Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Pemkab Lamongan Evaluasi Menu MBG, Polemik Emak-Emak Berakhir

    5 Maret 2026

    Cara Baru Anak Muda Berolahraga Sambil Hangout Bersama

    5 Maret 2026

    Gelar Konsolnas 2026, Kemendikdasmen Kolaborasi dengan Pemda

    5 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Jumat, 6 Maret 2026
    Trending
    • Pemkab Lamongan Evaluasi Menu MBG, Polemik Emak-Emak Berakhir
    • Cara Baru Anak Muda Berolahraga Sambil Hangout Bersama
    • Gelar Konsolnas 2026, Kemendikdasmen Kolaborasi dengan Pemda
    • Tiga Pencuri Motor di Lamandau Terancam Hukuman Baru
    • Tiga Pantai Unik untuk Menyaksikan Sunset Ikonik di Bali
    • Dajjal: Arti Kata dan Kaitannya dengan Serangan Amerika-Israel ke Iran
    • Apa yang Terjadi Jika Manusia Bisa Melihat Gelombang WiFi?
    • Ulasan Lengkap Yamaha Freego S 2026 Magma Black: Teknologi Y Connected dan Desain Mewah
    • Permintaan Maaf Menag Nasaruddin Umar Usai Pernyataan Zakat Viral
    • Mengenal Peran Bea Cukai dalam Ekonomi dan Aturan Barang
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Teknologi»5 Fakta Menarik tentang Burung Amami dengan Paruh Panjang

    5 Fakta Menarik tentang Burung Amami dengan Paruh Panjang

    adm_imradm_imr2 Maret 20260 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Ciri Khas Berkik Gunung Amami

    Jika ada daftar burung kecil dengan bentuk kepala yang aneh, maka berkik gunung amami (Scolopax mira) harus masuk dalam daftar tersebut. Bagaimana tidak? Burung yang satu ini memiliki ciri khas berupa kepala berukuran kecil, lokasi mata yang agak mundur ke belakang, serta paruh yang sangat panjang. Selain itu, sepasang kaki mereka juga tergolong panjang sehingga membuat penampilan burung ini terbilang unik.

    Bulu berkik gunung amami didominasi warna cokelat muda dan tua dengan sedikit warna putih pada bagian perut dan sekitar pipi. Ada pula corak garis dan bintik hitam yang menghiasi bulu burung ini. Soal ukuran, panjang tubuh burung ini sekitar 36 cm dengan rentang sayap 19—22 cm dan bobot 400—500 gram saja. Nah, pada kesempatan ini, kita akan mengenal lebih jauh soal hal-hal menarik yang dimiliki berkik gunung amami. Jadi, simak sampai tuntas, ya!

    Peta Persebaran dan Habitat Alami



    Berkik gunung amami ternyata merupakan hewan endemik dari Jepang. Data Zone by Birdlife melansir kalau secara spesifik, burung mungil ini hanya berada di sekitar Kepulauan Nansei Shoto yang meliputi Pulau Amami, Kakeroma, Tokunoshima, Okinawa, dan Tokashiki. Luas area yang jadi persebaran mereka terbilang sangat kecil, yakni sekitar 12.200 km persegi saja.

    Sementara itu, untuk pilihan habitat, berkik gunung amami suka berada di kawasan sekitar perbukitan. Di sana, mereka tinggal di hutan sub tropis dengan daun lebar yang cenderung lembab. Kadang-kadang mereka juga berpindah ke pesisir pantai hingga padang rumput sekitar bukit dan dataran rendah demi mencari makanan. Kalau kebetulan dekat, berkik gunung amami diketahui turut menghampiri kawasan pertanian manusia.

    Makanan Favorit dan Cara Memperolehnya



    Berkik gunung amami termasuk hewan nokturnal sehingga seluruh aktivitas, termasuk mencari makan, baru dilakukan setelah Matahari terbenam. Tokunoshima World Herritage Conservation Center melansir kalau jenis makanan utama burung ini adalah cacing tanah dan serangga yang ada di tanah. Paruh panjang mereka memainkan peran penting dalam upaya memperoleh makanan.

    Jadi, paruh berkik gunung amami itu terbilang sensitif terhadap gerakan yang ada di dalam tanah. Mula-mula, mereka akan mencari bagian tanah yang mudah digali dan berpotensi ada mangsa favorit. Setelah itu, paruh akan mulai menggali sambil merasakan keberadaan makanan. Kalau terasa ada gerakan, burung ini tak perlu mengangkat kepala untuk mengambil target. Sebab, ada sedikit celah terbuka pada bagian ujung paruh mereka yang memudahkan proses menangkap mangsa.

    Berkat paruh yang sangat peka pada gerakan di dalam tanah, berkik gunung amami perlu mengandalkan indera penglihatan. Apalagi, mengingat waktu berburu yang berlangsung pada malam hari. Selain itu, dengan berburu pada malam hari, burung mungil ini mengurangi risiko ditangkap predator karena corak tubuh yang mampu berbaur dengan sempurna pada lingkungan hutan saat gelap.

