Program Kepemudaan dan Keolahragaan Kota Bandung di Tahun 2026
Kota Bandung terus berupaya memperkuat peran kepemudaan dan keolahragaan dalam mendorong kesejahteraan masyarakat. Dalam acara talkshow yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bandung, Kepala Dispora, H. Sigit Iskandar, S.IP., M.M., menjelaskan berbagai program yang akan dilaksanakan pada tahun 2026.
Angka Partisipasi Olahraga yang Masih Rendah
Sigit menyampaikan bahwa saat ini hanya 42 persen warga Bandung yang aktif berolahraga, jauh di bawah standar ideal sebesar 70 persen. Hal ini menjadi perhatian serius karena meningkatnya kasus penyakit tidak menular seperti diabetes yang kini mulai menjangkit usia muda, termasuk di lingkungan sekolah.
“Pak Wali Kota sering menggemborkan soal JOD (Jantung, Obesitas, Diabetes). Yang memprihatinkan, usia pengidap diabetes semakin turun. Di sekolah-sekolah pun sudah banyak yang mengidap diabetes,” ujar Sigit.
Menurut hasil diskusi dengan seorang aktivis sekaligus dosen dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), diabetes terjadi akibat asupan berlebih yang tidak diimbangi gerak tubuh. Oleh karena itu, olahraga aerobik dianggap sebagai solusi terbaik.
Target Meningkatkan Partisipasi Olahraga
Untuk meningkatkan partisipasi olahraga, Dispora menargetkan angka warga yang berolahraga melonjak menjadi 60 persen pada akhir 2026. Salah satu caranya adalah dengan menggelar senam secara rutin di lingkungan kerja maupun permukiman.
Selain itu, Sigit menekankan bahwa olahraga di Bandung telah bergeser menjadi lebih dari sekadar urusan kesehatan, tetapi juga menjadi gaya hidup sebagian masyarakat. Maraknya event olahraga membawa dampak ekonomi yang nyata, seperti peningkatan pendapatan hotel dan pedagang, serta PAD Kota Bandung yang berhasil menembus lebih dari Rp 3 triliun.
Tahun lalu, Dispora mencatat terdapat 33 acara olahraga resmi dan lebih dari 61 acara fun run, dengan total peserta terdaftar mencapai 700.000 orang pada satu acara terakhir saja.
Pengembangan Wisata Olahraga
Wali Kota Bandung mendorong agar semakin banyak event olahraga berkelas dapat diadakan di Bandung sepanjang 2026. “Bandung sepertinya masih menjadi kota terfavorit untuk sport tourism. Mungkin karena sejuk dan banyak kuliner, jadi orang tidak hanya datang untuk event saja, tetapi juga memajukan perekonomian kota dengan mengunjungi tempat-tempat lain,” tambah Sigit.
Namun, Sigit juga tak menutup mata terhadap catatan kritis. Beberapa penyelenggaraan acara sempat memicu kontroversi, sehingga evaluasi panitia menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Di sisi lain, edukasi soal Bandung sebagai kota wisata perlu terus digencarkan agar warga semakin ramah menyambut tamu dari luar daerah.
Program Kepemudaan yang Terfokus
Di bidang kepemudaan, Dispora menopang kerjanya pada tiga pilar utama: penyadaran, pengembangan, dan pemberdayaan. Penyadaran diarahkan untuk mengubah perilaku tertentu menjadi keterlibatan positif dalam kehidupan kota. Untuk ini, Dispora bekerja sama dengan KNPI yang menaungi 152 organisasi kepemudaan, komunitas lingkungan, hingga komunitas pencegahan HIV/AIDS.
Di sisi pengembangan dan pemberdayaan, program unggulan Dispora adalah Camp Entrepreneur Dispora (Cempor) yang berusaha mencetak wirausahawan muda melalui pelatihan terstruktur di berbagai bidang. Pelatihan ini sepenuhnya gratis, terbuka untuk penyandang disabilitas, dan seleksinya dilakukan secara online.
Peserta tidak hanya dibekali ilmu, tetapi juga difasilitasi pembiayaan dan dipertemukan langsung dengan pelaku bisnis profesional melalui skema bisnis matching, bahkan hingga pendampingan pengurusan hak paten. Tahun ini ada tujuh konsentrasi dengan kapasitas 50 peserta per kelas.
“Berbicara soal angka pengangguran di Kota Bandung saat ini tercatat lebih dari 100.000 orang, dengan lebih dari setengahnya adalah usia muda yang menganggur. Maka dari itu program Cempor direncanakan untuk dikembangkan menjadi program kewilayahan agar dampaknya lebih luas dan merata,” tegas Sigit.
Selain Cempor, Dispora juga akan mengaktifkan kembali Youthspace sebagai ruang kolaborasi dan diskusi ide kreatif pemuda yang diwarisi dari era kepemimpinan Wali Kota Oded M. Danial.
Gerakan GASPOL dan Perhatian pada Atlet
Seluruh program ini dinaungi oleh gerakan besar bernama Gerakan Aktif Sportif Pemuda dan Olahraga (GASPOL) yang menjadi identitas Dispora dalam mendorong Bandung bergerak, berkreasi, dan berdaya.
Tak lupa, Sigit juga menambahkan bahwa Dispora juga menaruh perhatian pada para atlet berprestasi yang kerap mengharumkan nama bangsa di pentas internasional. Selain memfasilitasi kebutuhan atlet, Dispora juga melibatkan orang tua dalam menjaga gizi dan pola hidup.
Dispora juga mengingatkan pentingnya Undang-Undang Keolahragaan DBON yang memberikan perlindungan nyata bagi atlet pasca-pensiun, sekaligus membuka pintu bagi mereka untuk berkarier sebagai pelatih atau pelaku industri olahraga.
“Olahraga bukan hanya soal sehat. Ketika ia menjadi lifestyle dan menggerakkan pariwisata, dampaknya meluas sampai ke bidang ekonomi dan sosial.” Pungkas Sigit.







