Infomalangraya.com.CO.ID – JAKARTA.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengambil keputusan untuk memangkas rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) batubara tahun 2026. Keputusan ini diperkirakan akan berdampak pada kinerja emiten sektor batubara. Namun, harga batubara yang terus menguat diharapkan dapat menjaga kinerja perusahaan-perusahaan tersebut.
Beberapa analis memberikan rekomendasi saham terkait emiten sektor batubara. Berikut adalah ulasan lengkap mengenai rekomendasi saham sektor batubara:
PT Bukit Asam Tbk (PTBA)
PTBA melaporkan kinerja kuartal keempat tahun 2025 yang kuat, dengan laba bersih meningkat 173,8% secara kuartalan menjadi Rp 1,5 triliun. Peningkatan ini didorong oleh peningkatan efisiensi biaya dan kontribusi yang lebih tinggi dari pangsa laba bersih. Namun, laba bersih tahun fiskal 2025 turun 42,6% secara tahunan menjadi Rp 2,9 triliun.
Sementara itu, proyek kereta api Tanjung Enim–Keramasan telah mencapai lebih dari 80% penyelesaian dan ditargetkan untuk mulai beroperasi pada semester kedua tahun 2026. Proyek ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi logistik dan mendukung volume penjualan yang lebih tinggi di masa depan.
Rekomendasi:
* Hold
* Target harga: Rp 3.100
* Devi Harjoto, OCBC Sekuritas dalam risetnya pada 15 April 2026
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)
ADRO mencatat penurunan kinerja pada tahun fiskal 2025, dengan laba bersih turun 67,56% secara year on year (YoY) menjadi sekitar US$ 447,69 juta, turun dari US$ 1,38 miliar pada tahun fiskal 2024. Penurunan ini sejalan dengan pendapatan yang lebih lemah, yang turun 10% YoY menjadi US$ 1,87 miliar, terutama karena penurunan 25% pada harga rata-rata (ASP) dan tidak adanya kontribusi dari operasi yang dihentikan.
Pendapatan ADRO diperkirakan meningkat 31% menjadi US$ 2,45 miliar pada 2026, didukung oleh proyeksi peningkatan ASP sebesar 13%. Profitabilitas diperkirakan juga akan meningkat, dengan laba bersih naik dari US$ 413 juta menjadi US$ 683 juta selama periode yang sama, didorong oleh perluasan margin dan peningkatan leverage operasional.
Rekomendasi:
* Buy
* Target harga: Rp 3.600
* Vinna N Rachmawati, Phintraco Sekuritas
BUMI Chart
by TradingView
PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)
Lonjakan harga batubara Newcastle baru-baru ini sebagian besar merupakan respons terhadap lonjakan harga LNG akibat konflik Timur Tengah. ITMG memiliki eksposur tertinggi terhadap batubara dengan CV tinggi (High Calorific Value), dengan 20% volume terkait dengan indeks harga batubara Newcastle dan 50%–60% terkait dengan ICI2.
Pendapatan ITMG tahun 2026 diproyeksikan 117% lebih tinggi daripada perkiraan pasar karena diperkirakan harga spot batubara akan bertahan sepanjang tahun. ITMG dinilai menarik karena perusahaan membayar dividen dua kali setahun, dengan dividen interim yang akan datang kemungkinan mencerminkan peningkatan pendapatan semester I–2026 dan menghasilkan imbal hasil 8% berdasarkan rasio pembayaran dividen yang dinormalisasi sebesar 65%.
Rekomendasi:
* Overweight
* Target harga: Rp 32.100
* Arnanto Januri, JP Morgan Sekuritas Indonesia
PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
Pendapatan BUMI turun 15,9% YoY menjadi US$ 4,81 miliar pada 2025. Sedangkan laba bersih naik 20,1% YoY menjadi US$ 81 juta. BUMI telah menjadi pemegang 100% saham di Wolfram Limited (WFL) sejak November 2025 setelah menuntaskan akuisisi senilai Rp 698,98 miliar atau setara AUD 63,50 juta yang dilakukan secara bertahap. WFL merupakan tambang mineral asal Australia. Tambang ini diharapkan mulai memberikan kontribusi terhadap pendapatan BUMI pada 2026.
BUMI sedang berupaya melakukan diversifikasi bisnis ke sektor mineral seperti komoditas tembaga, emas, bauksit, dan lain-lain. Agenda ini menjadi bagian dari transformasi bisnis BUMI untuk kepentingan jangka panjang. Meskipun demikian, BUMI tetap tidak akan meninggalkan bisnis batubara termal yang selama ini menjadi kontributor utama perusahaan.
Rekomendasi:
* Buy
* Target harga: Rp 300
* Harry Su, Samuel Sekuritas Indonesia







