Krisis Tukang Jahit di Industri Konveksi
Industri kecil dan menengah (IKM) konveksi menghadapi tantangan besar akibat krisis tenaga kerja, khususnya tukang jahit. Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB), Nandi Herdiaman, menyampaikan bahwa pihaknya sering menerima permintaan dari anggota terkait kesulitan mencari tukang jahit.
Menurut Nandi, rata-rata jumlah tukang jahit di tempat konveksi hanya setengah dari jumlah mesin yang ada. Saat ini, IPKB memiliki sekitar 3 ribu pengusaha anggota. Kondisi ini semakin memburuk menjelang Hari Raya Idul Fitri, di mana permintaan pakaian meningkat hingga 60 persen dari biasanya. Jenis pakaian yang paling diminati adalah pakaian muslim dan baju anak.
Tukang jahit yang dibutuhkan saat ini tidak hanya bisa menjahit bagian-bagian pakaian seperti di garmen, tetapi harus mampu menyelesaikan pakaian secara utuh. “Krisisnya bukan tidak ada penjahit, tapi mereka sedang diperebutkan oleh berbagai konveksi,” ujar Nandi.
Permintaan pasar yang tinggi juga mendorong beberapa pengusaha konveksi untuk membuka tempat produksi baru. Di sisi lain, beberapa perusahaan garmen besar mulai menerima penjahit. Krisis tukang jahit ini mulai muncul sekitar dua bulan belakangan dan semakin menguat pada Januari 2026.
Hingga saat ini, belum diketahui apakah kondisi ini berkaitan dengan regulasi pengetatan barang impor seperti baju bekas dan ilegal oleh pemerintah, atau karena momentum menjelang Lebaran. Setelah Lebaran, Nandi berharap bisa lebih jelas mengetahui penyebabnya. Sebelumnya, sekitar 2015-2016, kejadian serupa pernah terjadi. “Kemudian jumlah penjahit menurun sampai sekarang,” kata dia.
Jika krisis tukang jahit ini disebabkan oleh regulasi barang impor, Nandi meminta pemerintah untuk membantu menyiapkan sumber daya manusia. “Jangan sampai tahun depan seperti ini lagi,” ujarnya.
Beberapa faktor yang membuat pengusaha IKM konveksi kesulitan mencari penjahit antara lain:
- Kurangnya minat generasi muda untuk terjun ke bidang menjahit.
- Kurangnya pelatihan dan pendidikan yang memadai.
- Kurangnya insentif yang menarik bagi penjahit.
Cara lain yang dianggap efektif dalam mengatasi krisis ini adalah dengan meningkatkan upah tukang jahit agar pekerja yang kena pemutusan hubungan kerja di pabrik garmen atau konveksi mau bekerja lagi. Upah tukang jahit rumahan saat ini berkisar Rp 100-120 ribu tanpa pertimbangan pengalaman, asalkan bisa bekerja sesuai target. “Setahu saya selain di Jawa Barat, daerah lain juga sama kekurangan penjahit konveksi,” katanya.
IPKB juga meminta pemerintah untuk:
- Meningkatkan akses ke sumber permodalan yang lebih mudah dan terjangkau bagi IKM konveksi.
- Memberikan pelatihan dan pendidikan yang memadai bagi penjahit untuk meningkatkan keterampilan dan pengalaman mereka.
- Meningkatkan pengawasan dan penindakan terhadap barang-barang impor ilegal.
- Memberikan insentif yang menarik bagi penjahit, seperti subsidi upah, asuransi kesehatan, dan program pensiun.
- Meningkatkan promosi produk-produk IKM konveksi di dalam dan luar negeri.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan industri konveksi dapat kembali pulih dan menghadapi tantangan di masa depan dengan lebih siap.







