Isu Merokok Saat Berkendara Menjadi Perhatian Masyarakat
Kebiasaan merokok saat berkendara semakin menjadi perhatian masyarakat. Semakin banyak keluhan yang disampaikan, baik dari sisi kenyamanan maupun keselamatan lalu lintas. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku tersebut tidak lagi dianggap sepele, melainkan isu penting yang memerlukan perhatian serius.
Portal Informasi Pengendalian Tembakau Indonesia, ProTC.id, mengambil inisiatif dengan menyelenggarakan forum diskusi publik. Forum ini bertujuan untuk membahas isu merokok saat berkendara secara jernih dan proporsional. Dalam diskusi ini, berbagai data, pengalaman lapangan, serta rujukan kebijakan dipresentasikan agar masyarakat dapat memahami masalah ini secara lebih mendalam.
Beberapa poin penting yang dibahas dalam forum ini antara lain:
- Pengganggu kenyamanan dan risiko kecelakaan: Merokok saat berkendara dinilai mengganggu kenyamanan pengguna jalan lain. Selain itu, kebiasaan ini meningkatkan risiko kecelakaan karena mengurangi konsentrasi pengemudi.
- Hak atas rasa aman: Setiap pengguna jalan memiliki hak untuk merasa aman di ruang publik. Oleh karena itu, tindakan yang membahayakan keselamatan orang lain harus diperhatikan.
- Tuntutan hukum: Beberapa warga telah mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi terkait dugaan pelanggaran hak keselamatan berkendara. Gugatan ini berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), khususnya Pasal 106 ayat (1) dan Pasal 283.
Dalam diskusi ini, ProTC.id juga menghadirkan suara-suara warga yang aktif mengedukasi keselamatan lalu lintas. Salah satu tokoh yang hadir adalah Bariqi (@pak_polisi_konoha), seorang polisi sekaligus konten kreator. Ia menekankan bahwa merokok saat berkendara membawa risiko nyata bagi keselamatan.
“Merokok saat berkendara mengganggu konsentrasi dan membahayakan pengguna jalan lain. Di era no viral, no justice, imbauan saja tidak cukup. Diperlukan sanksi tegas, termasuk sanksi sosial, demi melindungi hak masyarakat atas keselamatan di jalan raya,” ujarnya.
Selain Bariqi, Evaldy Mulya Putra (@mintadisundut), seorang konten kreator yang fokus pada edukasi keselamatan lalu lintas, juga memberikan pandangan serupa. Ia menyoroti bahwa banyak warga yang merasa terganggu oleh pengendara yang merokok di jalan.
“Bagi mereka, merokok saat berkendara bukanlah perilaku yang normal, melainkan tindakan yang mengganggu konsentrasi, membahayakan keselamatan, dan melanggar hak orang lain atas rasa aman. Keselamatan berkendara seharusnya menjadi kepentingan bersama,” katanya.
Isu ini juga didiskusikan dari sudut pandang korban langsung. Muhammad Reihan Alfariziq, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi terkait Pasal 106 UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Ia menegaskan bahwa persoalan ini menyentuh hak dasar warga negara.
“Ada hak konstitusional masyarakat yang dilanggar ketika perilaku merokok saat berkendara dibiarkan dan membahayakan orang lain. Yang kami harapkan, undang-undang ini ditafsirkan secara utuh, tidak ambigu, sehingga memiliki kepastian hukum,” ujarnya.
Forum diskusi publik ini diharapkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat partisipasi masyarakat serta mendorong perhatian yang lebih luas terhadap pentingnya perlindungan keselamatan berkendara dan pengendalian tembakau di Indonesia. Dengan adanya diskusi seperti ini, diharapkan masyarakat lebih sadar akan risiko merokok saat berkendara dan bersama-sama menjaga keselamatan di jalan raya.