    Kehidupan Sosial



    Biasanya, burung berukuran kecil itu cenderung hidup secara berkelompok. Namun, hal berbeda justru muncul pada perilaku berkik gunung amami. Sebab, burung yang satu ini ternyata lebih cenderung soliter diluar musim kawin ataupun ketika sedang mengurus anak-anak yang baru menetas.

    Artinya, mereka selalu kedapatan mencari makan sendiri di tengah gelapnya malam. Akan tetapi, bukan berarti berkik gunung amami tidak memiliki suara vokal yang khas. Dilansir Bird Research News, jantan biasanya menghasilkan suara serak yang terdengar seperti ‘vu-vu’, ‘chee-chee,’ atau ‘geee’ untuk memanggil betina di sekitar. Selain itu, ada pula suara, ‘gwe-e’ yang dikeluarkan sebelum terbang.

    Sistem Reproduksi



    Musim kawin bagi berkik gunung amami berlangsung antara bulan Maret—Juli. Spesies ini diduga sebagai hewan poligini alias jantan akan kawin dengan beberapa betina yang berbeda. Hanya saja, sejauh ini kita belum mengetahui apakah ada ritual kawin khusus yang dilakukan oleh berkik gunung amami. Yang jelas, burung ini punya kebiasaan pindah ke arah selatan pulau menjelang musim kawin.

    Setelah kawin, berkik gunung amami akan membuat sarang sederhana dari tumpukan daun yang diletakkan di atas tanah. Dilansir Bird Research News, dalam satu musim kawin betina dapat menghasilkan 2—4 butir telur saja. Telur-telur tersebut akan menjalani masa inkubasi selama 20—30 hari sebelum akhirnya menetas. Hanya butuh waktu satu bulan bagi anak berkik gunung amami untuk mencapai ukuran dewasa dan sudah bisa hidup mandiri.

    Status Konservasi



    Dalam catatan IUCN Red List, status konservasi berkik gunung amami masuk dalam kategori rentan punah (Vulnerable). Hanya saja, tren populasi mereka ternyata tergolong stabil. Diperkirakan ada sekitar 2,5—10 ribu individu yang masih tersebar di sepanjang peta persebaran mereka. Tentunya, ada beberapa ancaman yang sedang dihadapi spesies ini.

    IUCN Red List menyebut kalau pengenalan predator asing, semisal garangan jawa (Herpestes javanicus), ke pulau-pulau selatan Jepang ternyata menghancurkan populasi burung ini. Dulunya, berkik gunung amami tidak punya predator berukuran besar yang aktif memburu setiap saat seperti garangan jawa. Padahal, awalnya garangan jawa itu diperkenalkan untuk mengatasi masalah hama ular habu dan tikus hitam. Namun, predator ini justru turut menghancurkan populasi lokal.

    Penyebaran garangan jawa ini sebenarnya sudah mulai dikontrol sejak tahun 2002. Akan tetapi, ada predator asing lain yang turut mengancam berkik gunung amami, yakni anjing dan kucing liar. Selain predator asing, burung mungil ini juga terancam dengan kehilangan habitat akibat ekspansi lahan yang dilakukan manusia. Duh, semoga saja kondisi populasi mereka bisa membaik di masa yang akan datang, ya!

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Apa yang Terjadi Jika Manusia Bisa Melihat Gelombang WiFi?

    By adm_imr5 Maret 20260 Views

    Humanisasi AI: Pemikiran Global atau Kekuasaan Digital?

    By adm_imr5 Maret 20262 Views

    Moonscan Dogebonk Pengganti Batoto untuk Baca Manhwa dan Manga Sub Indo, Apa Bato? Link Alternatif

    By adm_imr5 Maret 20267 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Pemkab Lamongan Evaluasi Menu MBG, Polemik Emak-Emak Berakhir

    5 Maret 2026

    Cara Baru Anak Muda Berolahraga Sambil Hangout Bersama

    5 Maret 2026

    Gelar Konsolnas 2026, Kemendikdasmen Kolaborasi dengan Pemda

    5 Maret 2026

    Tiga Pencuri Motor di Lamandau Terancam Hukuman Baru

    5 Maret 2026
    Berita Populer

    Operasi Pekat Semeru 2026, Polres Malang Ungkap Dugaan Peredaran Bahan Peledak di Poncokusumo

    Kabupaten Malang 28 Februari 2026

    Malang – Aparat dari Polres Malang mengungkap dugaan tindak pidana membuat dan menguasai bahan peledak…

    Kejari Kabupaten Malang Geledah Kantor Dispora, Dalami Dugaan Penyelewengan Dana Hibah KONI

    6 Februari 2026

    Jadwal MotoGP Thailand 2026 Live Trans7, Bagnaia Tunjukkan Tanda Bertahan

    1 Maret 2026

    Keluhan Pasien Poli Gigi Puskesmas Arjuno, Kadinkes Kota Malang Beri Penjelasan

    6 Februari 2026
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?