Sejarah dan Keunikan Candi Sumbernanas di Blitar
Candi Sumbernanas, yang terletak di Desa Candirejo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, merupakan salah satu situs bersejarah yang menyimpan jejak peralihan budaya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Meski kini hanya tersisa reruntuhan, candi ini memiliki nilai arkeologis dan historis yang sangat tinggi.
Asal Usul Nama: Sumbernanas dan Candi Bubrah
Candi ini memiliki dua nama yang cukup dikenal oleh masyarakat sekitar, yaitu Candi Sumbernanas dan Candi Bubrah. Nama “Sumbernanas” berasal dari lokasi candi yang berada di kawasan perkebunan nanas. Sementara itu, istilah “Bubrah” berasal dari bahasa Jawa yang berarti runtuh atau hancur. Penamaan tersebut menggambarkan kondisi candi saat pertama kali ditemukan.
Ditemukan Akibat Letusan Gunung Kelud
Sejarah penemuan Candi Sumbernanas cukup unik. Candi ini ditemukan pada tahun 1919 akibat tanah longsor yang dipicu oleh letusan Gunung Kelud. Saat ditemukan, kondisi bangunan sudah tidak utuh. Batu-batu penyusunnya berserakan, dan yang tersisa hanya bagian fondasi serta kaki candi. Sedangkan struktur penting seperti sumuran di bagian tengah dan susunan bata dasar bangunan masih dapat terlihat hingga kini.
Struktur Bangunan dan Tata Letak
Candi Sumbernanas merupakan kompleks percandian yang terdiri dari satu candi induk dan tiga candi perwara (pendamping) di bagian depan. Kompleks candi ini juga dilengkapi pagar keliling, yang menunjukkan bahwa area tersebut dulunya merupakan kawasan suci. Bagian candi yang tersisa saat ini hanya berupa fondasi dengan ukuran sekitar 7,2 x 7,4 meter. Pintu masuk candi diketahui berada di sisi barat. Di bagian tengah terdapat ruang berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 2,5 x 2,5 meter yang berfungsi sebagai sumuran candi dan diduga berkaitan dengan aktivitas ritual. Selain itu, ditemukan pula pahatan angka tahun 1271 Saka (1349 M) di atas pintu masuk bilik candi, meskipun bagian dalamnya kini sudah kosong.

Corak Hindu dan Temuan Arkeologis
Berdasarkan berbagai temuan arkeologis di sekitarnya, Candi Sumbernanas diketahui berlatar belakang agama Hindu. Pada candi ini ditemukan sejumlah arca seperti Siwa Mahadewa, Brahma, Agastya, hingga Siwa Mahakala, serta benda-benda ritual seperti lingga, yoni, dan peripih. Temuan tersebut menunjukkan bahwa candi ini dulunya berfungsi sebagai tempat pemujaan. Selain itu, terdapat pula arca Siwa Gajasura dan berbagai fragmen arsitektur lainnya yang semakin menguatkan nilai religius situs ini. Untuk menjaga kelestariannya, sebagian besar arca peninggalan tersebut kini telah dipindahkan dan disimpan di Museum Penataran, Blitar.
Jejak Peralihan Budaya Jawa Tengah ke Jawa Timur
Dilihat dari gaya arsitekturnya, Candi Sumbernanas memiliki keunikan tersendiri. Bentuk bangunannya menunjukkan kemiripan dengan candi-candi di Jawa Tengah, namun juga mengandung unsur peralihan menuju gaya Jawa Timur. Tidak diketahui secara pasti kapan Candi Sumbernanas dibangun dan siapa yang mendirikannya. Namun, para ahli memperkirakan candi ini dibangun pada sekitar abad ke-10 hingga ke-11 Masehi. Pendapat ini diperkuat oleh kajian arkeologis yang menyebutkan adanya peralihan gaya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Dengan demikian, Candi Sumbernanas tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga bukti penting perkembangan arsitektur candi di Jawa pada masa transisi.
Kondisi Saat Ini dan Nilai Sejarah
Hingga kini, kondisi Candi Sumbernanas masih berupa reruntuhan dan belum dapat direkonstruksi secara utuh karena keterbatasan material asli. Meski demikian, situs ini tetap menjadi bukti penting perkembangan arsitektur dan keagamaan pada masa lampau. Keberadaannya mencerminkan masa transisi budaya serta memperkaya khazanah sejarah di Blitar. Sebagai salah satu warisan budaya, Candi Sumbernanas perlu terus dijaga dan dilestarikan agar nilai sejarahnya tetap dapat dipelajari oleh generasi mendatang.







