Perayaan Jumenengan di Pura Mangkunegaran
Pura Mangkunegaran kembali menggelar acara jumenengan, yaitu peringatan kenaikan takhta KGPAA Mangkunegara X. Acara ini menjadi momen penting dalam tradisi adat yang diadakan setiap empat tahun sekali. Dalam perayaan kali ini, salah satu prosesi yang sangat istimewa adalah tarian sakral Beksan Bedaya Anglir Mendung.
Tarian ini menceritakan awal berdirinya Mangkunegaran dan menggambarkan perjuangan KGPAA Mangkunegara I atau Pangeran Sambernyawa dalam melawan Belanda. Tarian tersebut dibawakan oleh tujuh penari yang membawa senjata gendewa (panah) dan diiringi gamelan Kyai Kanyut Mesem. Durasi tarian mencapai sekitar 45 menit, dan merupakan bentuk ritual yang sangat sakral.
Larangan Merekam Tarian
Selama tarian Beksan Bedaya Anglir Mendung berlangsung, tamu yang hadir dilarang merekam prosesi tersebut. Ketua Pelaksana Tingalan Jumenengan, GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo menjelaskan bahwa larangan ini bertujuan agar para tamu dapat berdoa secara khidmat tanpa gangguan dari aktivitas lain.
“Beksan Bedaya Anglir Mendung merupakan beksan pusaka. Karena tarian pusaka kita tidak boleh sambil makan minum merekam,” ujar Ancillasura. “Harapannya kita turut berdoa bersama mereka supaya lancar.”
Makna Tarian Beksan Bedaya Anglir Mendung
Tarian ini mengisahkan peperangan antara RM Said atau Mangkunegara I dibantu dua orang sahabatnya, Kudana Warsa dan Rangga Panambang, melawan Belanda di Trowulan, Jawa Timur. Acara ini juga menjadi peringatan atas Perang Mangkunegara I di Ponorogo. Setiap peringatan jumenengan, tarian ini selalu ditampilkan karena hanya bisa dilakukan dalam acara seperti ini.
Di Kadipaten, jumlah penari bedaya hanya tujuh orang, sedangkan di Kasunanan (Surakarta) bisa mencapai sembilan orang. Ini menunjukkan perbedaan tradisi antara kedua tempat tersebut.
Peran Jumenengan dalam Tradisi
Berdasarkan keterangan dari Kawedanan Manggala Pranaya Pura Mangkunegaran, tingalan jumenengan merupakan bentuk syukur atas satu tahun ke belakang dan pembuka bagi tahun kelima kepemimpinan KGPAA Mangkunegara X di Mangkunegaran.
Dalam sambutannya, KGPAA Mangkunegara X menyampaikan pesan tentang kebahagiaan. Menurutnya, kebahagiaan tidak bisa dicapai dengan cara tergesa-gesa, tetapi harus dijalani dengan batin yang jernih dan tindakan yang benar.
“Kita percaya kebahagiaan bukan sesuatu yang dikejar dengan tergesa. Melainkan dijalani sebagai suatu laku. Tidak lahir dari pencapaian semata, tetapi dari cara manusia menata batin,” kata Gusti Bhre, sapaan akrabnya.
Ia juga menekankan bahwa kebahagiaan dimulai dari kesadaran diri, sesama, dan lingkungan. Kesadaran ini akan membantu manusia untuk bertindak dengan hati-hati dan hadir sepenuhnya pada saat ini.
Ke Hadiran Tokoh Nasional
Acara jumenengan kali ini dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional dan publik figur. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka hadir bersama istrinya, Selvi Ananda, yang mengenakan busana adat Jawa. Gibran tampil dengan beskap lengkap, sedangkan Selvi mengenakan kebaya bernuansa merah muda.
Selain itu, Sekda Provinsi Jawa Tengah, Sumarno; Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X; politikus PDIP Bambang Wuryanto; penyanyi Sherina Munaf; serta Wali Kota Solo, Respati Ardi dan Wakil Wali Kota, Astrid Widayani juga hadir dalam acara tersebut.
Dari Keraton Solo, hadir Paku Buwono XIV Hangabehi dan sejumlah putra-putri PB XII. Hangabehi mengatakan bahwa ia telah beberapa kali menghadiri peringatan kenaikan takhta di Mangkunegaran. Ia menyampaikan ucapan selamat kepada KGPAA Mangkunegara X dan berharap semoga ia selalu dilindungi.
Sementara itu, PB XIV Hamengkunegoro atau Gusti Purboyo tidak terlihat dalam acara tersebut. Pengageng Parentah PB XIV Hamengkunegoro, KGPHAP Dipokusumo mengungkapkan bahwa Gusti Purboyo berhalangan hadir karena ada agenda di Jakarta.







