Kinerja Grup Salim pada Tahun 2025
Pada tahun 2025, kinerja emiten crude palm oil (CPO) Grup Salim menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Dua perusahaan utama dalam grup ini, yaitu PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), mencatatkan peningkatan signifikan dalam berbagai indikator keuangan.
Penjualan LSIP Meningkat 21%
PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) membukukan penjualan sebesar Rp5,51 triliun sepanjang tahun 2025, naik 21% year on year (yoy) dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp4,56 triliun. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh kenaikan harga jual rata-rata dan volume penjualan produk sawit. Laba bersih LSIP juga meningkat 28% YoY menjadi Rp1,89 triliun per Desember 2025.
Penjualan SIMP Naik 32%
PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) mencatat penjualan sebesar Rp21,06 triliun sepanjang tahun 2025, naik 32% YoY dibandingkan tahun lalu yang sebesar Rp15,96 triliun. Penjualan ini didorong oleh segmen minyak dan lemak nabati sebesar Rp14,99 triliun dan segmen perkebunan Rp14,45 triliun. Laba bersih SIMP meningkat 33% YoY menjadi Rp2,07 triliun, sementara laba inti (core profit) tumbuh 26% YoY menjadi Rp2,91 triliun.
Produksi TBS LSIP dan SIMP Turun
Meskipun produksi tandan buah segar (TBS) LSIP dan SIMP mengalami penurunan, total produksi CPO LSIP naik 2% YoY menjadi 292 ribu ton seiring dengan kenaikan TBS dari eksternal. Sementara itu, total produksi CPO SIMP naik 4% YoY menjadi 733 ribu ton seiring dengan kenaikan TBS dari eksternal.
Analisis dari Para Ahli
Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyatakan bahwa kenaikan laba bersih di atas ekspektasi dan margin laba bersih yang meningkat menjadi 34,2% menunjukkan efisiensi yang baik. Penjualan CPO yang naik 12,4% YoY didorong oleh kenaikan volume dan harga jual rata-rata (ASP). Penjualan produk Palm Kernel melonjak 84,5% YoY, dengan harga jual naik lebih dari 60%.
Research Associate Panin Sekuritas, Luthfi, menjelaskan bahwa katalis positif untuk kinerja LSIP pada 2025 terutama didorong oleh kenaikan ASP CPO menjadi Rp14.100 per kilogram, atau naik 8% YoY. Produksi CPO LSIP juga meningkat menjadi 292.000 MT, naik 1,7% YoY.
Perbaikan Kinerja SIMP
Perbaikan kinerja SIMP ditopang oleh kenaikan ASP CPO menjadi Rp14.101/kg, naik 10,1% YoY serta lonjakan harga palm kernel menjadi Rp11.916/kg yang naik 52,0% YoY. Produksi CPO dan palm kernel masing-masing meningkat menjadi 724.000 MT dan 170.000 MT, naik 4,93% dan 6,9% YoY.
Outlook untuk Tahun 2026
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, melihat bahwa kinerja LSIP dan SIMP pada 2025 tetap tumbuh meski produksi TBS inti turun, karena didorong oleh kenaikan harga jual rata rata CPO dan produk turunannya serta peningkatan volume CPO dari pembelian TBS eksternal. Struktur permodalan kedua perusahaan juga masih sehat.
Namun, tren penurunan produksi TBS inti LSIP diperkirakan akan berlanjut pada 2026 akibat profil umur kebun yang relatif lebih tua. Yield produksi LSIP pada tahun 2025 tercatat sebesar 12,5 ton per hektar, turun dibandingkan tahun 2024. Potensi pelemahan harga CPO juga dapat menekan kinerja LSIP secara tahunan.
Sementara itu, kinerja SIMP pada 2026 diperkirakan relatif moderat. Yield produksi FFB inti SIMP sebesar 11,4 ton/ha tidak berubah dari tahun 2024. Namun, yield SIMP menunjukkan stabilitas dibandingkan LSIP yang cenderung menurun.
Rekomendasi Investasi
Herditya merekomendasikan beli untuk LSIP dengan target harga Rp1.500 per saham. Azis merekomendasikan beli LSIP dengan target harga Rp1.765 per saham dan trading buy untuk SIMP dengan target Rp680 per saham. Luthfi merekomendasikan hold untuk saham LSIP dengan target harga Rp1.335 per saham.
Sentimen positif antara lain permintaan biodiesel domestik, neraca keuangan yang kuat, dan potensi perbaikan produktivitas. Sedangkan sentimen negatif meliputi volatilitas harga komoditas, faktor cuaca, serta kebijakan ekspor.







