Kisah Arifin, Pria yang Berjalan Kaki dari Pekanbaru ke Surabaya
Di tengah hiruk-pikuk arus mudik yang biasanya dipenuhi kendaraan dan tawa para perantau, ada kisah sunyi yang nyaris tak terdengar. Seorang pria berjalan sendiri, memanggul lelah, menembus jarak yang tak masuk akal, semata karena satu alasan: cinta kepada ibu.
Dengan wajah letih dan tubuh yang tampak kehabisan tenaga, Arifin akhirnya tiba di sebuah pos pengamanan di kawasan Karawang, Jawa Barat, pada Kamis siang. Di pundaknya tergantung ransel hitam, sementara di tangannya tergenggam bantal leher, satu-satunya penopang istirahat dalam perjalanan panjangnya.
Perjalanan Nekat Tanpa Bekal
Setelah dipersilakan duduk oleh petugas, Arifin perlahan membuka kisahnya. Ia mengaku datang jauh dari Pekanbaru, Riau, dengan satu tujuan: menjenguk sang ibu yang tengah sakit di Surabaya, Jawa Timur. “Dari Sumatera, Pekanbaru mau jenguk ibu yang sakit di Surabaya,” kata Arifin.
Berbekal pakaian seadanya yang dimasukkan ke dalam tas punggung, ia memulai perjalanan panjangnya. Namun, nasib berkata lain. Setibanya di Jakarta, uang yang ia miliki habis tak bersisa.
Dari Menumpang hingga Jalan Kaki
Dalam kondisi serba terbatas, Arifin sempat mendapatkan tumpangan hingga mencapai wilayah Bekasi. Namun setelah itu, ia benar-benar kehabisan cara. Tak ada ongkos, tak ada pilihan. Ia pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri jalanan panas dari Bekasi hingga masuk ke wilayah Karawang.
“Saya berjalan kaki dari Bekasi. Tapi kalau dari Medan ke Bekasi ada tumpangan,” kata Arifin. Langkah demi langkah ia tempuh, menahan lelah, demi bisa sampai ke sisi ibunya.
Ditemukan dalam Kondisi Lelah
Kisah Arifin mulai berubah ketika petugas di pos pengamanan Kaizen melihatnya dalam kondisi kelelahan di pinggir jalan. Ia kemudian dihampiri dan dibawa ke pos untuk beristirahat. Menurut keterangan dari pihak kepolisian, setelah diajak berbincang, barulah terungkap bahwa pria tersebut sedang berjuang menuju Surabaya tanpa sepeser pun ongkos. Petugas pun tersentuh oleh kisah yang disampaikan Arifin.
Uluran Tangan di Tengah Perjalanan
Atas arahan Kapolres Karawang, bantuan segera diberikan. Petugas membelikan tiket bus menuju Surabaya, memberikan uang saku, bahkan mengantarnya langsung ke Terminal Klari. Tak hanya itu, Arifin juga dititipkan kepada kru bus agar dipastikan tiba dengan selamat di tujuan.
Langkah cepat ini menjadi wujud nyata kepedulian di tengah tugas pengamanan arus mudik.
Air Mata Haru dan Terima Kasih
Mendapat bantuan di saat paling sulit, Arifin tak kuasa menahan haru. Ia berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada para petugas sebelum melanjutkan perjalanannya. Perjalanan panjangnya belum usai, tetapi kini ia tidak lagi berjalan sendirian tanpa arah.
Pesan untuk Para Pemudik
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik perjalanan mudik, ada banyak cerita perjuangan yang tak terlihat. Pihak kepolisian pun mengimbau masyarakat agar tidak memaksakan diri jika mengalami kesulitan di perjalanan. Jika menghadapi kendala, pemudik diminta segera mendatangi pos pengamanan terdekat agar bisa mendapatkan bantuan.
Karena di tengah perjalanan panjang menuju kampung halaman, kadang yang paling dibutuhkan bukan sekadar kendaraan tetapi uluran tangan sesama manusia.






