Penayangan Perdana Film Mantagi di Jambi
Sutradara Taufik Hidayat Rusti memperkenalkan film panjang fiksi berjudul Mantagi dalam penayangan perdananya bersama awak media. Film yang berdurasi sekitar 90 menit ini menghadirkan konsep antologi yang unik, dengan lima cerita yang saling terhubung menjadi satu kesatuan utuh.
Menurut Taufik, konsep antologi dalam Mantagi membuat setiap babak memiliki tokoh dan konflik berbeda, namun tetap terjalin melalui satu benang merah. Ia menjelaskan bahwa setiap cerita berdiri sendiri, tapi saling menjahit satu sama lain seperti aliran Sungai Batanghari yang mengalir dari hulu hingga hilir.
Film ini diambil latar di sejumlah wilayah yang dilintasi Sungai Batanghari, mulai dari Gunung Tujuh, Kerinci, Desa Lubuk Nagodang (Kerinci), Desa Air Batu (Merangin), kawasan Candi Muaro Jambi, hingga Desa Teluk Majelis, Tanjung Jabung Timur. Pemilihan lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Selain pernah ia kunjungi secara personal, daerah-daerah itu mewakili karakter geografis dan budaya Melayu Jambi dari pegunungan hingga pesisir.
Taufik menjelaskan bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik yang berbeda, termasuk bahasa, kebiasaan masyarakat, dan lanskapnya. Ia ingin menangkap semua aspek tersebut dalam film ini.
Tema Utama: Hubungan Manusia dan Air
Tema utama film ini adalah hubungan manusia dan air. Taufik menyebut air bukan sekadar unsur alam, melainkan memiliki dimensi spiritual dan kultural yang kuat dalam kehidupan masyarakat. Ia menyinggung bagaimana air hadir dalam berbagai ritual keagamaan dan tradisi, serta bagaimana manusia modern mulai menjauh dari kesadaran menjaga alam.
“Air bukan penyebab bencana. Yang terjadi seringkali karena ulah manusia sendiri. Dalam tubuh kita pun sebagian besar adalah air. Kalau airnya baik, manusianya juga baik,” katanya.
Judul Mantagi sendiri diambil dari istilah lama yang menurut Taufik dikenal di berbagai wilayah Nusantara. Ia memaknai mantagi sebagai kesadaran atau budi pekerti yang ada dalam diri manusia, namun kini mulai pudar. Ia menekankan bahwa film ini tidak menghardik atau menghakimi siapa pun, hanya mencoba memberi ruang refleksi dan gagasan tentang apa yang terjadi pada lingkungan kita.
Proses Produksi Film Mantagi
Proses produksi film diawali dengan forum diskusi (FGD) bersama berbagai narasumber lintas disiplin, kemudian dilanjutkan workshop selama tiga hari di kawasan Candi Muaro Jambi. Setelah itu, proses syuting berlangsung selama satu bulan penuh.
Film ini melibatkan kru dari berbagai daerah seperti Medan, Bengkulu, Palembang, Yogyakarta, dan Jakarta, serta didominasi talenta lokal Jambi hingga kru setempat di tiap lokasi syuting. Menurut Taufik, peran kru lokal sangat penting, terutama karena sebagian besar set film memanfaatkan alam terbuka yang memiliki risiko tersendiri.
“Kita tidak bisa melawan alam. Kita patuh pada alam. Kru lokal yang paling tahu kondisi wilayahnya, itu yang jadi batasan dan pengaman bagi kami,” ungkapnya.
Ia juga menyebut produksi film ini menjadi ruang transfer pengetahuan antara sineas luar daerah dan komunitas film Jambi.
Harapan untuk Perkembangan Filmmaking di Jambi
Taufik berharap Mantagi menjadi tonggak baru bagi perkembangan perfilman di Jambi. Ia optimistis sineas Sumatera mampu memproduksi film panjang secara serius dan profesional. “Tidak ada karya yang sempurna, bahkan Hollywood pun tidak. Tapi ini sudah maksimal kemampuan kami saat ini. Saya bangga dengan film ini,” ujarnya.
Melalui pendekatan visual yang spiritual dan penuh simbol, Taufik berharap penonton tetap memikirkan film ini bahkan setelah keluar dari bioskop. “Saya tidak ingin menggurui. Penonton itu lebih pintar dari pembuat film. Saya hanya memberi ruang kosong untuk didiskusikan,” tuturnya.







