Kronologi Damkar Berau ‘Panen’ 6 Ular Hijau di AC Rumah Warga Teluk Bayur
Kronologi yang mengejutkan terjadi di Kampung Labanan Makmur, Kecamatan Teluk Bayur, Kabupaten Berau. Petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Berau berhasil mengevakuasi enam ekor ular hijau dari dalam sebuah Air Conditioner (AC) di rumah warga. Peristiwa ini berawal saat Laely, pemilik rumah, menghubungi Pos Damkar Labanan karena melihat adanya ular hijau bersembunyi di dalam AC.
Awalnya, petugas hanya menyangka akan mengevakuasi satu ekor ular sesuai laporan warga. Namun, ketika mereka tiba di lokasi dan mulai memeriksa AC, kejutan besar menanti. Saat casing pembungkus AC dibuka perlahan, para petugas menemukan enam ekor ular hijau yang saling bertumpuk di celah sempit bagian belakang mesin AC.
Komandan Pos Damkar Labanan, Dwi Susilo, menjelaskan bahwa operasi tersebut berjalan dengan hati-hati karena setiap kali satu ekor ular ditarik keluar, ular lain di sebelahnya ikut terusik. Akhirnya, keenam ekor ular berhasil dievakuasi dengan aman. Meski jenis ular hijau daun memiliki bisa rendah, Dwi tetap mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap remeh semua ular berwarna hijau.
Ia juga menyarankan agar warga tidak mencoba menjadi pawang dadakan ketika menemukan ular di rumah. Menurutnya, hal itu bisa berisiko tinggi dan berujung pada cedera serius. Selain itu, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa AC bukan hanya tempat mengeluarkan udara dingin, tapi juga bisa menjadi hunian bagi ular.
Pasar Pagi Samarinda Masih Sepi Pembeli, Pemkot Evaluasi Sistem Parkir dan Pedagang
Pasar Pagi Samarinda masih menghadapi tantangan dalam hal antusiasme masyarakat. Meskipun pasar ini memiliki delapan lantai termasuk rooftop, jumlah pembeli dinilai jauh dari harapan. Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, menyatakan bahwa pihaknya sedang menelisik berbagai strategi untuk meningkatkan jumlah pengunjung.
Salah satu fokus utama adalah evaluasi sistem parkir yang dianggap perlu dikaji ulang. Marnabas menjelaskan bahwa selain soal parkir, sebagian pedagang juga belum sepenuhnya menempati lapak yang tersedia. Dinas Perdagangan telah mendapat instruksi untuk menangani hal tersebut.
Menurutnya, optimalisasi keterisian kios dan lapak menjadi faktor penting untuk menciptakan suasana pasar yang lebih hidup dan menarik. Ia juga menyinggung tentang penurunan daya beli masyarakat dan maraknya belanja daring yang kian menggerus pasar konvensional. Meski begitu, ia menekankan bahwa pemerintah harus bisa bersaing dengan cara yang lebih efektif.
Marnabas juga mendorong para pedagang untuk lebih kreatif dalam menarik minat pembeli. Ia mencontohkan bagaimana pelaku usaha di sektor lain, termasuk fashion, terus berinovasi menyesuaikan selera pasar demi mendatangkan keuntungan.
Hunian Hotel di Samarinda Lesu
Sektor perhotelan di Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), tengah menghadapi tantangan berat sepanjang paruh pertama tahun 2026. Tingkat hunian (occupancy rate) kamar hotel diakui pelaku usaha mengalami penurunan signifikan yang berdampak langsung pada stabilitas operasional manajemen.
Ketua Badan Pengurus Cabang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPC PHRI) Samarinda, Lenny Marlina, mengungkapkan bahwa situasi sulit ini tidak hanya dirasakan di Kaltim, melainkan merata di hampir seluruh wilayah Indonesia. Ia menyoroti bahwa instansi pemerintahan yang biasanya menjadi pangsa pasar utama industri perhotelan kini lebih memilih memaksimalkan fasilitas internal kantor untuk menggelar acara demi menekan pengeluaran.
Lenny juga menyampaikan bahwa lesunya okupansi hotel berdampak pada pendapatan daerah melalui pajak perhotelan. Sebagai solusi jangka panjang, PHRI Samarinda berharap pemerintah daerah dan pusat lebih agresif serta merata dalam menarik atau menyelenggarakan event-event berskala nasional ke Kota Samarinda guna merangsang kembali gairah industri pariwisata dan perhotelan lokal.







