Kitab Asy-Syafiyyah: Karya Ulama Nusantara yang Menembus Batas Negara
Kitab Asy-Syafiyyah karya Habib Sholeh Alaydrus dari Malang telah menjadi rujukan penting bagi para ulama di berbagai belahan dunia, termasuk di kawasan Hadramaut, Yaman. Kitab ini tidak hanya menjadi pegangan dalam studi fiqh mazhab Syafi’i, tetapi juga menunjukkan pengaruh luas tradisi keilmuan Nusantara di tingkat internasional.
Latar Belakang Penulis dan Perjalanan Keilmuannya
Habib Sholeh bin Ahmad bin Salim Alaydrus adalah seorang ulama yang lahir dan tinggal di Kota Malang. Ia tercatat sebagai murid Al-Habib Al-Qutb Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih, seorang ahli hadis asal Malang yang kemudian menjadi mertua beliau. Selain itu, ia juga menimba ilmu dari ulama besar Makkah, yaitu Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki.
Selain aktif mengajar di Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah Malang serta mengasuh majelis taklim di kediamannya, Habib Sholeh dikenal sebagai ulama yang sangat produktif dalam dunia kepenulisan. Hingga saat ini, jumlah kitab yang telah beliau tulis mencapai sekitar 42 karya, sebagian di antaranya digunakan sebagai rujukan pembelajaran di berbagai pesantren serta lembaga pendidikan Islam di dalam maupun luar negeri, termasuk di Makkah, Madinah, Mesir, dan Yaman.
Kitab Monumental dalam Mazhab Syafi’i
Di antara puluhan karya tersebut, kitab Asy-Syafiyyah disebut sebagai salah satu karya paling monumental. Kitab ini secara khusus membahas serta menghimpun berbagai istilah penting yang digunakan dalam fiqh mazhab Syafi’i, sehingga kerap disebut sebagai semacam kamus fiqh Syafi’i.
Popularitas kitab ini tidak hanya berkembang di lingkungan pesantren Nusantara, tetapi juga mendapat sambutan positif dari para ulama di Timur Tengah. Bahkan di wilayah Hadramaut, Yaman, kitab tersebut termasuk salah satu referensi yang digunakan oleh kalangan mufti dalam memahami istilah-istilah fiqh Syafi’iyyah.
Dalam mukadimah kitab dijelaskan bahwa penulisan Asy-Syafiyyah berawal dari isyarat gurunya, Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki, yang mendorong Habib Sholeh untuk menghimpun berbagai istilah dalam fiqh Syafi’i agar lebih mudah dipahami para penuntut ilmu.
Kitab ini terdiri dari dua juz dengan total sekitar 15 bab dan mencapai kurang lebih 400 halaman pembahasan.
Mengurai Istilah dan Hirarki Ulama Syafi’iyyah
Pada bab pertama, Habib Sholeh Alaydrus menjelaskan berbagai gelar atau julukan yang kerap disematkan kepada ulama mazhab Syafi’i, seperti Qadhi al-Qudhat, Sulthanul Ulama, hingga klasifikasi ulama salaf dan khalaf, termasuk pembagian mutaqaddimin dan muta’akhkhirin.
Kemudian pada bab kedua, pembahasan diarahkan pada istilah-istilah metodologis yang sering digunakan dalam literatur fiqh Syafi’i, seperti makna istilah qila, qaul rajih, qaul shahih, hingga qaul al-ashah. Penjelasan tersebut membantu para pelajar memahami perbedaan tingkat kekuatan pendapat dalam kajian hukum Islam.
Selanjutnya, pada bab-bab berikutnya, kitab ini juga menjelaskan singkatan nama kitab fiqh Syafi’i yang sering muncul dalam literatur klasik serta rumusan singkatan nama para ulama Syafi’iyyah yang kerap digunakan dalam penulisan ilmiah.
Salah satu bagian penting terdapat pada pembahasan mengenai hirarki pendapat ulama, terutama ketika terjadi perbedaan pandangan dalam karya Imam An-Nawawi. Habib Sholeh mengurutkan kitab-kitab karya An-Nawawi yang dijadikan pegangan utama dalam menentukan pendapat yang lebih kuat dalam satu persoalan fiqh.
Hirarki tersebut di antaranya mencakup At-Tahqiq, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Raudlah at-Thalibin, Minhaj ath-Thalibin, hingga karya-karya fatwa dan syarah lainnya. Pembahasan serupa juga disusun terhadap karya Ibnu Hajar sebagai rujukan dalam pengambilan keputusan fiqh.
Diakui Hingga Hadramaut Yaman
Dalam bagian lain kitab, Habib Sholeh juga mencantumkan pembahasan mengenai tujuh ulama bernama Abdullah yang berasal dari Hadramaut serta riwayat singkat ulama Syafi’iyyah yang sering disebut dalam literatur fiqh kawasan tersebut.
Keberadaan pembahasan ini dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat kitab Asy-Syafiyyah diterima luas dan dijadikan pegangan di Hadramaut. Dua bab besar dalam kitab ini bahkan memuat ratusan data serta referensi kitab fiqh Syafi’i yang dihimpun secara sistematis.
Secara substansi, kitab ini memiliki kemiripan fungsi dengan karya ulama Nusantara asal Mandailing berjudul Al-Khazain al-Saniyyah min Masyahir al-Kutub al-Fiqhiyyah li Aimmatinā al-Fuqahā al-Syafi’iyyah, yang sebelumnya juga mendapat catatan akademik dari Ustadz Ginanjar Sya’ban.
Sejak pertama kali dicetak sekitar tahun 1417 Hijriah atau lebih dari dua dekade lalu, kitab Asy-Syafiyyah telah mengalami cetak ulang hingga sekitar sepuluh kali. Hal tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan dan apresiasi kalangan akademisi serta pesantren terhadap karya tersebut.
Kehadiran kitab ini sekaligus memperkaya khazanah intelektual ulama Nusantara dalam bidang fiqh mazhab Syafi’i yang pengaruhnya mampu menembus pusat-pusat keilmuan Islam dunia.







