Tradisi Penukaran Uang Baru di Kota Malang Jelang Lebaran
Di tengah suasana menjelang Hari Raya Idulfitri, Kota Malang mengalami geliat penukaran uang baru. Di sepanjang Jalan Kertanegara, terlihat beberapa pedagang yang menjajakan uang baru dengan berbagai pecahan mulai dari Rp 2.000 hingga Rp 20.000. Uang tersebut ditampilkan di papan ukuran sekitar 200 cm x 100 cm, menarik perhatian pengendara yang melintas.
Penjelasan dari Pedagang
Salah satu pedagang, M Effendy, menjelaskan bahwa uang baru yang ia jual berasal dari seorang tengkulak di Surabaya. Ia menyebutkan bahwa tidak ada tengkulak di Kota Malang sendiri, sehingga ia memilih untuk mengambil pasokan dari Surabaya atau Sidoarjo. Effendy mengambil uang senilai Rp 13 juta, yang ia beli dengan harga Rp 13,5 juta dari tengkulak tersebut.
Uang yang diterimanya sudah dalam kemasan yang rapi. Untuk pecahan Rp 10 ribu, kemasannya mencapai Rp 1 juta. Sedangkan untuk pecahan Rp 5 ribu, kemasannya sebesar Rp 500.000 dan untuk pecahan Rp 2 ribu, kemasannya mencapai Rp 2 juta. Effendy menjual kembali uang tersebut dengan harga yang sedikit lebih tinggi, yaitu Rp 575.000 untuk kemasan Rp 500.000 dan Rp 1.100.000 untuk kemasan Rp 1 juta.
Effendy juga menegaskan bahwa uang yang ia jual pasti asli. Sebelum menerima uang, ia selalu memeriksa keasliannya. Ia telah berlangganan dengan tengkulak di Surabaya selama bertahun-tahun, sehingga ia merasa yakin bahwa uang yang diberikan adalah asli.
Pengalaman dan Tips dari Tutik
Selain Effendy, Tutik juga merupakan salah satu pedagang uang baru di wilayah tersebut. Ia mengaku mendapatkan pasokan uang dari Surabaya dan menjualnya setiap tahun, terutama menjelang Lebaran. Bahkan, ia telah menjalani tradisi ini sejak sebelum anaknya lahir.
Tutik memiliki pengalaman dalam membedakan uang asli dan palsu. Menurutnya, uang palsu biasanya memiliki tekstur yang lebih halus dibandingkan uang asli. Selain itu, warna uang palsu cenderung pudar, sementara uang asli memiliki warna yang cerah dan gambar yang jelas.
Meski sering mendengar kabar tentang peredaran uang palsu, Tutik belum pernah mengalaminya secara langsung. Ia menekankan pentingnya menjaga kepercayaan konsumen dengan memberikan uang yang asli. Ia juga mengatakan bahwa ia tidak pernah mendapatkan edukasi atau sosialisasi dari bank atau pihak berwenang, tetapi pengalamannya selama bertahun-tahun membuatnya mampu membedakan uang asli dan palsu.
Keinginan dan Tantangan
Sebagai pedagang uang baru, Tutik berharap dapat berjualan dalam kondisi yang aman. Meskipun saat ini belum ada gangguan yang ia alami, ia tetap waspada terhadap kemungkinan penertiban oleh petugas Satpol PP.






