Kasus Suami di Sleman yang Jadi Tersangka Usai Mengejar Jambret, Kini Dimediasi untuk Jalan Damai
Pada kasus yang terjadi di Sleman, seorang suami akhirnya ditetapkan sebagai tersangka setelah mengejar dua pelaku jambret demi melindungi istrinya. Peristiwa ini kini sedang dimediasi dalam upaya mencari jalan damai atau keadilan restoratif.
Komunikasi dengan Keluarga Pelaku Jambret
Arista, istri dari Hogi Minaya, mengaku telah diundang oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Sleman dan difasilitasi untuk berkomunikasi dengan keluarga pelaku jambret. Mediasi dilakukan pada hari Sabtu (24/1/2026) siang. Dalam pertemuan tersebut, Arista menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga penjambret yang meninggal dunia.
“Intinya, kejadian pada saat itu di luar kendali kami semua. Tadi (saat proses mediasi) saya menyampaikan itu ke keluarganya (penjambret yang meninggal dunia). Saya juga telah menyampaikan minta maaf,” ujarnya.
Kronologi Penjambretan
Peristiwa penjambretan yang berujung pada tersangka bagi korban terjadi pada hari Sabtu, 26 April 2025. Saat itu, Arista bersama sang suami, Hogi Minaya, sedang berkendara di Jalan Jogja-Solo di wilayah Maguwoharjo, Depok. Arista mengendarai sepeda motor sementara suaminya mengemudikan mobil. Mereka berkendara beriringan setelah menyelesaikan tugas masing-masing mengambil jajanan pasar di Pasar Pathuk dan Berbah.
Tas bawaan Arista dijambret oleh dua orang yang datang dari sebelah kiri. Ia spontan berteriak jambret. Sang suami yang mengemudikan mobil di sisi kanan langsung mengejar sepeda motor jambret dan memepetnya dengan harapan berhenti. Namun pelaku tetap tancap gas. Akibatnya, dua penjambret menabrak tembok di pinggir jalan dan dinyatakan meninggal dunia.
Proses Hukum dan Tahanan Luar
Setelah kejadian, Arista bersama suaminya mengikuti proses hukum di Kepolisian. Mereka kooperatif dan berharap kasusnya segera selesai karena membela diri. Namun, sang suami justru ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara yang ditangani Satlantas Polresta Sleman. Hogi disangka dengan pelanggaran UU lalu lintas.
Berkas perkara berikut tersangka telah dilimpahkan dari Kepolisian ke Kejaksaan atau tahap dua. Hogi sempat hendak ditahan, namun Arista pasang badan sebagai penjamin sehingga penahanan ditangguhkan. Sebagai gantinya, Hogi menjadi tahanan luar dengan kaki dipasang GPS.
Mediasi dan Permintaan Maaf
Arista menjelaskan bahwa saat diundang oleh Kejaksaan Negeri Sleman, ia ditanya apakah sudah pernah berkomunikasi dengan keluarga korban. Ia mengaku belum pernah karena tidak memiliki akses nomor ke sana. Akhirnya, oleh Kejaksaan Negeri Sleman difasilitasi mediasi menelpon keluarga penjambret di Pagar Alam, Sumatera Selatan. Arista juga telah menyampaikan permohonan maaf. Meski belum ada keputusan dari hasil mediasi hari ini, Arista tidak putus harapan agar suaminya bisa mendapatkan keadilan.
“(Hasil mediasi) intinya, keluarga jambret baru mau diskusi keluarga dulu. Saya juga telah menyampaikan apa yang harus saya sampaikan,” ujarnya.
Opsi Tali Asih Sesuai Kemampuan
Arista secara terbuka mengaku tidak keberatan dan bersedia jika harus mengeluarkan uang sebagai tali asih kepada keluarga korban. Akan tetapi, tali asih yang hendak diberikan tidak ingin ditentukan jumlahnya.
“Belum ada angkanya. Tapi sudah saya sampaikan bahwasanya saya bersedia memberi tali asih tapi sesuai dengan kemampuan saya dan suami,” kata dia.
Pandangan dari Pihak Terkait
Kadiv Humas Jogja Police Watch (JPW), Baharuddin Kamba, menyampaikan bahwa pihak Kejaksaan Negeri Sleman perlu berhati-hati dalam menangani perkara Hogi Minaya yang ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak Polresta Sleman terkait kasus tewasnya dua pria yang diduga sebagai penjambret pada 26 April 2025 lalu.
Ia menegaskan bahwa keadilan restoratif diatur dalam Peraturan Kejaksaan (Perja) Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif. Ini merupakan landasan utama bagi kejaksaan dalam menyelesaikan pidana, mengutamakan pemulihan keadaan semula dan bukan pembalasan.







