Prabowo Subianto Dianggap Mampu Jadi Mediator Konflik Iran dan Amerika Serikat
Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menyatakan keyakinan penuh bahwa Presiden Prabowo Subianto memiliki kapasitas untuk menjadi mediator dalam konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Ia menilai bahwa kemampuan diplomatik Prabowo telah terbukti melalui berbagai kunjungan luar negeri yang dilakoninya bersama pemimpin negara-negara besar.
Bahlil mengungkapkan bahwa dirinya sendiri telah melihat langsung keahlian Prabowo dalam menjalin komunikasi politik tingkat tinggi dengan para pemimpin dunia. Dalam beberapa lawatan yang diikutinya, Prabowo memperlihatkan keterampilan diplomasi yang mumpuni serta kemampuan membangun hubungan emosional dengan sejumlah tokoh internasional.
Keraguan Publik Dinilai Sebagai Bagian dari Demokrasi
Meski ada kalangan yang meragukan kemampuan Indonesia dalam memainkan peran sebagai penengah, Bahlil menilai bahwa hal tersebut adalah bagian dari dinamika demokrasi. Menurutnya, setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, termasuk meragukan atau mengkritik kebijakan pemerintah.
Ia menekankan bahwa Partai Golkar tetap yakin terhadap kemampuan Presiden Prabowo dalam menjalankan tugas diplomatik. “Bagi kami, Partai Golkar, sangat memahami, mengerti, dan percaya kepada kemampuan Bapak Presiden Prabowo,” ujar Bahlil.
Pengalaman Diplomasi Prabowo di Mata Bahlil
Bahlil mengungkapkan bahwa ia baru saja mendampingi Presiden Prabowo dalam sejumlah kunjungan luar negeri yang mempertemukan kepala negara Indonesia dengan berbagai pemimpin dunia. Dalam rangkaian lawatan tersebut, Prabowo mengunjungi beberapa negara penting seperti Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Yordania, serta Uni Emirat Arab.
Dari pengalaman itu, Bahlil mengaku melihat secara langsung kedekatan hubungan emosional antara Prabowo dengan sejumlah pemimpin negara tersebut. Interaksi yang terjalin menunjukkan bahwa Presiden Indonesia memiliki jaringan diplomasi yang luas serta kemampuan membangun komunikasi politik di tingkat global.
Rencana Lawatan ke Teheran Bersama Pakistan
Sementara itu, Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Jimly Asshiddiqie, mengungkapkan rencana Presiden Prabowo untuk melakukan kunjungan ke Teheran bersama pemimpin Pakistan. Ia menyampaikan bahwa rencana ini merupakan bagian dari upaya meredakan ketegangan yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah.
Jimly mengaku mendengar langsung rencana tersebut dari Presiden Prabowo saat menghadiri pertemuan bersama para ulama, pimpinan pondok pesantren, serta tokoh organisasi masyarakat Islam di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Kamis (5/3/2026). Ia juga mengungkapkan bahwa lawatan tersebut akan dilakukan bersama-sama oleh kedua pemimpin negara.
Telepon Mendadak dari Pakistan
Jimly menuturkan bahwa rencana kunjungan itu bermula dari komunikasi langsung antara pemimpin Pakistan dan Presiden Prabowo. Bahkan, menurutnya, panggilan telepon tersebut terjadi hanya beberapa jam sebelum pertemuan dengan para tokoh agama berlangsung. “Pakistan baru menelepon Presiden Prabowo beberapa jam sebelum pertemuan ini ya kan. Nah dia mau sama-sama berdua. Oh itu bagus sekali,” tutur dia.
Mediasi Meski Peluang Kecil
Meski menyadari peluang keberhasilan upaya mediasi tersebut tidak mudah, Jimly menilai langkah itu tetap patut dicoba sebagai bentuk kontribusi Indonesia dalam menjaga stabilitas global. Baginya, keterlibatan Indonesia dalam diplomasi perdamaian menunjukkan peran negara ini sebagai pemain global yang aktif dalam meredakan konflik internasional.
“Walaupun mungkin peluangnya kecil tapi dicoba. Intinya Indonesia mengambil global player peran sebagai global player. Itu kita dukung. Jangan dianggap negatif dulu ya, bukannya mendamaikan orang yang baru dibunuh, bukan begitu. Tapi untuk menurunkan eskalasi dan mencegah apa serangan lagi dari Israel,” kata Jimly.







