Pemerintah Swedia Minta Warganya Tinggalkan Iran
Pemerintah Swedia telah mengeluarkan peringatan keras kepada warganya untuk segera meninggalkan Iran. Hal ini dilakukan karena situasi di negara tersebut sedang memanas akibat ancaman serangan dari Amerika Serikat (AS). Selain itu, pihak berwenang juga memperingatkan warga Swedia agar tidak melakukan perjalanan ke negara-negara di kawasan Timur Tengah yang saat ini dinilai tidak aman.
Menteri Luar Negeri Swedia, Maria Malmer Stenergard, menyampaikan peringatan tersebut melalui laman media sosial X pada Jumat (20/2/2026). Ia menekankan bahwa situasi di Iran dan kawasan tersebut sangat tidak pasti, sehingga penting bagi warga Swedia untuk segera meninggalkan negara tersebut jika masih berada di sana.
Swedia Tidak Akan Menyelenggarakan Evakuasi Warganya
Stenergard menjelaskan bahwa warga Swedia yang berada di Iran dapat segera memesan tiket pesawat untuk meninggalkan negara tersebut. Mereka juga bisa mencari tempat aman di negara tetangga lewat wilayah perbatasan. Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah Swedia tidak akan membantu evakuasi warganya dari Iran.
“Tanggung jawab pribadi yang signifikan terletak pada individu-individu yang memilih untuk tetap tinggal di Iran. Kementerian Luar Negeri tidak akan dapat membantu evakuasi dari Iran,” tambah Stenergard dalam pernyataannya.
Ancaman Serangan Militer AS ke Iran
Situasi di Iran memang sedang tidak stabil. Presiden AS, Donald Trump, memberikan waktu 10 hari kepada Iran untuk menyepakati perjanjian nuklir dengan AS. Jika tidak, ia akan melakukan serangan militer terbatas ke negara tersebut.
Dalam pertemuan Dewan Perdamaian Gaza yang digelar di Washington DC, Trump menegaskan bahwa kesepakatan yang berarti dengan Iran sangat sulit dicapai. Ia menyatakan bahwa jika tidak ada kesepakatan, maka hal-hal buruk akan terjadi.
Pertemuan Nuklir antara AS dan Iran Berakhir Tanpa Kesepakatan
Perwakilan AS dan Iran telah bertemu di Jenewa, Swiss, pada Senin (16/2/2026), untuk membahas masalah nuklir. Dalam pertemuan tersebut, AS mendesak Iran untuk membatasi program nuklirnya. Namun, pertemuan tersebut berakhir tanpa kesepakatan.
Meski begitu, pemerintah Iran mengklaim bahwa diskusi berjalan lancar dan ada progres signifikan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa kemajuan yang baik telah dicapai dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya. Ia menambahkan bahwa meskipun proses negosiasi tidak mudah, jalannya sudah dimulai.









