Penyelidikan Terhadap Kebohongan Suderajat
Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, mengungkapkan keheranannya ketika mengetahui bahwa uang bantuan yang diberikannya kepada pedagang es kue Suderajat tidak digunakan untuk usaha, melainkan untuk menikahkan anaknya. Uang tersebut sebelumnya diberikan dengan tujuan untuk melunasi utang dan membiayai kebutuhan sehari-hari seperti yang dikeluhkan oleh Suderajat.
Rasa simpati terhadap Suderajat berawal dari fitnah yang dilakukan oleh oknum TNI dan polisi yang menuduhnya menggunakan bahan spons dalam es kue gabus yang dijualnya. Akibatnya, Suderajat menerima banyak bantuan berupa uang puluhan juta, renovasi rumah, motor, hingga umroh gratis. Termasuk Dedi Mulyadi memberikan uang sebesar Rp 15 juta, dengan rincian Rp 10 juta untuk kontrakan dan bayar utang serta Rp 5 juta untuk modal usaha.
Namun, ternyata uang yang diberikan tidak digunakan untuk modal usaha, melainkan digunakan untuk menikahkan anak Suderajat. Ketua RW menyebut bahwa sebenarnya Andi, anak Suderajat, disarankan untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat. Namun, Suderajat justru ingin menggunakan uang Rp 5 juta dari Dedi Mulyadi untuk pesta pernikahan anaknya.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa uang tersebut diberikan sebagai bekal bagi dirinya, bukan untuk anak. Ia menyarankan agar uang itu digunakan untuk membuka usaha baru, seperti menjual es kue atau bahkan menjadi gojek.
Indikasi Disabilitas pada Suderajat dan Istrinya
Sebelumnya, Suderajat bertemu dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Dalam pertemuan tersebut, Suderajat disebut banyak berbohong soal bantuan dan tempat tinggalnya yang mengaku ngontrak namun ternyata memiliki rumah sendiri.
Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, menegaskan bahwa Suderajat tinggal di kontrakan bukan karena tidak memiliki rumah, melainkan karena rumahnya sedang direhabilitasi melalui program bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). Selama proses pembangunan berlangsung, Suderajat diungsikan sementara ke kontrakan.
Menurut Tenny, hasil asesmen lintas instansi menemukan indikasi disabilitas pada Suderajat dan istrinya. Kondisi ini diduga berkaitan dengan gangguan mental pascatrauma, sehingga kemampuan komunikasi verbal keduanya cukup terbatas. Ia juga menyebut bahwa kondisi istri Suderajat lebih parah.
Kebohongan Suderajat
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti sikap pedagang es gabus, Ajat Suderajat, yang sempat viral setelah dituduh menjual es berbahan spons. Dedi mengungkap tiga pernyataan Suderajat yang dinilai tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Bohong soal pendidikan anak: Suderajat sebelumnya menyebut anaknya bersekolah di SD negeri. Namun, menurut Dedi, sekolah anak Suderajat ternyata sekolah swasta. Ia pun berencana akan mengecek ke pemerintah Kabupaten Bogor jika memang masih dimintai iuran oleh pihak sekolah.
Bohong soal status rumah: Suderajat sebelumnya mengaku mengontrak rumah selama bertahun-tahun. Namun, pengakuan Suderajat dibantah oleh Ketua RW setempat. “Sebenarnya orang tuanya (Suderajat) beliin rumah tahun 2007,” kata Ketua RW.
Penganiayaan oleh Oknum Aparat
Suderajat mengungkapkan, kejadian itu bermula saat ada seorang bocah yang membeli dagangannya. Bapaknya polisi, saya belum tahu. Dibejek-bejek, es kuenya saya. Terus es kue saya dilempar ke muka saya. Saya ditendang, dikepret, ditonjok.
Akibat penganiayaan yang dialaminya, Suderajat terluka pada sejumlah bagian tubuhnya seperti di area wajah, bahu, dan kaki kanannya. Meski begitu, Suderajat hanya bisa pasrah dan berharap kejadian ini mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT.
Viral di Medsos
Aiptu Ikhwan dan Heri viral di media sosial karena memberikan keterangan soal es gabus yang dijual Suderajay tanpa melakukan verifikasi. Video lalu menunjukkan Heri sedang menginterogasi Suderajat.
Permintaan Maaf dari Polisi dan TNI
Setelah kejadian, Bhabinkamtibmas Aiptu Ikhwan Mulyadi dan Babinsa Serda Heri Purnomo akhirnya menemui langsung pedagang es gabus, Suderajat di mushala, Bojonggede, Bogor. Dalam pertemuan itu, Aiptu Ikhwan dan Serda Heri meminta maaf kepada Suderajat usai menuduh es gabus memakai spons dan menganiaya di Kemayoran, Jakarta, Sabtu (24/1/2026).
Bantuan dari TNI
TNI melalui Kodim 0501/Jakarta Pusat memberikan bantuan berupa satu unit kulkas, satu dispenser, dan satu kasur springbed untuk mendukung usaha Suderajat dan kenyamanan keluarganya.
Berakhir Damai
Setelah pertemuan tersebut, kini Suderajat mengaku telah memaafkan oknum yang terlibat dan menganggap peristiwa yang dialaminya sebagai musibah. Ia tidak memiliki keinginan agar para oknum yang terlibat diproses secara hukum atau dijatuhi sanksi lebih tegas.







