Fakta di Balik Kecelakaan Pelajar di Cirebon
Sebuah kejadian yang awalnya menimbulkan spekulasi dan viral di media sosial ternyata memiliki cerita yang berbeda dari apa yang diberitakan. Dua pelajar yang terluka di depan SMP Negeri 8 Kota Cirebon tidak mengalami luka akibat penyerangan atau pembacokan, melainkan akibat kecelakaan saat mereka panik membubarkan diri.
Peristiwa ini terjadi di Jalur Pantura, tepatnya di Jalan Ahmad Yani By Pass, dekat kantor BBWS Cimanuk Cisanggarung, pada Jumat (10/4/2026). Kapolsek Cirebon Selatan Timur, AKP Juntar Hutasoit, menjelaskan bahwa informasi yang beredar tentang adanya penyerangan menggunakan bambu panjang adalah tidak benar.
“Memang ada dugaan akan terjadi tawuran pelajar, namun saat dibubarkan warga, para pelajar langsung melarikan diri. Tidak ada penyerangan atau kekerasan yang menyebabkan luka,” ujar Juntar saat dikonfirmasi media, Jumat malam.
Identitas Korban dan Penanganan Medis
Dua pelajar yang terluka masing-masing adalah Mikail Benjema (13), siswa MTs Annur, dan Rizki Ramadhan (13), siswa SMP Negeri 6 Kota Cirebon. Keduanya langsung dilarikan ke RS Gunung Jati untuk mendapatkan penanganan medis.
Berdasarkan keterangan saksi di lokasi, insiden bermula saat sejumlah pelajar diduga hendak tawuran. Warga yang melintas kemudian berinisiatif membubarkan kerumunan tersebut. Salah satu saksi, bernama Wim Sugianto, melihat langsung situasi tersebut dan bersama warga lainnya segera bertindak.
“Menurut saksi, ia lihat ada keributan seperti mau tawuran, lalu dia dan warga langsung membubarkan. Anak-anak itu langsung kabur semua,” ucapnya.
Kepanikan saat dibubarkan warga menjadi pemicu kecelakaan. Salah satu pelajar yang berusaha melarikan diri diduga bersenggolan dengan rekannya hingga terjatuh dari sepeda motor.
Keterangan Saksi dan Petugas Keamanan
Saksi lain, bernama Andi Teni Putri yang berada di sekitar lokasi, juga mengaku tidak melihat adanya aksi kekerasan seperti yang ramai dibicarakan.
“Saksi lain sempat teriak supaya bubar. Mereka panik dan lari, terus ada yang jatuh dari motor. Tidak ada yang saling serang,” jelas dia.
Hal serupa juga disampaikan Rizky Kurniawan, petugas keamanan di sekitar lokasi. Dirinya membenarkan adanya kerumunan pelajar, namun luka yang terjadi murni akibat kecelakaan.
“Memang ada anak yang jatuh dan terluka, tapi itu karena kecelakaan saat mereka bubar, bukan karena dipukul atau diserang,” kata dia.
Hasil Pemeriksaan Medis
Hasil pemeriksaan medis di RS Gunung Jati pun memperkuat keterangan para saksi. Polisi memastikan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
“Dari hasil pemeriksaan tenaga medis, luka yang dialami korban merupakan akibat terjatuh dari sepeda motor. Tidak ditemukan luka akibat benda tajam atau benda tumpul,” ujarnya.
Adapun luka yang dialami Mikail berupa lecet di bagian wajah, siku dan lutut. Sementara Rizki mengalami luka robek di bagian mulut hingga menyebabkan gigi bagian atas rontok, serta lecet di kaki.
Saat ini, kedua korban masih menjalani perawatan di RS Gunung Jati dan didampingi oleh orang tua masing-masing.
Imbauan Polisi
Juntar pun mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama yang beredar di media sosial dan pesan berantai.
“Informasi yang menyebut ada penyerangan dengan bambu tidak benar. Kami harap masyarakat tidak langsung percaya dan tetap menunggu keterangan resmi,” ucap Juntar.







