Pengalaman Menyedihkan Sri Wijiningsih: Penipuan Haji Plus yang Merugikan Rp104 Juta
Sri Wijiningsih (61), seorang warga Perum Klodran Indah, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, mengalami kekecewaan mendalam setelah menjadi korban penipuan haji plus. Ia kehilangan lebih dari Rp104 juta setelah menyetorkan uang dalam jumlah besar untuk ikut program haji yang dijanjikan dapat berangkat lebih cepat. Namun, sampai saat ini, dokumen penting seperti paspor, visa, dan tiket pesawat tidak pernah diterimanya.
Awal Mula Tawaran Haji Plus
Sri pertama kali mendengar tawaran program haji plus dari seorang perempuan bernama DF pada Desember 2024. Program tersebut disebut menawarkan biaya yang lebih terjangkau serta proses keberangkatan yang lebih cepat dibanding jalur reguler. Karena ingin memberikan kejutan kepada keluarganya, Sri memilih merahasiakan rencana tersebut dari anak-anaknya. Minimnya pengetahuan tentang prosedur keberangkatan haji membuatnya percaya terhadap penjelasan yang diberikan oleh DF.
“Saat itu, saya ditawari haji plus, saya terima tawaran itu dengan sengaja tidak memberi tahu anak-anaknya tentang rencana itu dan memberikan kejutan ketika jadwal keberangkatan semakin dekat,” kata Sri.
Transfer Dana Bertahap Hingga Rp104 Juta
Untuk memenuhi biaya keberangkatan, Sri menggunakan berbagai sumber dana yang dimilikinya. Dana tersebut berasal dari santunan kematian, manfaat Asabri, hingga gaji peninggalan almarhum suaminya. Bahkan selama setahun ia berusaha hidup hemat agar tabungan yang dimiliki tidak berkurang. Pembayaran dilakukan secara bertahap sejak Desember 2024 hingga Mei 2025.
Secara keseluruhan, Sri mengaku telah melakukan 14 kali transfer dengan total nilai mencapai Rp104.300.000. “Saya dulu yakin tahun itu bisa benar-benar berangkat haji, namun ternyata saya tidak bisa berangkat,” ungkap dia.
Kepercayaan Sri terhadap DF semakin kuat karena sebelumnya masih berada dalam jaringan biro perjalanan umrah yang pernah dikenalnya saat suaminya masih hidup. Menurut Sri, sosok DF dikenal ramah dan mampu meyakinkan calon jemaah.
Mulai Curiga Karena Paspor dan Tiket Tak Kunjung Diberikan
Menjelang jadwal keberangkatan, Sri sempat menerima seragam haji dan mulai menyiapkan berbagai kebutuhan perjalanan. Hal tersebut membuat dirinya semakin yakin bahwa keberangkatan hanya tinggal menunggu waktu. Namun rasa curiga mulai muncul ketika paspor, visa, dan tiket pesawat yang dijanjikan tidak kunjung diberikan.
Setiap kali menanyakan perkembangan dokumen, Sri mengaku selalu menerima alasan yang berbeda-beda. “Katanya visa belum keluar, masih proses, alasannya macam-macam,” katanya. Kekhawatiran semakin besar setelah ia mendengar pengalaman serupa dari calon jemaah lain yang juga mengalami kendala.
Upaya Minta Pengembalian Dana Belum Membuahkan Hasil
Setelah menyadari keberangkatan tidak dapat terlaksana, Sri berupaya meminta pertanggungjawaban serta pengembalian dana yang telah disetorkan. Namun dari total dana lebih dari Rp104 juta yang telah dibayarkan, ia mengaku baru menerima pengembalian sekitar Rp1,3 juta.
“Saya coba minta uang saya kembali, namun susah sekali, hingga berbulan-bulan saya minta, tetapi dia bilang uang saya hangus. Saya syok, karena paspor tidak ada, visa tidak ada, tiket juga tidak dibelikan,” ungkap dia.
Awalnya, Sri memilih menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan dan melalui mediasi. Namun karena tidak menemukan titik temu, ia akhirnya melaporkan perkara tersebut ke pihak kepolisian.
Berharap Tidak Ada Korban Lain
Meski mengaku kecewa atas kejadian yang dialaminya, Sri mengatakan tidak menyimpan dendam terhadap pihak yang dilaporkannya. Ia justru berharap pengalamannya dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat, khususnya para lansia yang belum memahami secara rinci prosedur keberangkatan haji.
“Saya sebenarnya sudah memaafkan. Tapi saya kasihan kalau ada orang lain yang tabungannya habis seperti saya,” katanya. Di tengah kekecewaan yang masih dirasakan, Sri mengaku tetap menyimpan harapan untuk suatu hari dapat menunaikan ibadah haji.





