Kritik Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Harga Tiket Piala Dunia 2026
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan kritik terhadap tingginya harga tiket Piala Dunia FIFA 2026. Ia menilai bahwa masyarakat kelas pekerja di wilayah seperti Queens dan Brooklyn akan kesulitan untuk menonton langsung pertandingan di negaranya sendiri akibat lonjakan harga tiket. Kritik ini muncul setelah Trump mengungkapkan kekecewaannya terhadap harga tiket yang mencapai lebih dari 1.000 dollar AS atau sekitar Rp 17 juta.
Trump mengatakan bahwa dirinya terkejut dengan angka tersebut dalam wawancara bersama New York Post yang dipublikasikan pada Kamis, 7 Mei 2026. Ia menyatakan bahwa meskipun ingin hadir langsung menyaksikan pertandingan, ia tidak akan membayar tiket dengan harga setinggi itu. Komentar Trump langsung menjadi perhatian karena harga tiket Piala Dunia 2026 memang sedang menjadi sorotan para penggemar sepak bola dunia.
Turnamen yang akan berlangsung pada 2026 itu disebut-sebut memiliki harga tiket jauh lebih tinggi dibanding edisi-edisi sebelumnya. Trump juga menyoroti dampak harga tiket yang mahal terhadap masyarakat Amerika Serikat, terutama kalangan kelas pekerja dan menengah. Ia secara khusus menyebut warga dari Queens dan Brooklyn, dua wilayah di Kota New York City yang dikenal memiliki komunitas pekerja cukup besar.
“Kalau orang-orang dari Queens dan Brooklyn serta semua orang yang mencintai Donald Trump tidak bisa pergi, saya akan kecewa. Tapi di saat yang sama, ini adalah kesuksesan yang luar biasa,” ujar Trump. Ia juga menegaskan bahwa dirinya berharap masyarakat biasa tetap memiliki kesempatan untuk menikmati pertandingan sepak bola terbesar di dunia secara langsung di stadion.
Pernyataan tersebut menggambarkan kekhawatiran bahwa Piala Dunia FIFA 2026 berpotensi menjadi ajang yang sulit dijangkau sebagian besar pendukung sepak bola lokal karena harga tiket yang terlalu tinggi.
Harga Tiket Jadi Sorotan Global
Perdebatan mengenai harga tiket sebenarnya sudah muncul sejak beberapa bulan terakhir. Banyak kelompok pendukung sepak bola menilai sistem penjualan tiket FIFA terlalu mahal dan lebih menguntungkan pasar komersial dibanding suporter tradisional. Kelompok pendukung sepak bola Eropa, Football Supporters Europe, bahkan menyebut struktur harga tiket Piala Dunia FIFA 2026 sebagai “pengkhianatan besar” terhadap penggemar sepak bola.
Istilah struktur harga tiket merujuk pada sistem penentuan kategori dan harga tiket berdasarkan lokasi kursi, fase pertandingan, hingga mekanisme penjualan ulang atau resale ticket. Dalam sistem ini, harga tiket dapat melonjak jauh di atas harga dasar karena tingginya permintaan. Kritik itu muncul setelah beredar informasi bahwa tiket final Piala Dunia 2026 kategori tertinggi bisa mencapai sekitar 11.000 dollar AS atau setara Rp 191 juta. Nominal tersebut jauh lebih tinggi dibanding final Piala Dunia FIFA 2022 di Qatar pada 2022. Saat itu, tiket final termahal dijual sekitar 1.600 dollar AS atau sekitar Rp 27 juta.
Perbandingan tersebut memicu perdebatan besar di kalangan pecinta sepak bola dunia karena kenaikan harga dianggap terlalu ekstrem.
FIFA Bela Kebijakan Harga Tiket
Di tengah kritik yang terus bermunculan, Presiden FIFA Gianni Infantino membela kebijakan harga tiket yang diterapkan untuk turnamen 2026. Menurut Infantino, tingginya harga tiket tidak lepas dari aturan penjualan ulang tiket di Amerika Serikat yang memungkinkan harga melambung jauh di atas harga awal. Penjualan ulang tiket atau resale ticket adalah praktik ketika tiket yang sudah dibeli kembali dijual kepada orang lain dengan harga lebih tinggi.
