Kekalahan Persebaya Surabaya yang Menyakitkan
Persebaya Surabaya kembali menjadi sorotan setelah menelan kekalahan 1-2 dari Madura United di kandang sendiri. Meskipun tampil dominan sepanjang pertandingan, terutama di babak kedua, hasil akhir tetap tidak berpihak kepada tim asuhan Bernardo Tavares.
Secara statistik, Persebaya Surabaya menguasai 72 persen penguasaan bola dan mencatatkan 23 tembakan. Namun hanya enam yang tepat sasaran, menunjukkan masalah klasik dalam penyelesaian akhir. Sementara itu, Madura United tampil lebih efektif meski peluang terbatas. Mereka mampu memaksimalkan momen, sesuatu yang justru gagal dilakukan oleh Green Force sepanjang laga.
Pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares, mengakui adanya masalah tersebut. Ia menyatakan bahwa permainan tim sebenarnya sudah berkembang, terutama di babak kedua. Intensitas serangan meningkat dan peluang tercipta, tetapi keberuntungan belum berpihak.
”Di babak kedua saya pikir kami menciptakan banyak peluang dan dinamika permainan yang baik. Tetapi terkadang kami kurang beruntung. Ada tembakan yang diblok, ada yang keluar, atau peluang yang tidak berbuah gol,” ujarnya.
Tavares menilai fenomena ini bukan hal baru dalam sepak bola modern. Dia bahkan menyinggung bagaimana tim besar Eropa pun bisa mengalami situasi serupa. ”Hal seperti ini juga terjadi pada tim-tim besar di Eropa. Mereka bisa menguasai bola dan menciptakan banyak tembakan, tetapi lawan datang satu atau dua kali ke gawang dan langsung mencetak gol. Hari ini Madura melakukan hal itu,” tegasnya.
Angka 666 dalam Statistik Pribadi Tavares
Di tengah sorotan terhadap performa tim, muncul fakta menarik terkait statistik pribadi Bernardo Tavares bersama Persebaya Surabaya. Angka 666 menjadi gambaran unik dari perjalanan pelatih asal Portugal tersebut musim ini.
Sejak bergabung pada 22 Desember 2025, Tavares telah memimpin Persebaya Surabaya dalam 18 pertandingan. Dari jumlah itu, dia mencatatkan enam kemenangan, enam hasil imbang, dan enam kekalahan. Distribusi hasil yang sangat seimbang ini membuat publik menyebutnya sebagai angka keramat 666. Total poin yang dikumpulkan mencapai 24 dengan rata-rata 1,33 poin per pertandingan.
Angka tersebut seolah mencerminkan kondisi tim yang belum benar-benar stabil. Persebaya Surabaya mampu menang, tetapi juga mudah kehilangan poin dalam situasi yang seharusnya bisa diamankan. Keseimbangan statistik ini bisa dilihat sebagai dua sisi. Di satu sisi, tim belum terpuruk karena masih mampu meraih poin secara konsisten, tetapi di sisi lain belum cukup tajam untuk bersaing di papan atas.
Kondisi ini juga selaras dengan performa di lapangan yang sering dominan tetapi kurang efektif. Banyak peluang tercipta, tetapi minim konversi menjadi gol yang menentukan hasil akhir.
Kehilangan di Kandang dan Rencana Ke depan
Tavares sendiri mengakui kekalahan di kandang sangat menyakitkan bagi tim. Ia menilai para pemain sudah bekerja keras, tetapi hasil belum sesuai harapan. ”Kami sangat sedih karena kalah di kandang sendiri. Terlebih lagi karena saya melihat para pemain bekerja sangat keras. Tetapi inilah sepak bola,” ucapnya.
Situasi ini membuat Persebaya Surabaya harus segera berbenah. Terlebih, dua laga tandang berat sudah menanti melawan Malut United dan Arema FC. Tantangan tersebut berpotensi mengubah pola 666 yang selama ini melekat. Jika mampu meraih hasil positif, distribusi angka itu bisa berubah menjadi momentum kebangkitan.
Sebaliknya, jika inkonsistensi berlanjut, angka tersebut justru bisa menjadi simbol stagnasi performa tim. Hal ini tentu menjadi perhatian serius bagi tim pelatih dan manajemen.
Masalah Cedera dan Strategi yang Terbatas
Selain faktor efektivitas, kondisi skuad juga menjadi perhatian. Beberapa pemain mengalami cedera yang membuat pilihan strategi menjadi terbatas. ”Kami berharap tim medis bisa membantu memulihkan beberapa pemain agar kami memiliki lebih banyak pilihan. Saat ini saya masih harus melihat siapa saja yang tersedia,” tandas Bernardo Tavares.
Kini, publik menanti apakah angka 666 ini hanya kebetulan statistik atau gambaran nyata inkonsistensi Persebaya Surabaya. Jawabannya akan terlihat dalam beberapa pertandingan ke depan yang menjadi ujian sesungguhnya bagi Tavares. Yang jelas, Green Force masih memiliki peluang untuk memperbaiki keadaan. Dengan efektivitas yang lebih baik, dominasi permainan bisa berubah menjadi kemenangan nyata.







