Diplomasi ekonomi yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto telah memberikan dampak nyata bagi sektor pertanian nasional. Melalui kesepakatan dagang resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS), sebanyak 173 pos tarif (HS Code) yang mencakup 53 kelompok komoditas pertanian Indonesia dan turunannya kini resmi dibebaskan dari bea masuk menjadi 0 persen di pasar AS.
Langkah strategis ini tidak hanya membuka akses lebih luas bagi produk pertanian nasional untuk menembus pasar global, tetapi juga memperkuat daya saing komoditas unggulan Indonesia di tengah persaingan perdagangan internasional. Perjanjian dalam kerangka Agreements on Reciprocal Trade (ART) yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo dan Presiden AS Donald Trump menjadi bagian dari penguatan kemitraan ekonomi kedua negara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa dalam perjanjian bertajuk Toward a New Golden Age for the US–Indonesia Alliance, terdapat 1.819 pos tarif produk Indonesia, baik sektor pertanian maupun industri, yang dibebaskan dari bea masuk ke pasar AS. Ia menegaskan bahwa dalam ART ini ada 1.819 pos tarif produk Indonesia baik itu pertanian maupun industri, antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, komponen pesawat terbang, yang tarifnya 0 persen.
Dari sektor pertanian, komoditas yang memperoleh fasilitas tarif 0 persen meliputi buah tropis seperti pisang, nanas, mangga, durian, dan pepaya; kopi dengan enam pos tarif; teh hijau dan teh hitam; serta aneka rempah strategis seperti lada, pala, cengkeh, kayu manis, kapulaga, jahe, dan kunyit. Selain itu, kakao dan turunannya, minyak sawit, palm kernel oil, serta buah dan inti kelapa sawit juga masuk daftar bebas tarif. Produk olahan buah, tepung dan pati berbasis singkong dan sagu, hingga pupuk mineral berbasis kalium memperoleh fasilitas yang sama.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil negosiasi strategis yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo dalam memperjuangkan kepentingan nasional. Ia menyampaikan bahwa pembebasan tarif pada puluhan komoditas pertanian ini benar-benar hasil negosiasi yang berpihak pada petani. Menurutnya, kepemimpinan yang tegas dan diplomasi ekonomi yang kuat dari Presiden Prabowo telah membuka jalan bagi produk pertanian Indonesia untuk masuk pasar global dengan akses yang lebih adil dan kompetitif.
Menurut Mentan Amran, keberhasilan membuka akses tarif nol persen ke pasar AS yang bernilai sangat besar akan meningkatkan daya saing komoditas pertanian Indonesia di kancah global secara signifikan. Dengan tarif nol persen, produk Indonesia punya ruang bersaing lebih besar. Dari sisi harga, produk kita menjadi lebih kompetitif. Ini peluang bagus untuk meningkatkan ekspor dan membuka pasar yang lebih luas bagi petani dan pelaku usaha.
Mentan Amran menambahkan bahwa Kementerian Pertanian akan memastikan peningkatan kualitas, pemenuhan standar, dan kesinambungan pasokan agar peluang ekspor ini dapat dimanfaatkan secara maksimal. Ia menegaskan bahwa kesempatan sudah ada di depan mata, tinggal kita pastikan produksinya cukup dan mutunya terjaga, supaya petani bisa benar-benar merasakan manfaatnya.
Sebelumnya, dalam acara Business Summit di US Chamber of Commerce, Washington DC, Indonesia dan AS juga menandatangani sejumlah nota kesepahaman (MoU) yang memperkuat implementasi kesepakatan dagang resiprokal tersebut. Dengan dibebaskannya 173 pos tarif sektor pertanian menjadi 0 persen, pemerintah optimistis ekspor komoditas unggulan nasional akan meningkat seiring meningkatnya daya saing harga produk Indonesia di pasar AS.







