Pada hari Rabu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa negaranya telah bergabung dengan inisiatif “Dewan Perdamaian” yang dicanangkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pengumuman ini disampaikan saat Netanyahu sedang melakukan kunjungan ke Washington D.C. untuk bertemu dengan Trump dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Dokumen yang dirilis sebelumnya menunjukkan bahwa Netanyahu memegang dokumen berisi tanda tangannya sebagai bukti aksesi Israel ke dalam dewan tersebut. Dalam pertemuan tersebut, Netanyahu juga membahas isu Iran dengan Trump. Selain itu, ia menyampaikan komitmennya terhadap rencana perdamaian yang diusung oleh pemerintahan Trump.
Rencana PBB tentang Pasukan Stabilisasi di Gaza
Resolusi Dewan Keamanan PBB yang diadopsi pada pertengahan November memberi wewenang kepada dewan dan negara-negara anggota untuk membentuk pasukan stabilisasi internasional di wilayah Gaza. Pembentukan pasukan ini dilakukan dalam konteks gencatan senjata yang rapuh, yang dimulai pada Oktober 2023, berdasarkan rencana Trump yang disetujui oleh Israel dan kelompok militan Palestina Hamas.
Menurut informasi yang beredar, Indonesia akan menjadi salah satu negara pertama yang mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ke Gaza. Dalam rencana Trump, dewan tersebut akan bertugas mengawasi pemerintahan sementara di Gaza. Trump juga menyatakan bahwa dewan tersebut akan diperluas untuk menangani konflik global, dengan dirinya sebagai ketua.
Pertemuan pertama dewan dijadwalkan berlangsung pada 19 Februari di Washington. Beberapa negara yang telah bergabung antara lain Indonesia, Arab Saudi, Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Kritik terhadap Struktur Kolonial
Banyak pakar hak asasi manusia mengkritik tindakan Trump yang mengawasi dewan untuk mengelola urusan wilayah asing, karena dinilai mirip dengan struktur kolonial. Kehadiran Israel dalam dewan tersebut diperkirakan akan memicu kritik lebih lanjut, mengingat dewan tidak menyertakan perwakilan dari Palestina.
Beberapa negara merespons undangan Trump secara hati-hati. Banyak ahli khawatir bahwa dewan ini bisa melemahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Meskipun beberapa sekutu Washington di Timur Tengah telah bergabung, banyak negara Barat tradisional tetap menjauh dari inisiatif ini.
Gencatan Senjata yang Dilanggar
Gencatan senjata di Gaza telah sering dilanggar. Menurut perhitungan resmi Palestina dan Israel, setidaknya 580 warga Palestina dan empat tentara Israel tewas sejak gencatan senjata dimulai pada Oktober. Tahap selanjutnya dari rencana Trump mencakup penyelesaian masalah kompleks seperti perlucutan senjata Hamas, yang selama ini ditolak oleh kelompok tersebut, serta penarikan Israel lebih lanjut dari Gaza dan pengerahan pasukan penjaga perdamaian internasional.
Serangan Israel terhadap Gaza telah menewaskan lebih dari 72.000 orang, menurut kementerian kesehatan Gaza. Situasi ini memicu krisis kelaparan dan pengungsian di dalam negeri. Beberapa pakar hak asasi manusia, akademisi, dan penyelidikan PBB menyebut tindakan Israel sebagai genosida. Namun, Israel mengklaim tindakannya sebagai pembelaan diri setelah milisi Hamas menyerang dan membunuh 1.200 orang serta menyandera lebih dari 250 orang dalam serangan akhir tahun 2023.