Sistem ini legal di sejumlah wilayah Amerika Serikat dan sering membuat harga tiket melonjak drastis untuk acara olahraga besar. Infantino mengatakan FIFA harus memanfaatkan regulasi yang berlaku di Amerika Serikat tersebut. Selain itu, FIFA juga mengklaim antusiasme terhadap Piala Dunia 2026 jauh lebih besar dibanding edisi sebelumnya.
Menurut Infantino, FIFA menerima lebih dari 500 juta permintaan tiket untuk turnamen tersebut. Angka itu disebut jauh melampaui gabungan permintaan tiket untuk Piala Dunia FIFA 2018 dan Piala Dunia FIFA 2022 yang totalnya kurang dari 50 juta permintaan. Data tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat dunia terhadap turnamen yang akan digelar di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Meski demikian, FIFA menegaskan tidak semua tiket dijual dengan harga fantastis. Infantino menyebut sekitar 25 persen tiket fase grup dijual dengan harga di bawah 300 dollar AS atau sekitar Rp 5,2 juta. Namun, angka itu tetap dianggap mahal oleh sebagian suporter, terutama untuk pertandingan fase grup yang biasanya memiliki harga lebih rendah dibanding laga semifinal atau final.
Trump Kembali Ungkit Perannya Membawa Piala Dunia ke AS
Dalam wawancara yang sama, Trump juga kembali menyinggung keterlibatannya saat Amerika Serikat memenangkan hak tuan rumah Piala Dunia 2026. Sebagaimana diketahui, proses penentuan tuan rumah berlangsung ketika Trump masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat pada periode pertamanya. Trump beberapa kali menyatakan dirinya ikut berperan dalam membawa Piala Dunia FIFA 2026 ke Amerika Serikat.
Turnamen 2026 sendiri menjadi sejarah baru bagi sepak bola dunia karena untuk pertama kalinya Piala Dunia diikuti 48 negara peserta. Sebelumnya, jumlah peserta hanya 32 tim. Format baru itu membuat jumlah pertandingan meningkat signifikan dan memperluas cakupan penyelenggaraan di berbagai kota. Beberapa kota besar di Amerika Serikat dipastikan menjadi venue pertandingan, termasuk Los Angeles, New York City, Seattle, hingga Miami.
Kekhawatiran Soal Akses Suporter Lokal
Mahalnya harga tiket memunculkan kekhawatiran bahwa masyarakat lokal justru sulit menikmati turnamen di negaranya sendiri. Fenomena ini sebenarnya pernah terjadi di sejumlah event olahraga besar lain ketika harga tiket lebih banyak menyasar wisatawan internasional dan kalangan ekonomi atas. Trump tampaknya mencoba menyoroti persoalan tersebut dengan menempatkan dirinya sebagai representasi masyarakat biasa yang merasa harga tiket sudah terlalu tinggi.
Meski begitu, Trump tetap mengakui bahwa tingginya minat masyarakat terhadap turnamen menunjukkan Piala Dunia 2026 merupakan ajang yang sangat sukses secara komersial. Hal itu juga memperlihatkan bagaimana sepak bola kini berkembang menjadi industri hiburan global bernilai miliaran dollar AS. Di sisi lain, kritik dari kelompok suporter menunjukkan masih adanya perdebatan mengenai keseimbangan antara keuntungan komersial dan aksesibilitas bagi penggemar sepak bola tradisional.
Banyak penggemar berharap FIFA dapat menyediakan lebih banyak tiket dengan harga terjangkau agar atmosfer stadion tetap dipenuhi suporter asli, bukan hanya penonton dari kalangan tertentu.
Piala Dunia 2026 Diprediksi Jadi yang Terbesar dalam Sejarah
Terlepas dari polemik harga tiket, Piala Dunia FIFA 2026 diperkirakan menjadi turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola dunia. Selain diikuti 48 negara peserta, turnamen ini juga akan digelar di tiga negara sekaligus dengan jumlah stadion dan kota tuan rumah yang jauh lebih banyak dibanding edisi sebelumnya. FIFA memperkirakan jutaan penonton akan datang langsung ke stadion selama turnamen berlangsung.
Lonjakan permintaan tiket menjadi salah satu indikator tingginya antusiasme global terhadap turnamen tersebut. Namun di tengah euforia itu, perdebatan soal harga tiket tampaknya masih akan terus berlanjut hingga mendekati pembukaan Piala Dunia pada 2026 nanti.







