Keunikan Rinuak, Ikan Mungil Endemik Danau Maninjau
Danau Maninjau yang terletak di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dikenal sebagai salah satu danau vulkanik yang kaya akan keanekaragaman hayati. Salah satu kekayaan alam unik yang ada di sana adalah rinuak (Psilopsis sp), ikan mungil endemik yang hanya bisa ditemukan di perairan danau ini. Dengan ukuran sekitar 1–3 sentimeter dan warna putih kekuningan transparan, rinuak menjadi bagian dari identitas kuliner lokal yang sangat istimewa.
Karakteristik Rinuak
Rinuak termasuk dalam famili Osphronemidae, genus Psilopsis, dan spesies Psilopsis sp. Tekstur dagingnya lunak dan tidak berserat. Yang membuatnya menarik adalah fakta bahwa rinuak adalah spesies endemik yang sangat rentan. Ketika ditangkap dan diangkat dari air, ikan ini hanya bertahan beberapa saat dan tidak dapat dibudidayakan di kolam atau danau lain.
Kandungan Nutrisi yang Tinggi
Meski ukurannya kecil, rinuak memiliki kandungan protein yang tinggi. Penelitian dari Universitas Bung Hatta menunjukkan bahwa rinuak mentah mengandung protein sebesar 21,05 persen dan lemak 5,93 persen. Saat difermentasi, kadar protein meningkat menjadi 27,44 persen, menjadikannya sumber protein berkualitas tinggi.
Berbagai olahan rinuak juga memiliki kandungan protein yang tinggi. Contohnya, rinuak goreng memiliki kandungan protein sebesar 41,78 persen, palai rinuak 18,12 persen, dan peyek rinuak 20,54 persen. Olahan-olahan ini berperan penting dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat setempat.
Ancaman Kepunahan dan Upaya Konservasi
Populasi rinuak telah mengalami penurunan drastis dalam beberapa tahun terakhir. Harga yang biasanya Rp15 ribu per kilogram kini mencapai Rp100 ribu karena kelangkaan. Pedagang bahkan harus memesan langsung ke nelayan dan menunggu berhari-hari tanpa kepastian pasokan.
Penyebab utama penurunan populasi ini adalah pencemaran danau akibat lebih dari 18.000 unit keramba jaring apung, serta predator ikan seperti nila dan patin yang lepas dari keramba. Dari 34 spesies ikan asli Danau Maninjau, kini hanya 14 yang bertahan hidup.
LIPI melalui UPT Loka Alih Teknologi Penyehatan Danau telah melakukan upaya konservasi sejak 2016, termasuk membudidayakan rinuak dan menebar 250 ekor bibit ke Danau Maninjau. Zona konservasi juga dibuat di Nagari Sungai Batang untuk tempat berlindung dan bertelur ikan endemik.
Inovasi Produk Olahan Rinuak
Meski menghadapi kelangkaan, peneliti dan pelaku UMKM terus berinovasi untuk meningkatkan nilai ekonomi dan daya simpan rinuak:
- Abon Rinuak – Standarisasi formula yang cocok untuk anak balita, memiliki warna, aroma, dan tekstur yang menarik.
- Nugget Rinuak – Kombinasi rinuak, telur, tepung kanji, wortel, dan bumbu, praktis dan disukai anak-anak.
- Dendeng Rinuak – Modernisasi produk tradisional, jadi oleh-oleh favorit wisatawan.
- Peyek & Palai Rinuak – Tetap mempertahankan resep tradisional dengan standar mutu lebih baik, protein hingga 20,54 persen.
- Ampyang Rinuak Kelor – Camilan bergizi tinggi dari rinuak kering dan daun kelor, untuk mencegah stunting.
Program Diversifikasi Produk
Melalui Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD), perguruan tinggi mendampingi UMKM kuliner Maninjau. Hasilnya: tujuh resep inovasi olahan ikan dan empat izin PIRT. Para pelaku UMKM juga mengembangkan varian kemasan modern dan standar keamanan pangan yang lebih baik.
Potensi Pangan Fungsional
Kandungan protein tinggi rinuak menjadikannya calon pangan fungsional. Penelitian Universitas Bung Hatta bahkan menyarankan adonan rinuak kukus sebagai pakan larva lele pengganti cacing sutera. Produk olahan seperti nugget, abon, dan dendeng juga bisa menjadi alternatif sumber protein lokal untuk anak-anak balita.
Tantangan dan Harapan
Kelangkaan rinuak sejak kematian massal November 2022 sempat menghentikan produksi 15 UMKM. Namun, konservasi terus berjalan, termasuk pembangunan dua kawasan konservasi ikan endemik oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar di Jorong Pandan dan Jorong Sigiran.
Perkampungan kuliner Nagari Gasan tetap menjadi destinasi wisata kuliner rinuak, dengan berbagai penganan seperti rinuak goreng, palai rinuak, dan sala rinuak, ditemani pemandangan Danau Maninjau yang memukau.
Di tengah tren kuliner modern, rinuak membuktikan bahwa kuliner tradisional tetap relevan. Dengan inovasi produk, dukungan riset, dan promosi pariwisata, rinuak berpotensi naik kelas dari dapur rumah warga menjadi ikon kuliner Sumatera Barat, bahkan nasional dan internasional.
Kini, tantangannya bukan hanya menjaga populasi dan ekosistem Danau Maninjau, tetapi juga melibatkan generasi muda dalam pelestarian rinuak melalui kreativitas dan ide segar. Kuliner bukan sekadar rasa, tapi juga cerita, identitas, dan warisan budaya yang harus dijaga bersama.







