Perdebatan Viral di Bola Liar Kompas TV: Kritik terhadap Penunjukan Kepala BGN
Perdebatan antara eks Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, dan Jubir Partai Gerindra, Astrio Feligent, dalam program Bola Liar Kompas TV viral di media sosial. Perdebatan ini berfokus pada penunjukan Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Video potongan tersebut menarik perhatian publik dan memicu diskusi luas mengenai kualifikasi dan kompetensi pejabat pemerintah.
Kritik Terhadap Penunjukan Nanik Sudaryati Deyang
Tiyo Ardianto mengkritik pengangkatan Nanik karena dinilai lebih mengedepankan loyalitas politik daripada kompetensi. Ia menyoroti latar belakang Nanik sebagai wartawan dan mantan tim sukses Prabowo sebelum menjabat di BGN. Menurut Tiyo, rekam jejak Nanik menunjukkan pola promosi jabatan yang lebih mengutamakan loyalitas daripada kemampuan teknis.
Ia menegaskan bahwa syarat menjadi pejabat harus didasarkan pada kompetensi dan moralitas. Namun, menurut Tiyo, di bawah kepemimpinan Prabowo, kompetensi dan moralitas tidak menjadi prioritas utama. “Di jamannya Pak Prabowo, kompetensinya enggak ada, moralitasnya tidak ada, yang penting loyalitasnya,” ujarnya.
Tiyo juga mempertanyakan kompetensi Nanik untuk memimpin BGN. Ia menyebutkan bahwa Nanik awalnya bekerja sebagai wartawan, kemudian menjadi tim sukses Prabowo pada Pilpres 2019, lalu menjabat Wakil Kepala BGN sebelum akhirnya dipercaya memimpin lembaga tersebut.
Tanggapan dari Astrio Feligent
Astrio Feligent menanggapi kritik Tiyo dengan mempertanyakan apakah profesi wartawan otomatis membuat seseorang dianggap tidak kompeten. “Jadi menurut Mas kalau wartawan itu tidak kompeten?” tanya Astrio.
Tiyo langsung menjawab, “Apa hubungannya wartawan dengan pengelolaan gizi anak-anak, Mas Trio? Silakan dijawab.” Ia menegaskan bahwa profesionalisme dalam menjalankan program BGN tidak harus berasal dari latar belakang ahli gizi. “Yang diperlukan adalah bagaimana menjalankan program yang tepat sasaran, memanage supply chain-nya, mengelola tata kelola program,” jawab Astrio.
Namun, Tiyo tetap pada pendiriannya. “Apa yang saya sampaikan bahwa kompetensi dan morality tidak diperlukan. Yang diperlukan adalah loyalitas,” ujarnya.
Profil Astrio Feligent
Astrio Feligent memiliki latar belakang kuat di dunia debat sejak masa kuliah. Saat menempuh pendidikan di BINUS International, ia tergabung dalam BINUS International Pool of English Debaters (BIPEDS) dan menorehkan sejumlah prestasi dalam kompetisi debat tingkat nasional.
Kemampuan argumentasi dan komunikasi publik yang diasah melalui berbagai ajang debat tersebut menjadi bekal penting dalam kiprahnya di dunia komunikasi politik saat ini.
Pada 2011, Astrio mendapat kesempatan mewakili Indonesia dalam ajang One Young World 2011. Konferensi pemuda dunia tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dunia seperti Desmond Tutu, Bob Geldof, dan Muhammad Yunus. Astrio mengungkapkan antusiasmenya untuk tampil dalam forum internasional tersebut. “Tidak sabar untuk menyuarakan Indonesia di One Young World! Mari kita buktikan bahwa anak muda mampu menggerakan dunia,” tulisnya saat itu.
Reaksi Publik dan Tantangan ke Depan
Perdebatan ini mencerminkan perbedaan pandangan tentang kualifikasi dan kompetensi pejabat pemerintah. Masyarakat mulai memperhatikan lebih teliti terhadap proses pengangkatan pejabat dan kinerja mereka. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Tiyo Ardianto menjadi topik hangat di media sosial dan ruang diskusi publik.
Dalam konteks yang lebih luas, isu loyalitas politik versus kompetensi sering kali menjadi titik temu antara kritik terhadap sistem pemerintahan. Bagaimana cara menyeimbangkan kedua aspek ini akan menjadi tantangan bagi pemerintah dan partai politik di masa depan.






