Kakek Sutaji dan Perjuangan untuk Menunaikan Ibadah Haji
Ketekunan kakek Sutaji (66) telah membawanya menuju pelaksanaan Ibadah Haji 2026. Sebagai warga Dusun Budug, Desa Tugusumberjo, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, ia menjalani kehidupan sehari-hari dengan menjadi penjual kerupuk. Setiap hari, ia menyisihkan penghasilannya untuk menabung demi menunaikan impian besar yang selama ini ia idamkan.
Sutaji dan istrinya, Siti Hana (62), akan berangkat haji bersama. Ia hanya meminta restu dari teman-teman sesama pedagang. Bagi Sutaji, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Impiannya untuk menunaikan ibadah haji sudah tumbuh sejak awal pernikahannya.
Rutinitas Harian yang Penuh Ketenangan
Setiap pagi, kakek Sutaji bersiap dengan sepeda ontel tuanya untuk keliling jualan kerupuk ke warung-warung. Usai menunaikan salat subuh berjamaah, ia membawa kerupuk dalam dua keranjang besar yang ditempatkan di belakang sepeda ontelnya. Sudah puluhan tahun, Sutaji menggeluti kegiatan sebagai penjual kerupuk keliling.
Dari kegiatan sehari-harinya, ia menancapkan jejak perjuangannya menuju tanah suci. Sejak 1970, ia menjajakan kerupuk dengan cara sederhana, berkeliling kampung, mendatangi warung demi warung. Tak ada etalase mewah, tak pula kendaraan bermotor. Hanya sepeda pancal dan ketekunan yang tak pernah putus.
Lahir di Desa Sawiji, Kecamatan Jogoroto, Sutaji muda berjualan kerupuk sejak belum berkeluarga. Pada awal 1980-an, ia menikahi Siti Hana (62), perempuan asal Budug yang sampai hari ini masih setia mendampinginya.
Impian Besar untuk Menunaikan Ibadah Haji
Sejak itulah satu impian besar tumbuh diam-diam di hati mereka, yaitu menunaikan ibadah haji. “Sejak awal menikah, saya sudah berniat. Kalau Allah kasih rezeki, ingin sekali ke Tanah Suci,” ucap Sutaji saat ditemui di rumahnya di Dusun Budug.
Rutinitasnya nyaris tak berubah dari tahun ke tahun. Kerupuk ia ambil dari sebuah pabrik di wilayah Senden, Peterongan tempat juragannya. Sekitar pukul 06.00 WIB pagi, ia mulai menyusuri daerah Mancar, Kecamatan Peterongan hingga Mojongapit, Kecamatan Jombang. Lima kilogram kerupuk biasanya habis dalam waktu satu jam.
“Setiap hari itu saya keliling 5 kilogram kerupuk setiap hari,” ujarnya melanjutkan.
Menyisihkan Penghasilan Setiap Hari
Pada era 1980-an, penghasilannya hanya sekitar seribu rupiah per hari. Namun dari jumlah yang kala itu tergolong besar, Sutaji disiplin menyisihkan dua ratus rupiah untuk ditabung. Uang itu bukan untuk membeli barang, melainkan untuk menyimpan harapan.
Waktu berjalan, zaman berubah. Kini, di tahun 2026, hasil jualannya setiap hari mencapai sekitar seratus ribu rupiah per hari. Separuhnya ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sisanya kembali masuk tabungan dengan niat yang sama seperti puluhan tahun lalu.
“Yang penting itu niat dan bisa menahan diri. Jangan boros. Kebutuhan yang utama, sisanya ditabung,” ungkapnya.
Masuk CJH yang Berangkat Tahun 2026
Kesabaran panjang itu akhirnya berbuah. Pada 2012, sang istri lebih dulu mendaftar haji. Sutaji menyusul tujuh tahun kemudian, tepatnya tahun 2019, setelah kembali mengumpulkan biaya dari hasil kayuhan sepedanya. Kini, pasangan suami istri itu tercatat sebagai calon jemaah haji dan dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada tahun 2026.
Meminta Restu pada Rekan-rekannya
Menariknya, Sutaji tak pernah mengumbar mimpi besarnya kepada banyak orang. Ia memilih menyimpannya dalam doa dan kerja keras. Kepada teman-teman sesama pedagang, ia hanya meminta restu. “Teman-teman saya cuma bilang, semoga lancar berangkat dan pulang. Itu sudah cukup,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Bagi Sutaji, kisah hidupnya bukan untuk dibanggakan, melainkan sebagai pengingat. Bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. “Saya hanya bisa mendoakan yang lain. Siapa pun yang punya niat baik, semoga Allah SWT mudahkan jalannya,” pungkas Sutaji.







