, komisi ini memiliki peran penting dalam memastikan pengelolaan sistem kelistrikan nasional tetap optimal dan aman.






