Suasana Hangat di Kopi Siloka 2
Kopi Siloka 2, Kota Tasikmalaya, pada Jumat malam, 24 April 2026, dipenuhi suasana hangat dan santai. Sejumlah perempuan dari berbagai latar belakang—mulai dari pelajar SMA, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga—berkumpul dalam kegiatan bertajuk “Refleksi Hari Kartini 2026: Ruang Aman Perempuan Tasikmalaya.” Acara ini merupakan hasil kolaborasi Wanoja Sukapura bersama Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT), dengan dukungan dari Kopi Siloka, komunitas Putik Perempuan Indonesia, Sunda Pedia, serta Kongres (Ngawangkong Nepi Ka Beres).
Pembicara yang Beragam Latar Belakang
Kegiatan yang dikemas dalam format diskusi publik ini menghadirkan sejumlah pembicara dari beragam latar belakang, yakni Fitri Najayanti, S.Pd (aktivis perempuan), Dra. Elin Yuliani, M.Pd (Kepala SMAN 3 Kota Tasikmalaya), Eva Nurhayati, S.Pd (tenaga pendidik), serta Rika Rostika Johara, S.Psi, Cht (jurnalis dan aktor teater). Diskusi dipandu oleh moderator Agus Salim Maulana, serta diselingi penampilan seni dari Qeis Surya Sangkala.
Memahami Perempuan
Fitri Najayanti, yang akrab disapa Naza, membuka diskusi dengan mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat. Dalam pemaparannya, ia menyoroti pentingnya ruang aman bagi perempuan di Kota Tasikmalaya. Berdasarkan pengalaman advokasinya, masih terdapat sejumlah kasus kekerasan yang membutuhkan perhatian serius. Namun demikian, ia melihat adanya perkembangan positif, terutama meningkatnya kesadaran perempuan melalui media sosial.
“Memahami perempuan berarti juga memahami manusia dengan segala kompleksitas dan keistimewaannya,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ruang aman tidak hanya soal fisik, tetapi juga mencakup aspek psikologis dan sosial.
Pengalaman di Dunia Pendidikan
Sementara itu, Kepala SMAN 3 Kota Tasikmalaya, Dra. Elin Yuliani, M.Pd, berbagi pengalaman panjangnya di dunia pendidikan. Ia mengisahkan dinamika yang dihadapi dalam membimbing siswa, termasuk dalam hal kedisiplinan. Salah satu contoh yang ia angkat adalah soal kebijakan membawa make-up ke sekolah. “Kalau siswa biasanya kena razia, tapi kalau ibu guru boleh pakai lipstik,” tuturnya sambil tersenyum, menggambarkan realitas aturan yang kerap dipandang berbeda.
Kebijakan Pendidikan yang Tidak Selalu Relevan
Eva Nurhayati, atau yang dikenal sebagai “GuruMC” karena kerap menjadi pembawa acara, menyoroti kebijakan pendidikan yang menurutnya tidak selalu relevan dengan kondisi di lapangan. Sebagai guru SMK, ia menghadapi tantangan berbeda dibandingkan dengan SMA. Menurutnya, siswa SMK perlu pendekatan yang lebih teknis dan realistis karena mereka akan langsung masuk ke dunia industri.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi yang tepat dengan remaja serta pemahaman bahwa konsep ruang aman tidak hanya berlaku bagi perempuan, tetapi juga laki-laki. “Fenomena ini tidak bisa kita abaikan,” katanya. Eva turut mendukung gerakan “Ayah Ambil Rapor” sebagai upaya memperkuat peran ayah dalam kehidupan anak perempuan, terutama dalam memenuhi kebutuhan emosional.
Etika dalam Peliputan Kasus Kekerasan Seksual
Di sisi lain, Rika Rostika Johara membahas etika dalam peliputan kasus kekerasan seksual. Ia menekankan pentingnya prinsip jurnalisme berbasis keberagaman (diversity journalism), yakni pendekatan yang menghargai perspektif korban tanpa menghakimi atau mengeksploitasi. Rika juga mengingatkan pentingnya etika bermedia sosial, khususnya bagi perempuan. Ia menyoroti bahaya doxing, yaitu tindakan menyebarkan data pribadi seseorang tanpa izin, yang berpotensi menimbulkan ancaman serius. Ia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial, termasuk dengan memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya serta mematuhi regulasi terkait usia penggunaan platform digital.
Program yang Dihidupkan Kembali
Di akhir sesi, Cevi Whiesa, budayawan Kota Tasikmalaya sekaligus Ketua Komite 7 Bidang Budaya DKKT, menjelaskan bahwa program Wanoja Sukapura sebenarnya telah berjalan sejak 2019 dan rutin digelar setiap bulan. Namun, kegiatan tersebut sempat terhenti akibat pandemi COVID-19.
“Sekarang kami hidupkan kembali, apalagi dengan semangat dari generasi muda seperti Mojang Jajakan Tasik,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa selama ini banyak komunitas perempuan yang fokus pada advokasi, sehingga melalui Wanoja Sukapura ia ingin menghadirkan ruang yang juga menekankan edukasi dan hiburan.
Cevi menegaskan bahwa kegiatan ini diselenggarakan secara mandiri tanpa bergantung pada dana hibah. “Kami ingin membuktikan bahwa kegiatan kebudayaan bisa berjalan dengan kreativitas, tanpa harus menunggu dukungan finansial besar,” katanya.
Kesimpulan
Melalui diskusi yang ringan namun sarat makna ini, Wanoja Sukapura berhasil menghadirkan ruang dialog yang inklusif dan reflektif, sekaligus memperkuat kesadaran kolektif tentang pentingnya menciptakan ruang aman bagi perempuan di Tasikmalaya.







